<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294</id><updated>2011-07-30T14:21:08.916-07:00</updated><title type='text'>Kuliah_ku by: Arif Mustofa</title><subtitle type='html'>Berisi tentang seluruh kegiatan kuliahku dan seluruh tugas yang aku kerjakan selama dibangku perkuliahan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-3926056412539151669</id><published>2010-07-09T05:43:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T05:45:57.612-07:00</updated><title type='text'>Analisa Film Slumdog Milionare</title><content type='html'>WACANA KEKERASAN TERHADAP KAUM LEMAH DALAM FILM INDIA&lt;br /&gt;(Wacana Kekerasan terhadap kaum lemah dalam Film Slumdog milionare)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;Penelitian ini akan difokuskan pada usaha untuk mengungkapkan wacana kekerasan terhadap kaum lemah yang terdapat dalam film Slumdog Milionare. Konsep kekeasan dalam film ini sangat menarik karena memunculkan wacana yang bertentangan mengenai konsepsi keluarga bahagia yang ada dalam kerangka tindakan kekerasan  terhadap anak. Dalam film ini mengungkapkan wacana bahwa pada dasarnya kekerasan terhadap anak adalah hal yang wajar, namun pada satu titik (yaitu kemunculan pihak ketiga), wacana tersebut kemudian ditolak. Setelah kemunculan pihak ketiga, tindakan kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak dipandang sebagai satu hal yang salah. &lt;br /&gt;Wacana dapat dipahami sebagai bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan suatu praktik sosial, ditinjau dari sudut pandang tertentu. Sehingga dapat dipahami bahwa wacana adalah proses komunikasi, yang menggunakan simbol-simbol, yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa, di dalam sistem kemasyarakatan yang luas, melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, tidak bersifat netral atau steril (Purba, 2007). &lt;br /&gt;Penggunaan wacana ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, konteks peristiwa yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatarbelakangi keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, kepentingan-kepentingan, dan lain-lain. Dimulai dari adanya kepentingan-kepentingan tersebut, kemudian proses wacana (terutama wacana media) memunculkan teks media yang mengandung ketidak netralan. Media dipandang tidak netral dalam menggambarkan konstruksi realitas social (Purba, 2007).&lt;br /&gt;Media mengikutsertakan perspektif dan cara pandang mereka dalam menafsirkan realitas social (Purba, 2007). Media memilih untuk menentukan aspek-aspek yang ditonjolkan maupun dihilangkan, menentukan struktur berita yang sesuai dengan kehendak mereka, dari sisi mana peristiwa yang ada disoroti, bagian mana dari peristiwa yang didahulukan atau dilupakan serta bagian mana dari peristiwa yang ditonjolkan atau dihilangkan, dll. Media dipandang telah kehilangan fungsinya sebagai tempat netral dalam pembuatan teks mengenai masyarakatnya (Purba, 2007).&lt;br /&gt;Hilangnya tempat netral dalam pembuatan teks salah satunya dapat dilihat dalam pengungkapan wacana Kekerasan terhadap Anak dalam film India. &lt;br /&gt;Wacana yang ditampilkan dalam media lebih mengunggulkan relasi antara orang tua dan anak yang lebih bersifat perlindungan. Hal ini bermula dari pandangan awal bahwa orang tua memiliki posisi yang lebih tinggi untuk dapat melakukan tindakan apapun terhadap anaknya.&lt;br /&gt;Barker (1987) menyebutkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah&lt;br /&gt;“the recurrent infliction of physical or emotional injury on a dependent minor, through intentional beatings, uncontrolled corporal punishment, persistent redicule and degradation, or sexual abuse, usually commited by parents in change of the child care” (dikutip dari Huraerah, 2006, p. 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang lebih tua memiliki posisi yang lebih tinggi untuk dapat melakukan hal apapun terhadap anak. Termasuk juga tindakan kekerasan oleh orang yang lebih tua terhadap anak. &lt;br /&gt;Masyarakat miskin yang termasuk kaum yang lemah dalam sebuah lingkungan masyarakat juga dipandang cukup lemah. Nuraini Juliastuti (2009), menyebutkan bahwa kaum lemah memiliki daya tawar yang lemah dalam masyarakat, namun sekaligus juga memiliki asset berharga yang tidak boleh dipandang remeh. Masyarakat miskin dalam sebuah lingkungan masyarakat sosial dipandang sebagai Kaum yang lemah. Dalam hal ini, orang kaya dan pintar adalah kaum yang kuat dan mampu melaksanakan apa saja yang mereka inginkan, termasuk keinginan melakukan kekerasan terhadap masayarakat miskin. &lt;br /&gt;Akhirnya dalam pemahaman ini, masyarakat modern sekarang ini memiliki pola untuk menempatkan masyarakat miskin sepenuhnya dibawah kontrol orang yang lebih kaya (Saya Shiraishi, 1995). Orang kaya menjadi kuatir bila masyarakat miskin sudah bisa menyaingi mereka diberbagai bidang, sama halnya dengan film ini saat jamal yang mampu menyaingi professor sekalipun yang hanya bisa melewati setengah permainan. Dan disaat anjing kumuh bisa mendapatkan 10ribu rupe kaum yang kuat berusaha untuk menjatuhkan jamal agar tidak bisa menyelesaikan pertandingan. &lt;br /&gt;Film Slumdog Millionaire merupakan film peraih 8 piala Oscar pada tahun 2009. Sebuah Film karya Danny Boyle yang mengangkat kehidupan masyarakat Mumbai, India. Slumdog Millionaire bercerita tentang Jamal Malik, seorang anak yatim piatu yang berasal dari daerah kumuh di Mumbai. Jamal mengikuti sebuah acara “ Who Wants to be a Millionaire?” yang sangat ternama. Sesungguhnya Jamal hanya ingin bertemu dengan Latika – gadis yang Ia cintai – karena Latika selalu menonton acara tersebut. Permasalahan timbul ketika si pembawa acara menaruh curiga pada Jamal, Ia menggunakan jasa orang lain untuk memberikan jawaban yang benar padanya. Karena Jamal selalu dapat menjawab dengan tepat segala pertanyaan yang diajukan. Kecurigaan si pembawa acara semakin meningkat ketika Jamal melampaui batas aman ketiga yaitu 16 Rupee. Pada batas aman ketiga ini, bahkan Profesor sekalipun belum pernah ada yang melampauinya.&lt;br /&gt;Film ini disuguhkan begitu menarik dengan banyak menggunakan flashback untuk mengungkap informasi. Pada saat Jamal dihadapkan pada pertanyaan, Ia akan berusaha mencari jawabannya dalam masa lalunya dengan cara mengingat peristiwa demi peristiwa yang ia lalui selama ini. Dan Jamal selalu dapat menjawab dengan tepat, namun si pembawa acara meremehkan kemampuan Jamal. Pada pertanyaan terakhir, kecurigaan si pembawa acara makin memuncak dan ternyata waktu yang di sediakan telah habis, maka acara dilanjutkan esok hari. Karena si pembawa acara amat mencurigai Jamal, Ia menuduh Jamal bertindak curang dan Ia menyuruh kepolisian Mumbai untuk mengecek Jamal. Setelah mengalami penyiksaan dan interogasi yang cukup ketat, Polisi tidak dapat membuktikan bahwa Jamal bertindak curang. Akhirnya Jamal kembali diikutkan ke dalam acara “ Who Wants To Be a Millionaire “. &lt;br /&gt;Cerita tidak begitu saja berakhir, Jamal ternyata tidak dapat menjawab pertanyaan tentang tokoh the three musketeer. Pilihan bantuan yang tersisa adalah phone a friend, Jamal mengambil bantuan itu untuk mendapatkan jawaban. Salim merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki Jamal dan satu-satunya orang yang Ia hubungi. Pada saat yang bersamaan,ternyata telepon genggam Salim diberikan kepada Latika yang tersiksa menjadi istri seorang Boss dimana Salim bekerja padanya. Karena Salim melihat Latika mempunyai keinginan terpendam bertemu Jamal, maka Salim pun membantunya untuk pergi dari tempat Sang Boss. Tepat pada saat pihak kuis menghubungi telepon genggam Salim, Latika pun mengangkat tanpa sebuah jawaban karena Ia tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan tentang tokoh the three musketeer itu. Dengan kepercayaan diri dan keteguhan hati, Jamal menjawab pertanyaan tersebut dengan resiko kehilangan uang yang sudah ia capai. Film memang banyak sekali terdapat “ kebetulan “, hal itu terjadi pula dalam Slumdog Millionaire. Jawaban Jamal atas pertanyaan tentang tokoh yang ketiga dalam cerita the three musketeer ternyata benar dan Jamal adalah orang pertama yang berhasil meraih hadiah 20 juta Rupee. Tujuan awal Jamal untuk bertemu dan Latika pun dapat terlaksana ketika Jamal kembali menunggu Latika di peron sesuai janji Jamal yang akan selalu menunggu Latika di peron. Film ini pun berakhir happy ending.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat film Slumdog Millionaire ini banyak mengangakat permasalahan yang sering terlupakan muncul kepermukaan. Dalam film ini, si pembuat film menyatakan sebuah quotation yaitu Destiny is written. Quotation itu akan membantu dalam penjabaran mengenai kehidupan seorang masyarakat miskin yang tersirat dalam kehidupan Jamal Malik. Film ini membahas tentang dua hal tersebut, kaum borjuis yang dapat seenaknya bertindak terhadap kaum bawah dengan topeng materi dan perjuangan kaum bawah yang “ menuntut” persamaan hak. Pembahasan kali ini akan di mulai dari awal film Slumdog Millionaire agar jelas apa yang disampaikan oleh si pembuat film. Setting film ini mengambil setting Mumbai tahun 2006 dan acara who wants to be a millionaire dipilih karena acara ini merupakan acara yang selalu ditonton oleh warga India pada saat itu atau dalam kata lain rating who wants to be a millionaire sedang naik. &lt;br /&gt;Hal ini dipilih karena pada tahun itu keadaan ekonomi India mengalami pasang surut sehingga memberi dampak psikologis bagi warga India untuk mencari jalan singkat mendapatkan uang demi kelangsungan hidup. Sehingga acara who wants to be a millionaire mendapat perhatian lebih oleh masyarakat India karena cara ini menawarkan uang dengan jumlah yang sangat besar tanpa harus bersusah payah menggunakan kekuatan fisik.&lt;br /&gt;Berikutnya adalah tokoh Amitabh Bachan yang merupakan tokoh kenamaan di India, Ia telah memerankan banyak film India. Amitabh Bachan bisa dikatakan sebagai tokoh pujaan masyarakat India kebanyakan. Mereka memiliki anggapan bahwa ketenaran dapat dengan mudah mendatangkan kekayaan dan kemakmuran. Saat Jamal mendengar berita bahwa Amitabh Bachan akan datang ke daerah kumuh mereka, Ia sedang berada di sebuah toilet yang terbuat dari bilik kayu di tepian sungai. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada pihak-pihak yang tidak peduli akan kebersihan dan kesehatan. Kehidupan yang tercermin pada saat Jamal dan Salim yang beragama Islam harus kabur dari serangan orang-orang yang beragama hindu. Perang agama seperti itu juga pernah di alami oleh banyak kaum lemah atau kaum minoritas yang ada di India harus berpindah keyakinan. Kaum lemah atau minoritas  mengalami sendiri bagaimana para penganut agama saling menindas satu sama lain sehingga mereka dan keluarga harus pindah agama demi menghindari penindasan. &lt;br /&gt;Namun dalam film ini agar tidak mempengaruhi iman seseorang maka pada saat kaum agama Islam dikejar oleh kaum agama Hindu, Jamal dan Salim berlari untuk menghindari kejaran para orang-orang yang berbuat anarki. Sebuah simbolisasi yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki pilihan dalam menentukan jalan hidupnya adalah pada saat Jamal dan Salim berada di sebuah persimpangan gang sempit, tiba-tiba muncul sosok Dewa Rama yang berada di gang buntu pada sebelah kiri. Pada adegan itu seolah-olah Jamal dan Salim harus memilih agama apa yang akan ia pilih, jalan lurus ke depan adalah agama Islam yang Ia percayai dengan resiko banyak kaum hindu yang mengejar ataukah agama Hindu yang bisa menyesatkan mereka – disimbolkan dengan gang buntu. Kisah Jamal dan Salim yang kini harus kehilangan kedua orang tuanya akibat peperangan agama itu membuat mereka harus memilih pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka. Hal ini pun terdapat dalam kehidupan kaum minoritas masyarakat yang ada di India. &lt;br /&gt;Dalam urusan percintaan, dikisahkan dalam film ini Jamal sangat setia menanti Latika yang menjadi kembang di sebuah hiburan malam. Dari sekelumit pembahasan di atas terlihat banyak kemiripan anatara kehidupan masyarakat miskin India yang digambarkan dengan kehidupan Jamal di film Slumdog Millionaire. &lt;br /&gt;Bisa diperkirakan bahwa akan banyak terdapat point-point kehidupan masyarakat miskin yang merupakan kaum lemah di India yang tercermin dalam film ini, berikut pembahasannya lebih lanjut. Jamal merupakah salah satu tokoh yang mendukung kaum buruh, yang dalam film ini digambarkan dengan adegan dimana Jamal yang mewakili kaum buruh dapat menjatuhkan kaum borjuis yang diwakili oleh polisi yang menguji pengetahuan Jamal. Percakapan yang mengisyaratkan bahwa kaum buruh pun juga mempunyai pengetahuan lebih yaitu ketika Jamal menanyakan berapa harga roti saat ini, polisi mengatakan bahwa harganya 10 rupee. Jamal mengatakan bahwa harga Roti naik setelah Bivali – suatu perayaan kebudayaan India. Jelas tergambar bahwa kaum borjuis hanya mengetahui hal-hal yang terekspos oleh media cetak saja, khusunya Koran. Pada masa itu, Koran sudah menjadi budaya baru kaum Borjuis sehingga mereka tidak perlu susah payah mencari informasi tentang peristiwa apa yang sedang happening.&lt;br /&gt; Hanya dengan sebuah Koran yang mereka baca tiap pagi hari, mereka memperoleh informasi dengan mudah karena mesin cetak telah ditemukan pada masa itu. India merupakan negara dengan jumlah penduduk yang cukup padat dengan angka kelahiran yang tinggi tiap tahunnya sehingga keluarga dari golongan kebawah tidak dapat memberikan pendidikan yang layak serta banyak anak-anak yang terlantar dan mereka harus turun ke jalan untuk membantu kehidupan keluarga. Dan dari situ banyak terdapat orang-orang tak bermoral memanfaatkan anak-anak yang tak berdaya untuk dijadikan gelandangan, pengemis yang berpotensial dengan dalih kasih sayang dan perlindungan. Dengan mental anak-anak kelas bawah yang mudah terlarut dalam bujuk rayuan dengan dalih kasih sayang, mereka seolah-olah menemukan sosok hero dan merasa telah lepas dari tekanan kehidupan sehingga dampaknya terletak pada psikologis mereka yang merasa dapat melakukan sebuah penindasan terhadap kaum lemah. &lt;br /&gt;Dalam film ini di tunjukkan pada tokoh Salim yang berlagak sok kuasa terhadap teman-teman jalanannya yang sama-sama mendapatkan perlindungan dari the fake hero. Marx merupakan seseorang yang berasal dari keluarga yang menganut saint-simonian yaitu menentang akibat buruk dari kapitalisme dan menganjurkan system masyarakat yang bebas penindasan melalui emansipasi kelas proletar. Di film ini digambarkan, Salim yang menjadi kaki tangan Boss gelandangan tidak terima apabila temannya harus kehilangan mata demi mencari uang terlebih akan terjadi pada adik kandungnya yaitu Jamal, maka dari itu Ia bersama Jamal dan Latika yang akan menjadi korban selanjutnya untuk lari dari markas gelandangan itu. Tingkat kriminalitas yang dilakukan oleh anak di bawah umur pun sempat menjadi kasus yang mewabah di India. &lt;br /&gt;Dengan tingkat ekonomi India yang terbilang tidak berada di atas, India lantas tidak membiarkannya saja. India memanfaatkan keeksotisannya berupa Taj Mahal yang terkenal, para turis asing dapat mengisi pundi-pundi perekonomian India. Entah film ini yang diproduksi oleh pihak Hollywood atau memang ini sebuah realitas di India, saat seorang supir yang mengantarkan dua orang turis Amerika menghantam wajah Jamal yang pada saat itu menjadi guide karena tuduhan pencurian berkelompok terhadap asesoris mobil pada saat mereka bersama-sama meninggalkan mobil itu. Sang turis melerai dan memberikan keamanan pada Jamal lalu memberi uang kepada Jamal agar menempuh jalan perdamaian. Hal ini bisa memiliki dua pengertian, yang pertama kaum Amerika adalah kaum yang tidak mau ambil pusing dan uang adalah sebuah jalan akhir. &lt;br /&gt;Yang kedua yaitu Amerika seolah-olah menjadi kaum yang memberikan kenyamanan dan ketentraman bagi bangsa lain. Alasan yang kedua dapat menciptakan image Amerika lebih baik dalam menghadapi perdagangan bebas tahun 2010 nanti. Tak tik pihak Amerika tidak habis sampai disitu, dalam suatu adegan ketika Jamal dan Salim tidur di suatu tempat pembuangan sampah, si Boss gelandangan datang dengan membawa dua minuman soda yang kita ketahui dari kemasannya adalah coca cola.&lt;br /&gt;Coca cola atau minuman bersoda lainnya adalah budaya western khusunya Amerika. Scene itu seakan-akan berbicara “ Amerika dapat membebaskan kalian dari kehausan di tengah panasnya dunia” dengan kata lain, Amerika lagi-lagi dapat memberikan kenyamanan. Setelah masa revolusi Perancis, kaum buruh harus menjadi tulang punggung revolusi akibat dari kaum borjuis mengkhianati kaum buruh. Dalam film ini jelas tergambar pada saat Salim menjadi kaki tangan Boss gelandangan, pada awalnya si Boss berjanji akan menjadi pelindung namun ternyata di balik sikap melindungi itu terdapat rencana yang sangat tak bermoral. Pada saat Salim dan Jamal telah remaja, Jamal ingin mencari keberadaan Latika yang sempat terpisah dengannya. &lt;br /&gt;Ternyata Latika akan dijual keperawanannya oleh Boss gelandangan kepada bos kaya. Saat Salim menembak mati si Boss gelandangan, Salim mendatangi Javed yaitu seseorang yang menyuruh Salim untuk membunuh si Boss gelandangan yang pada awalnya merupakan rekan bisnisnya. Hal ini terjadi pada tahun 1830, ketika pemerintahan monarkis- konstusional memberikan kebebasan pada kaum borjuis. Kaum borjuis merasa lemah sehingga berhadapan dengan bahaya kaum feodal. Akhirnya Kaum borjuis memilih untuk bekerja sama dengan kaum feodal yang tadinya dilawan mati-matian. Akhir dari cerita Slumdog Millionaire adalah Jamal yang berhasil menjawab siapakah tokoh ketiga dari the three musketeer.&lt;br /&gt; Hal ini bukanlah sekedar sebuah materi sebuah film, melainkan sebuah simbolisme suatu kaum yang berperang untuk menegakkan kemenangan. Sebenarnya the three musketeer adalah sebuah kisah tentang perjuangan kaum monarkis yang berperang untuk menegakkan kerajaan Perancis. Pada masa itu ketika revolusi yang didukung oleh kaum buruh tidak memberikan perubahan nasib pada mereka tetapi malah memberikan perubahan bagi kaum borjuis. Maka dari itu, kaum Monarkis tidak tinggal diam karena pada revolusi perancis, keum borjuis menggulingkan kaum monarkis. &lt;br /&gt;Dalam Slumdog Millionaire, Jamal berusaha merebut kemenangan walaupun dalam “penindasan “ si pembawa acara yang telah memberi tuduhan pada dirinya berbuat curang dan si pembawa acara berusaha menggulingkan Jamal dari acara tersebut dengan cara memberi jawaban yang salah pada salah satu pertanyaan yang membuat Jamal bingung. Salah satu kehidupan hura-hura kaum borjuis tergambar dari perkataan Javed, woman and money. &lt;br /&gt;Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan metodologi kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis untuk bisa menganalisa wacana kekerasan terhadap kaum lemah yang ingin dibangun oleh danny boyle (sang sutradara). Tidak dapat dipungkiri bahwa sutradara memiliki peranan yang penting dalam mengkonstruksi sebuah cerita dalam berbagai adegan dalam film tersebut. Wacana kekerasan terhadap kaum lemah disini juga digambarkan bahwa masyarakat india adalah kaum kumuh yang dengan berbagai keburukannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ini digunakan karena muncul pemahaman bahwa bahasa yang digunakan dalam sebuah film tentu tidak dapat dilepaskan dari unsur sejarah dan unsur-unsur institusi pembuat, yang berada di belakang pembuatan sebuah film. Unsure tersebut terlihat pada setingan sutradara yang merupakan masyarakat barat (Amerika), yang banyak menggambarkan masyarakat amerika adalah masyarakat baik hati, penolong dan pemaaf. &lt;br /&gt;Wacana yang ditampilkan dalam sebuah film juga dapat diartikan berdasarkan adanya konteks, sejarah, kekuasaan, hingga ideology yang terdapat dalam sebuah film. Pandangan analisis wacana kritis memandang bahwa film harus ditempatkan sebagai ruang atau forum publik (public forum) yang bebas. Namun dalam kenyataannya, di dalam forum tersebut setiap unsur masyarakat berkompetisi untuk mewacanakan simbol-simbol yang merepresentasikan ideologi mereka masing-masing. &lt;br /&gt;Di dalam kompetisi tersebut, selalu terdapat pertentangan-pertentangan wacana yang ditampilkan. Melalu metode ini diharpakan bisa melakukan analisis lebih mendalam mengenai wacana kekerasan terhadap kaum lemah dalam film slumdog milionare. Film ini memunculkan pertentangan mengenai wacana kekerasan terhadap kaum lemah, yang digambarkan sutradara . Masukan pemikiran dari aliran kritis ini pada dasarnya memipikan sebuah lingkungan bebas tanpa kepentingan-kepentingan untuk semua pihak yang berkepentingan dengan media massa, termasuk di dalam film.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II.RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Permasalahan mengenai kekerasan terhadap kaum lemah dalam film India memang masih dianggap sesuai dengan kenyataan yang ada namun semua itu dikonstruksi oleh sutradaranya dan kekerasan tersebut berada hampir sebagian besar dari film ini. Namun ternyata dunia perfilman India telah sedikit lebih maju dengan berani mengungkapkan realitas social dalam sebuah produksi film, tetapi dalam produksi tersebut tentunya juga patut dipertanyakan mengenai wacana dominan dan wacana yang termarginalkan dalam film tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, rumusan masalah yang akan dipergunakan adalah :&lt;br /&gt;“bagaimanakah wacana kekerasan terhadap kaum lemah dalam film Slumdog Milionare”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui wacana dominan dan wacana yang termarginalkan dalam teks mengenai kekerasan terhadap anak, khususnya dalam film Slumdog Milionare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian ini sebenarnya bermula dari pandangan penulis mengenai kurangnya penelitian mengenai sebuah film. Kajian mengenai kritik film juga seolah tidak begitu berkembang di Indonesia. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, bisa menambah daftar penelitian yang mengkaji masalah film India, Sekaligus juga sebagai bentuk penyadaran terhadap masyarakat mengenai adanya fenomena tentang kekerasan terhadap anak dalam film India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari wacana kekerasan yang terdapat dalam film Slumdog Milionare, harus dipahami bahwa praktek bahasa yang terdapat dalam sebuah film tentu tidak dapat dipisahkan dari factor sejarah dan institusi yang membuatnya. Wacana secara sosial didistribusikan ke tengah masyakat, dan wacana-wacana tersebut membawa beragam ideologi, pada akhirnya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat yang menjadi objek dari proses penyebaran wacana itu. &lt;br /&gt;Kerangka teori mengenai kekerasan dalam film India mencoba menjelaskan  mengenai klasifikasi tindakan kekerasan sekaligus juga menjelaskan mengenai penolakan masyarakat Internasional terutama Indonesia terhadap film yang mengandung unsur kekerasan. Sedangkan tinjauan pustaka mengenai representasi dalam film mengenai kekerasan berusaha untuk memperlihatkan bahwa terdapat kategori dalam penggambaran kekerasan dalam film, yaitu apakah film tersebut menggunakan kekerasan sebagai suatu hal yang dilebih-lebihkan atau justru ditampilkan sebagai hal yang wajar. Hal ini akan berpengaruh pada wacana yang dimunculkan dalam film, yaitu mengenai persetujuan tindakan kekerasan yang ada dalam film tersebut.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk menganalisis, maka teori analisis wacana kritis mencoba menggambarkan bahwa terciptanya suatu teks dalam film pasti merupakan hasil pengaruh lingkungan sekitar. Untuk menganalisis sebuah wacana dalam film, tidak bisa dilepaskan dari analisis text, feature of discourse practice (produksi, distribusi, dan konsumsi teks) serta sociocultural practice. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) dalam Film &lt;br /&gt;Dalam kajian analisis wacana kritis, teks tidak bisa diartikan begitu saja sebagai bagian dari bahasa tertulis. Terdapat konsep pengartian teks secara lebih luas. Teks bisa diartikan sebagai wacana tertulis ataupun wacana lisan. Kehadiran sebuah teks juga tidak bisa dilepaskan dari tekanan yang dimiliki oleh kondisi social di sekitarnya (Fairclough, 1995, p. 4).&lt;br /&gt;Analisis wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu penyataan. Menurut Teun A. van Dijk, Fairclough, dan Wodak, karakteristik penting dari analisis wacana kritis adalah (dikutip dalam Eriyanto, 2001, p. 8):&lt;br /&gt;A.Tindakan&lt;br /&gt;wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Sehingga wacana dianggap sebagai hasil interaksi yang tidak mungkin muncul dari ruang tertutup. Orang menggunakan bahwasa untuk berinteraksi dan berhubungan denganpihak lain. Sehingga wacana harus dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, dan juga dilakukan secara sadar dan terkontrol, bukan sesuatu diluar kendali kesadaran.&lt;br /&gt;B.konteks&lt;br /&gt;analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi.  Bahasa dipahami dalam konteks secara keseluruhan. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa.wacana dibentuk sehingga harus ditafsirkan dalam kondisi dan situasi yang khusus.namun tidak semua konteks dimasukkan dalam analisis. Ada beberapa konteks yang penting karena berpengaruh terhadap produksi wacana, yaitu pertama, partisipan wacana, latar siapa yang memproduksi wacana, missal jenis kelamin, umur, status pendidikan, dll. Kedua seting social tertentu seperti tempat, waktu dan posisi pembicara.&lt;br /&gt;i.historis&lt;br /&gt;bagaimana situasi social politik suasana pada saat itu bisa digunakan sebagai cara untuk mengetahui sebuah produksi bahasa, maupun alasan mengapa bahasa digunakan seperti itu.&lt;br /&gt;ii.kekuasaan&lt;br /&gt;setiap wacana yang muncul tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Hal ini bisa digunakan untuk melihat suatu bentuk pengontrolan baik secara fisik, maupun juga secara mental atau psikis. Hal ini menjelaskan kelompok dominant yang bisa bebas melakukan apapun kepada pihak marjinal.&lt;br /&gt;iii.ideology&lt;br /&gt;teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideology atau pencerminan dari ideology tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis wacana sering dikaitkan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Bahasa tersebut digunakan untuk membongkar maksud-maksud tertentu dan makna-makna tertentu. Bahasa sendiri juga tidak bisa dilepaskan dari konteks tertentu, termasuk juga bisa membahas mengenai aspek kekuasaan ataupun penekanan terhadap suatu pihak tertentu.&lt;br /&gt;“language issues ought to figure in the wider framework of theories and analyses of power” (Fairclough, 1995, p. 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini memperlihatkan bahwa focus dalam studi mengenai bahasa adalah munculnya ideology mengenai praktik wacana dan struktur yang membentuk perubahan dalam tekanan social di masyarakat. Dalam sebuah struktur sosial, bahasa juga dapat dipahami sebagai sebuah usaha untuk menutupi hubungan sosial dana proses sosial yang terjadi dalam masyarakat melalui teks yang ada (Fairclough, 1995, p. 73). Bahasa bisa digunakan untuk tujuan-tujuan atau konteks tertentu yang bisa digunakan untuk memarjinalkan sebuah kelompok tertentu. Wacana berada pada bahasan ini, yaitu ketika muncul gagasan bahwa bahasa adalah bentuk material dari ideology dan bahasa juga dibentuk oleh ideology tertentu (Fairclough, 1995, p. 73).&lt;br /&gt;Film dalam analisis wacana kritis juga dipandang sebagai sebuah teks yang dapat diartikan sebagai sebuah bentukan dari lingkungan sekitar. Teks dalam film juga bisa digunakan sebagai sebuah bentuk dominasi bagi kelompok minoritas yang ada dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Untuk menganalisis wacana yang muncul dalam sebuah film, dapat dilakukan melalui tiga elemen, yaitu text, feature of discourse practice (produksi, distribusi, dan konsumsi teks) serta sociocultural practice (Fairclough, 1995, p. 87). Analisis mengenai wacana dalam film dapat dilihat melalui tiga elemen ini sekaligus juga menghubungkan ketiga elemen tersebut. Hipotesis yang dimunculkan adalah bahwa dalam pembentukan sebuah wacana, akan didapati hubungan antara ciri-ciri yang terdapat dalam teks, cara penggunapan dan interpretasi teks dan situasi yang terdapat dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;Teks dalam film dianalisis secara linguistic, dengan melihat kosakata, semantic, dan tata kalimat. Dalam bagian ini juga dilihat bagaimana kata digabungakan dalam sebuah kalimat, dan bagaimana gabungan-gabungan kalimat tersebut digunakan untuk menunjukkan sebuah representasi. Teks tidak hanya dilihat berdasarkan ucapan lisan yang dikeluarkan oleh tokoh, namun juga dilihat berdasarkan tingkah laku non verbal yang digunakan oleh pemain.&lt;br /&gt;Discourse practice berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks. Teks dalam sebuah film diproduksi dalam cara yang spesifik dengan rutinitas dan pola kerja yang sudah terstruktur. Sedangkan proses konsumsi juga bisa berbeda dalam konteks social yang berbeda. Sebuah teks bisa diartikan dengan cara memahami bagaimana proses produksi dan konsumsi teks yang terjadi pada saat itu. Untuk memahami sebuah film, tataran discourse practice bisa dilihat melalui sudut pandang dari seorang pembuat film.&lt;br /&gt;Sosiocultural practice berhubungan dengan konteks yang berada di luar teks. Konteks disini memasukkan lebih banyak hal, seperti konteks situasi, lebih luas adalah konteks dari praktik institusi dari film sendiri dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya dan politik tertentuSosiocultural practice ini tidak langsung berhubungan dengan produksi teks, tetapi bisa digunakan untuk menentukan bagaimana film bisa diproduksi dan dipahami. Fairclough membuat tiga level analisis pada sociocultural practice, yaitu level situasonal, level institusional, dan level social.&lt;br /&gt;Level situasional beranggapan bahwa film dihasilkan dalam suatu kondisi yang khas, unik, sehingga film yang satu pasti berbeda dengan film yang lain. Film muncul sebagai upaya untuk merespon situasi atau konteks social tertentu. Level institusional melihat pengaruh institusi baik dari intern pembuat film maupun di luar, dalam sebuah praktek produksi wacana. Dilihat juga apakah trend pada masyarakat saat itu juga mempengaruhi terbentuknya representasi KDRT terhadap anak. Sedangkan level social melihat wacana yang muncul dalam media ditentukan oleh perubahan masyarakat. Dalam level social, budaya masyarakat juga turut menentukan perkembangan dari sebuah wacana yang terdapat dalam sebuah film. Level ini lebih melihat pada system politik, ekonomi, ataupun budaya masyarakat mengenai tindakan kekerasan terhadap kaum lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Representasi dalam Film Mengenai Kekerasan Terhadap Kaum Lemah&lt;br /&gt;Film sebagai sebuah teks tidak bisa langsung digeneralisir sebagai realitas yang ada dalam masyarakat. Film harus dipahami sebagai sebuah bentuk representasi (penggambaran ulang) kejadian yang ada dalam masyarakat. Dalam usaha penggambaran ulang tersebut, tidak menutup kemungkinan adanya sebuah usaha untuk mengurangi tingkat “kenyataan” yang ada dalam film, atau justru memberikan efek berlebihan agar bisa menimbulkan suatu respon dari penonton film.&lt;br /&gt;Untuk itu perlu dipahami apakah representasi itu sebenarnya. Secara istilah, representasi menunjuk pada cara bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan, atau pendapat tertentu ditampilkan kepada public (Eriyanto, 2001, p 113). Terdapat usaha untuk menggambarkan ulang kejadian yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai representasi ini penting untuk mengetahui dua hal (Eriyanto, 2001, p 113). Pertama, apakah seseorang atau kelompok tersebut diberitakan sebagaimana mestinya. Hal ini menjadi penting untuk diteliti karena muncul kemungkinan bahwa suatu peristiwa atau kelompok mungkin saja digambarkan apa adanya atau dilebih-lebihkan atau justru malah diburukkan sehingga muncul usaha untuk memarjinalkan kelompok lain. Ketika muncul usaha untuk memarjinalkan kelompok lain, maka yang muncul dalam representasi itu adalah citra yang buruk saja, sedangkan citra yang baik sengaja dihilangkan dalam penggambaran sebuah peristiwa. Ada usaha untuk memilah-milah cara yang digunakan untuk menimbulkan kesan tertentu. Kedua, representasi juga penting untuk melihat bagaimana representasi itu ditampilkan, dengan cara apa seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan dalam sebuah film.&lt;br /&gt;Eric Sasono (2004) menyebutkan bahwa pada dasarnya kekerasan dalam film memiliki dua kategori besar model. Kategori pertama adalah kekerasan dalam adegan film yang dibentuk sedemikian rupa sehingga kekerasan menjadi sesuatu yang indah. Terjadi estetisasi kekerasan (aestheticization of violence). Terjadi dramatisasi dalam penggambaran adegan kekerasan lewat sinematografi yang indah, ataupun editing yang sangat dramatis. Musikpun diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga menghadirkan kesan yang lebih hebat dan dramatis daripada dalam kehidupan nyata (larger than life). Kekerasan yang mengalami estetisasi dapat dibedakan menjadi dua macam model, yaitu estetisasi adegan kekerasan yang erat hubungannya dengan sturktur narasi film. Adegan kekerasan ini terkadang menjadi bagian klimaks sebuah struktur cerita. Dalam model ini, kekerasan selalu dianggap sebagai sesuatu yang perlu muncul dalam film. Logika film sejak awal memang berniat menghadirkan kekerasan sebagai bagian dari cerita, baik dalam perkembangan plot maupun mode konflik dan penyelesaian masalah. Sedangkan model kedua adalah penggambaran adegan kekerasan yang mendahulukan berbagai gaya dan simbolisme hingga menimbulkan efek “keindahan” secara visual (visual artistry). Dalam model seperti ini, gaya didahulukan oleh para pembuat film ketimbang hubungan adegan kekerasan tersebut dengan struktur narasi. &lt;br /&gt;Sedangkan kategori kedua dalam usaha untuk merepresentasikan kekerasan dalam film adalah kekerasan yang dimaksudkan tampil apa adanya, realistik, tanpa estetisasi. Kekerasan tampil terlanjang sejajar dengan adegan-adegan lain dalam film, sering tanpa dramatisasi, dan disejajarkan saja dengan adegan lain semisal makan, minum atau tidur. Kekerasan dianggap sebagai bagian dari peristiwa sehari-hari yang bisa terjadi begitu saja dalam kehidupan manusia. Sinematografi, penempatan kamera atau editing tanpa dramatisasi berlebihan sehingga adegan kekerasan tampil datar.&lt;br /&gt;Pemilihan kedua model dalam usaha untuk merepresentasikan KDRT ini bias digunakan sebagai pisau analisis untuk mengetahui bagaimana KDRT dipandang oleh seorang sutradara. Upaya marjinalisasi salah satu pihak juga bias terlihat ketika menganalisis film dengan melihat cara penampilan sebuah adegan kekerasan.&lt;br /&gt;4. Authorsip dalam film India&lt;br /&gt;Konsep authorsip atau pengarang tunggal dalam sebuah film pertama kali muncul pada tahun 1950 dalam jurnal Perancis, Cahiers du Cinema. Dalam sebuah artikel, "Une certaine tendance du cinéma français" ("a certain trend in French cinema"), François Truffaut memperkenalkan ungkapan baru yaitu "la politique des Auteurs", yaitu pendapat bahwa setiap sutradara pasti memiliki cara pandang dan perlakuan khusus yang dilakukan dalam filmnya (Giannetti, 1996, p. 445).&lt;br /&gt;Konsep ini bermula dari pandangan bahwa sutradara dalam film memiliki tugas yang sama dengan seorang pengarang novel yang memiliki pandangan pribadi dalam setiap novel yang dibuatnya. Begitu pula yang terjadi dalam pembuatan film. Pembuatan film akan mengandung “a filmmakers signature”,yang dapat dibaca melalui keseluruhuan tema dan gaya dalam sebuah film (Giannetti, 1996, p. 445). Sedangkan pihak yang paling sesuai untuk dikatakan sebagai author adalah sutradara (Film Ensyclopedia, n.d.). Truffaut mempertegas peranan sutradara dengan menyatakan bahwa tidak ada film yang baik ataupun buruk, namun yang ada hanyalah sutradara yang bagus ataupun buruk &lt;br /&gt;"(t)here are no good and bad movies, only good and bad directors." (dikutip dalam Auteur Theory, n.d.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua sutradara bisa dikategorikan sebagai seorang auteur. Untuk dapat dikatakan sebagai seorang auteur, jika memenuhi beberapa kriteria yaitu &lt;br /&gt;1.Personal Vision. Andrew Sarris menyebutkan bahwa terdapat pandangan pribadi dan andil personal yang kuat dari sutradara tersebut dan tidak memperbolehkan orang lain mempengaruhinya (dikutip dalamm Auteur Theory in Film Criticism,2007). &lt;br /&gt;2.Camera as A Stylo. Alexandre Sartruc mengungkapkan bahwa auteur menggunakan kamera layaknya sebuah pena untuk penulis (dikutip dalam Film Ensiklopedia, n.d.)&lt;br /&gt;3.Director’s Signature. Selalu memiliki ciri khusus dalam filmnya yang dapat diidentikkan dengan sutradara tersebut (Giannetti, 1996, p. 445). &lt;br /&gt;Sutradara dianggap sebagai seseorang yang memiliki pengaruh paling kuat dalam sebuah produksi film, dan sutradara sekaligus juga dianggap sebagai seorang “penulis” dalam sebuah film. Setiap hasil karya film yang keluar merupakan hasil tangan yang menunjukkan pandangan pribadi seorang sutradara.&lt;br /&gt;Sutradara memiliki kekuasaan untuk menentukan bentuk film yang akan dibuatnya, mulai dari set panggung, tata letak kamera, kharakteristik pemain, hingga proses editing merupakan hasil buah pikiran sutradara (Gollin, 1992). Dalam pembuatan film tersebut, tidak dapat dilepaskan bahwa sutradara sebagai seorang auteur juga adalah hasil dari produksi intitusi-institusi yang berada di lingkungannya. Seorang sutradara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sekitar, ketika membuat sebuah film. Aspek sejarah, aspek lingkungan produksi film, juga dapat mempengaruhi proses pembuatan film oleh seorang sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik khusus antara lain lebih mementingkan proses penelitian. Oleh karena itu, bukan pemahaman mutlak yang dicari, tetapi pemahaman mendalam tentang kehidupan sosial. Kharakteristik penelitian kualitatif yang lebih mengutamakan kedalaman daripada keluasan diharapkan bisa digunakan untuk menjelaskan wacana KDRT dalam film Pasir Berbisik dan film Eliana-Eliana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Analisis wacana kritis digunakan untuk meneliti wacana mengenai tindakan kekerasan terhadap kaum lemah dalam film ini. Terdapat asumsi bahwa masyarakat kecil tidak bisa hidup seperti kaum yang kaya dan pintar. Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai factor yang penting, yaitu bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Analisis wacana kritis berpendapat bahwa dalam setiap teks yang muncul terdapat elemen kekuasaan. Penggambaran yang muncul dalam film baik dalam bentuk verbal ataupun non verbal, tidak dipandang secara netral, tetapi merupakan bentuk perlakuan dominasi kepada pihak minoritas.&lt;br /&gt;Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Fairclough membagi analisis wacana menjadi tiga dimensi, yaitu teks, discourse practice, dan sosiocultural practice.&lt;br /&gt;Sasaran penelitian adalah film Pasir Berbisik, karya sutradara dan penulis naskah Nan Trivia Achnas, dan Eliana-Eliana, karya sutradara dan penulis naskah Riri Reza. Film Pasir Berbisik dan film Eliana-Eliana dipilih karena memiliki kecenderungan sutradara sebagai seorang auteur, karena kedua sutradara tersebut juga berperan sebagai penulis naskah. Kedua film tersebut juga membawa tema yang sama, yaitu tema mengenai kekerasan yang terjadi akibat konflik antara orangtua dan anak, sehingga bisa menjawab permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini. &lt;br /&gt;Tipe penelitian adalah deskriptif karena peneliti bermaksud untuk menggambarkan representasi kekerasan terhadap kaum yang lemah dalam film India karya kaum borjuis dan penguasa yakni sutradara yang berasal dari amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Unit Analisis&lt;br /&gt;Unit analisis dalam penelitian ini adalah setiap scene yang terdapat adegan yang menunjukkan tindakan kekerasan terhadap kaum lemah dalam film slumdog milionare. Kekerasan terhadap kaum lemah tersebut dapat berupa kekerasan secara fisik maupun kekerasan berupa kekerasan psykologis terhadap masyarakat tersebut, Physical abuse (kekerasan fisik) adalah kekerasan yang berupa penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan terhadap anak, dengan atau tanpa benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian kepada kaum lemah yakni masayarakat miskin. &lt;br /&gt;Psychological abuse (kekerasan psikologi) yaitu kekerasan yang dapat berupa penghardikan atau  penyampaian kata-kata kasar kepada anak. Sexual abuse (kekerasan seksual) adalah tindakan kekerasan yang berupa perlakuan pra-kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual, exhibition), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dan orang dewasa (inchest, perkosaan, eksploitasi seksual), serta social abuse (kekerasan sosial) yang berupa penelantaran dan eksploitasi terhadap kaum yang lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.3 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Setiap scene dalam film slumdog milionare akan dikelompokkan  berdasarkan ciri-ciri yang sesuai dengan kriteria kekerasan terhadap kaum yang lemah, baik yang berupa physical abuse, psychological abuse, sexual abuse, maupun social abuse. Lalu sesuai dengan model analisis wacana kritis oleh Fairclough, maka scene yang telah terpilih tersebut digunakan sebagai teks yang akan diteliti untuk menunjukkan bentuk representasi kekerasan terhadap kaum lemah India. &lt;br /&gt;Pada tingkatan discourse practice, yang dilakukan adalah melakukan wawancara mendalam kepada pakar dan pengamat film, dan juga praktisi dibidang perfilman. Namun seharusnya peneliti melakukan wawancara dengan sutradara film ini untuk mendapatkan data yang akurat, akan tetapi karena keterbatasan peneliti maka hanya bisa melakukan wawancara kepada pengamat dan praktisi dibidang perfilman.&lt;br /&gt;Pada tingkat sosiocultural practice, yang akan dilakukan adalah dengan studi kepustakaan, maupun penelusuran situasi masyarakat pada tahun pembuatan film, baik melalui buku, internet, maupun sumber-sumber lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.5 Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Keseluruhan data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis berdasarkan metode analisis wacana kritis milik Norman Fairclough. Dalam analisis akan dianalisis berdasarkan teks, lalu analisis discourse practice, yang menjelaskan proses produksi dan konsumsi teks. Serta yang ketiga adalah analisis sosiocultural practice yang mencoba mencari konteks yang berada di luar teks.&lt;br /&gt;Dalam analisis teks, sebenarnya bisa diuraikan untuk melihat tiga permasalahan. Pertama, representasi mengenai suatu hal, terutama representasi mengenai kekerasan terhadap kaum lemah. Dilakukan analisis apakah teks yang ditampilkan dalam film tersebut membawa ideology tertentu. Kedua, relasi antara pakar dan pengamat dengan teks yang ditampilkan dalam film, seperti apakah sutradara memiliki pengalaman pribadi tertentu mengenai kekerasan terhadap kaum lemah, lalu alasan-alasan seorang sutradara menggunakan cara penceritaan seperti dalam film tersebut. Ketiga, melihat cara seorang sutradara menampilkan identitas mengenai suatu hal.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam analisis  di tingkatan discourse practice, memusatkan perhatian pada bagaimana produksi dan konsumsi teks. Pada level ini ingin melihat bagaimanakah sebuah representasi tersebut digambarkan dalam sebuah film. Untuk itu bisa dilihat dari ketiga elemen yang merupakan keseluruhan dari praktek wacana, yaitu dilihat melalui dari sisi sutradara itu sendiri. Kedua, dari sisi hubungan antara sutradara dengan pihak-pihak lain dalam proses produksi film. Ketiga, melalui praktik kerja atau rutinitas kerja, mulai dari produksi naskah, hingga proses editing, hingga berbentuk naskah audio visual lengkap.&lt;br /&gt;Setelah film dianalisis berdasarkan tiga level metode analisis kritis dari Norman Fairclough kemudian akan dibandingkan untuk menemukan jawaban mengenai wacana kekerasan terhadap kaum lemah dalam film India yang disutradarai oleh seorang kaum borjuis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;ANALISA DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Representasi  Kekerasan Fisik Terhadap Kaum Lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representasi kekerasan peneliti golongkan menjadi dua yaitu kekerasan fisik dan psykologis agar lebih mudah untuk melakukan penelitian. Adapun definisi tentang kekerasan fisik dan psykologis yakni:&lt;br /&gt;Definisi kekerasan Fisik (WHO): tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, seksual dan psikogi. Tindakan itu antara lain berupa memukul, menendang, menampar, menikam, menembak, mendorong (paksa), menjepit. &lt;br /&gt;Definisi kekerasan psikologi (WHO):  penggunaan kekuasaan secara sengaja termasuk memaksa secara fisik terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, mental, spiritual, moral dan pertumbuhan sosial. Tindakan kekerasan ini antara lain berupa kekerasan verbal, memarahi/penghinaan, pelecehan dan ancaman. Sedangkan kekerasan sosial adalah kekerasan yang diberikan oleh lingkungan sosial dimana dia bertempat, kekerasan ini berupa hukuman atau pengkucilan yang dilakukan masyarakat dalam lingkungan sosial tersebut.&lt;br /&gt;  Pada scene awal pemukulan yang dilakukan opsir polisi yang menahan jamal, merupakan representasi kekerasan terhadap kaum lemah yang dilakukan kaum yang berkuasa, dalam hal ini opsir polisi yang memeriksanya atas permintaan host acara who wants to be a millionaire. Karena Jamal selalu dapat menjawab dengan tepat segala pertanyaan yang diajukan. Kecurigaan si pembawa acara semakin meningkat ketika Jamal melampaui batas aman ketiga yaitu 16 Rupee. Pada batas aman ketiga ini, bahkan Profesor sekalipun belum pernah ada yang melampauinya. Maka dari hal tersebut mereka kira jamal melakukan kecurangan, dan untuk menyelidiki masalah tersebut dimintalah polisi untuk menyelidikinya. Jamal merupakan kaum lemahnya sedangkan polisi sebagai kaum penguasanya.&lt;br /&gt;Pada scene selanjutnya yaitu kekerasan yang dilakukan masyarakat india pemeluk agama hindu yang melakukan kekerasan dan pembantaian terhadap masyarakat muslim. Masyarakat pemeluk agama hindu merupakan kaum penguasa sedangkan kaum lemahnya adalah masyarakat muslim yang jumlahnya sangat sdikit.&lt;br /&gt;Pemukulan yang dilakukan oleh guru sekolah jamal dan malik, saat mereka terlambat, dan karena mereka juga merupakan murid yang bodoh dikelas tersebut. Kaum lemah adalah jamal dan malik dan kaum penguasa adalah guru.&lt;br /&gt;Pencopotan bola mata yang dilakukan maman dan komplotannya yaitu preman yang menampung anak-anak jalanan. Hal tersebut dilakukan agar anak jalanan tersebut menjadi buta dan ketika mereka meminta-minta orang akan semakin berbelas kasihan. Kaum lemah adalah anak-anak jalanan, kaum penguasa adalah maman dan komplotan premannya.&lt;br /&gt;Pemukulan yang dilakukan sopir wisatawan asing yang datang untuk berwisata, pemukulan tersebut dilontarkan kepada jamal karena jamal mengajak wisatawan tersebut kedaerah yang tidak aman sehingga onderdil dari mobil yang diparkir tersebut hilang dan dicuri orang.&lt;br /&gt;Penembakan yang dilakukan salim kepada maman, karena dia marah dan ingin balas dendam degannya. Dan dia ingin menjadi preman pengganti maman, dalam scene ini malik sebagai orang yang dominan karena dia mempunyai senjata sehingga bisa membunuh maman.&lt;br /&gt;Perlakuan kasar yang dilakukan javed terhadap latika yang merupakan gadis yang dicintai jamal. Sedangkan javed adalah preman Mumbai yang merupakan bos dari kakak jamal yaitu mlik. Perlakuan semena-mena tersebut dilakukan karena makanan yang disediakan kepada javed tidak enak rasanya. Javed sendiri adalah adalah penguasa yaitu orang yang kuat sedangkan latika hanya perempuan yang dijadikan selir oleh javed. &lt;br /&gt;Kekerasan yang dilakukan distasiun tempat yang dijadikan latika dan jamal untuk bertemu, kekerasan tersebut dilakukan salim yang merupakan orang suruhan javed. Kekerasan dari orang yang berkuasa kepada orang yang lemah, yakni salim yang kuat dan latika adalah masyarakat yang lemahnya.&lt;br /&gt;Penembakan yang dilakukan salim kepada javed yang merupakan bosnya sendiri, hal tersebut dilakukan karena salim inging melakukan kebaikan kepada adiknya dengan cara menyelamatkan wanita yang jamal cintai, dan hal tersebut diketahui oleh javed. Sehingga javed mencari salim sebagai orang yang telah membebaskan latika. Sebagai hukuman dari tindakan salim tersebut javed inging membunuh salim akan tetapi salim terlebih dahulu membunuh javed dengan pistol yang dipunyainya. Dan setelah itu salim ditembak oleh anak buah javed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kekerasan Psychological dan Sosial.&lt;br /&gt;Dalam melihat film Slumdog Millionaire ini banyak mengangakat permasalahan yang sering terlupakan muncul kepermukaan. Dalam film ini, si pembuat film menyatakan sebuah quotation yaitu Destiny is written. Quotation itu akan membantu dalam penjabaran mengenai kehidupan seorang masyarakat miskin yang tersirat dalam kehidupan Jamal Malik. Film ini membahas tentang dua hal tersebut, kaum borjuis yang dapat seenaknya bertindak terhadap kaum bawah dengan topeng materi dan perjuangan kaum bawah yang “ menuntut” persamaan hak. Pembahasan kali ini akan di mulai dari awal film Slumdog Millionaire agar jelas apa yang disampaikan oleh si pembuat film. Setting film ini mengambil setting Mumbai tahun 2006 dan acara who wants to be a millionaire dipilih karena acara ini merupakan acara yang selalu ditonton oleh warga India pada saat itu atau dalam kata lain rating who wants to be a millionaire sedang naik. &lt;br /&gt;Hal ini dipilih karena pada tahun itu keadaan ekonomi India mengalami pasang surut sehingga memberi dampak psikologis bagi warga India untuk mencari jalan singkat mendapatkan uang demi kelangsungan hidup. Sehingga acara who wants to be a millionaire mendapat perhatian lebih oleh masyarakat India karena cara ini menawarkan uang dengan jumlah yang sangat besar tanpa harus bersusah payah menggunakan kekuatan fisik.&lt;br /&gt;Berikutnya adalah tokoh Amitabh Bachan yang merupakan tokoh kenamaan di India, Ia telah memerankan banyak film India. Amitabh Bachan bisa dikatakan sebagai tokoh pujaan masyarakat India kebanyakan. Mereka memiliki anggapan bahwa ketenaran dapat dengan mudah mendatangkan kekayaan dan kemakmuran. Saat Jamal mendengar berita bahwa Amitabh Bachan akan datang ke daerah kumuh mereka, Ia sedang berada di sebuah toilet yang terbuat dari bilik kayu di tepian sungai. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada pihak-pihak yang tidak peduli akan kebersihan dan kesehatan. Kehidupan yang tercermin pada saat Jamal dan Salim yang beragama Islam harus kabur dari serangan orang-orang yang beragama hindu. Perang agama seperti itu juga pernah di alami oleh banyak kaum lemah atau kaum minoritas yang ada di India harus berpindah keyakinan. Kaum lemah atau minoritas  mengalami sendiri bagaimana para penganut agama saling menindas satu sama lain sehingga mereka dan keluarga harus pindah agama demi menghindari penindasan. &lt;br /&gt;Namun dalam film ini agar tidak mempengaruhi iman seseorang maka pada saat kaum agama Islam dikejar oleh kaum agama Hindu, Jamal dan Salim berlari untuk menghindari kejaran para orang-orang yang berbuat anarki. Sebuah simbolisasi yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki pilihan dalam menentukan jalan hidupnya adalah pada saat Jamal dan Salim berada di sebuah persimpangan gang sempit, tiba-tiba muncul sosok Dewa Rama yang berada di gang buntu pada sebelah kiri. Pada adegan itu seolah-olah Jamal dan Salim harus memilih agama apa yang akan ia pilih, jalan lurus ke depan adalah agama Islam yang Ia percayai dengan resiko banyak kaum hindu yang mengejar ataukah agama Hindu yang bisa menyesatkan mereka – disimbolkan dengan gang buntu. Kisah Jamal dan Salim yang kini harus kehilangan kedua orang tuanya akibat peperangan agama itu membuat mereka harus memilih pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka. Hal ini pun terdapat dalam kehidupan kaum minoritas masyarakat yang ada di India. &lt;br /&gt;Dalam urusan percintaan, dikisahkan dalam film ini Jamal sangat setia menanti Latika yang menjadi kembang di sebuah hiburan malam. Dari sekelumit pembahasan di atas terlihat banyak kemiripan anatara kehidupan masyarakat miskin India yang digambarkan dengan kehidupan Jamal di film Slumdog Millionaire. &lt;br /&gt;Bisa diperkirakan bahwa akan banyak terdapat point-point kehidupan masyarakat miskin yang merupakan kaum lemah di India yang tercermin dalam film ini, berikut pembahasannya lebih lanjut. Jamal merupakah salah satu tokoh yang mendukung kaum buruh, yang dalam film ini digambarkan dengan adegan dimana Jamal yang mewakili kaum buruh dapat menjatuhkan kaum borjuis yang diwakili oleh polisi yang menguji pengetahuan Jamal. Percakapan yang mengisyaratkan bahwa kaum buruh pun juga mempunyai pengetahuan lebih yaitu ketika Jamal menanyakan berapa harga roti saat ini, polisi mengatakan bahwa harganya 10 rupee. Jamal mengatakan bahwa harga Roti naik setelah Bivali – suatu perayaan kebudayaan India.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;BUKU&lt;br /&gt;Eriyanto. (2001). Analisis Wacana Kritis : Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta: LKiS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giannetti, Louis. (1996). Understanding Movies (7th ed.). New Jersey: Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gollin, M. Richard. (1992). A Viewer’s Guide to Film : Arts, Artificies, and Issues. United States of America: Mc Graw-Hill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriyantono, Rachmat. (2007). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERNET&lt;br /&gt;Auteur Theory in Film Criticism. (2007). Retreived September 22, 2008 from http://www.bbc. co.uk/dna/ h2g2/A22928772&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Ensyclopedia. (n.d.). Auteur Theory and Authorship. Retrieved September 22, 2008 from http://www.filmreference.com/encyclopedia/Academy-Awards-Crime-Films/Auteur-Theory-and-Authorship-ASCERTAINING-AUTHORSHIP-IN-CINEMA.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purba, Amir. (2007). Menyelami Analisis Wacana Melalui Paradigma Kritis. Retreived April 20, 2009 from http://dictum4magz.wordpress.com/2007/12/04/menyelami-analisis-wacana-melalui-paradigma-kritis/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://indonesian.irib.ir/index.php/politik/63-sosial/9295-oh-oscar.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-3926056412539151669?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/3926056412539151669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=3926056412539151669' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3926056412539151669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3926056412539151669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2010/07/analisa-film-slumdog-milionare.html' title='Analisa Film Slumdog Milionare'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-1066889605524792212</id><published>2009-10-25T02:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T03:05:48.517-07:00</updated><title type='text'>KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA</title><content type='html'>TEORI MENGHINDARI KENDALA DALAM PERCAKAPAN. &lt;br /&gt;Level individu dalam dimensi budaya.&lt;br /&gt;  Dalam interaksi sosial sehari-hari, setiap orang memiliki berbagai tujuan sosial (misalnya, dalam mencari teman , mencari bantuan, mencari informasi, mengungkapkan informasi). Untuk mencapai tujuan ini, orang harus memiliki kompetensi-yang srategis pengetahuan luas yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka. Dalam teori yang dikemukakan oleh M.kim (1993) bahwa gagasan tentang kendala dalam percakapan  yang merujuk pada pilihan taktik komunikasi dan penilaian umum kompetensi komunikasi. Prioritas yang berbeda yang diberikan kepada kendala akan menimbulkan pendekatan yang berbeda untuk tujuan-tujuan interaksi, dan akhirnya secara keseluruhan tayangan dari antar kompetensi strategis. Berfokus pada percakapan berbasis budaya kendala, M.kim (1993) diuraikan perspektif teoretis untuk memahami dan memperkirakan perbedaan pilihan strategi percakapan yang dilakukan oleh anggota kelompok-kelompok budaya yang berbeda, secara khusus, dua kendala (wajah kepedulian dan kejelasan) yang secara teoritis dan penting terkait dengan dimensi budaya, yakni individual dan kelompok orientasi. Gagasan penting adalah bahwa membangun kelompok dan diri pribadi secara sistematis banyak mempengaruhi, seperti wajah yang memiliki arti penting yakni dukungan dan kejelasan strategi dalam percakapan. Kendala percakapan tersebut, sebagai strategi penggerak pilihan, pada bagiannya, berpengaruh pada pilihan strategi dan penilaian kompetensi lintas budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Model percakapan yang dikemukakan M.kim sebelum ini yaitu percakapan kendala telah terbukti bermanfaat dan telah menerima dukungan empiris. Sebagai contoh, ditemukan bahwa ada perbedaan budaya lintas sistematika dalam pentingnya aturan paksaan ini (m.kim, 1994) dan juga dalam menengahi dan peringkat permintaan pemesanan taktik sepanjang kendala ini dimensi (kim dan wilson, 1994 ). Kerangka teori sebelumnya, namun hanya melibatkan tingkat budaya, namun ini, faktor-faktor yang memimpin orang-orang dalam satu kebudayaan untuk dikomunikasikan sama atau berbeda dari orang-orang dalam budaya lain. Model difokuskan hanya pada bagaimana budaya mempengaruhi perilaku individu. Bagaimana-pernah, teori yang solid komunikasi antar budaya harus didasarkan pada budaya yang berlaku, maka harus didukung oleh tingkat individu maupun data tingkat kebudayaan (Leung, 1989). pendekatan tingkat individu telah menerima perhatian yang sangat sedikit dalam komunikasi antar budaya Baru saja penggunaan luas dimensi kebudayaan yang sangat berfariasi telah dikupas oleh banyak penulis karena kurangnya daya penjelas. Ketika dimensi luas seperti individual  melawan   kelompok atau tinggi rendah dipanggil konteks untuk menjelaskan perbedaan budaya, bagaimana atau mengapa terjadi perbedaan-perbedaan ini. Penggunaan budaya sebagai penjelasan perbedaan tidak sedikit untuk membantu kita memahami penyebab perilaku berlawanan secara lengkap pengaruh budaya pada perilaku komunikasi, perlu adanya campur tangan untuk menemukan variabel yang cocok untuk memahami apa itu budaya ,   apa saja perbedaan budaya. Tentu saja, pembagian dunia untuk perseorangan dan kelompok budaya adalah penyederhanaan dari yang luas dan layak yang lebih sistematis dan rinci (Schwartz).&lt;br /&gt; Dalam penelitian komunikasi antar budaya, mungkin ada bias untuk memilih menggunakan "budaya" sebagai satu-satunya variabel penjelas. Kebanyakan penelitian cenderung memilih pendekatan tingkat individu dan fokus pada tingkat Cultur. Masalahnya berasal dari fakta bahwa para peneliti bergantung pada perbedaan budaya  perbedaan tingkat individu masyarakat yang diteliti. Penggunaan variabel mediasi memiliki keunggulan mengurangi kemungkinan bias sebagai penjelasan untuk pola penyelaras perbedaan budaya. Mempelajari pola komunikasi antar budaya melalui analisis tingkat individu. Banyak pendekatan teori dalam komunikasi antar budaya di beberapa titik meminta proses tingkat individu (misalnya, konsep diri, identitas) sebagai penjelasan tentang perbedaan budaya (lihat colier &amp; thomas, 1988; cronen, Pearce, &amp; Tomm, 1985). Namun, ada  kurangnya bukti empiris yang sangat menyolok kira-kira sebuah spesifics sistem diri orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. &lt;br /&gt; Penggunaan budaya sebagai variabel penjelas perbedaan budaya, orang mungkin mengklaim bahwa pendekatan tingkat individu paling cocok untuk psikologisnya daripada fenomena budaya. Namun, banyak pendekatan teori dalam komunikasi antar budaya di tingkat individu beberapa faktor, seperti konsep diri dan wajahnya. Sebuah teori yang berlaku universal harus perhatian sendiri dengan tingkat individu maupun isu tingkat budaya. Konvergensi antara individu dan tingkat budaya penjelasan akan mendukung universalitas teori. Bab ini mengintegrasikan analises tingkat individu (memilih fokusing pada faktor-faktor yang memotivasi kita untuk berkomunikasi dan mempengaruhi cara kita menciptakan dan menafsirkan pesan), didasarkan pada asumsi bahwa budaya dan tingkat individu saling terkait. Untuk meringkas, tujuan bab ini adalah untuk memberikan kerangka teoretis untuk menerangi hubungan antara variabel-variabel budaya tingkat individu (beberapa elemen struktur diri) ke convercational pentingnya precieved kendala, yang mengarahkan motif atau kriteria untuk memilih strategi percakapan. Kemampuan untuk menangani tingkat individu variabel dimensi budaya harus lebah alat yang berguna dalam menentukan apakah perbedaan budaya estabilished sebelumnya cocok dengan perbedaan tingkat individu terkait.&lt;br /&gt; Tiga unsur berikut merupakan struktur diri, yang merupakan variabel tingkat individu, dipilih: (a) dua dimensi konsep diri, yaitu, mandiri dan independen construals diri dijelaskan oleh markus dan kitayama (1991); (b) membutuhkan persetujuan dan kebutuhan dominasi, dan (c) psycological gender, thats adalah, maskulinitas dan feminitas. Variabel tingkat individu ini telah sesuai perbedaan budaya dalam komunikasi. Prediksi harus Theoritical ize umum di seluruh jenis interaksi (antar-budaya dan antar percakapan). Curent teori yang dapat diterapkan untuk berbagai tujuan primer (kritik, permintaan maaf, penolakan mencari informasi, memunculkan janji-janji). Selain itu, teori ini dapat diuji dengan berbagai tujuan primer (kritik, permintaan maaf penolakan, mencari informasi, elicityng janji-janji). Selain itu, teori ini dapat diuji dengan beragam populasi dari berbeda latar belakang linguistik dan sosiokultural. Sisanya bagian capter ini disusun sebagai berikut: pertama, constrainsts percakapan trhee diperkenalkan. Selanjutnya, beberapa variabel yang berkaitan dengan mediasi dan sistem diri individu yang terkait dengan arti-penting yang dirasakan percakapan kendala. Proposisi teoretis tertentu berasal dari diskusi ini. Akhirnya, implikasi teoretis dan arah masa depan dan arah masa depan untuk penelitian yang dibahas.&lt;br /&gt;Percakapan Kendala &lt;br /&gt;Percakapan adalah tipe yang dipandang sebagai tujuan yang memerlukan tindakan diarahkan dengan orang lain.  Tujuan interaksi diklasifikasikan dalam dua tipe: (a) global atau lintas situasional golas dan (b) situasi tujuan spesifik. Berlawanan dengan tujuan situasional situasi dibedakan dari tujuan-tujuan spesifik dalam bahwa mantan adalah operasi selama hampir semua pertemuan sosial. &lt;br /&gt;Keprihatinan untuk kejelasan&lt;br /&gt; kejelasan yang diterapkan pada percakapan perilaku, adalah kemungkinan suatu ucapan membuat satu contoh yang jelas dan eksplisit. Yaitu, perhatian untuk mengendalikan kejelasan sejauh mana maksud dari pesan secara eksplisit dan jelas dikomunikasikan kepada pendengar. Apllied untuk percakapan perilaku, kendala (atau preferensi) untuk kejelasan karena itu adalah kekhawatiran untuk mencapai dan keluar datang dalam cara yang mungkin langsung. Karena dengan adanya  kejelasan terhadap percakapan yang dilakukan untuk mengantisipasi keprihatinan tersebut ketika kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita harus bisa memberi kejelasan terhadap semua perkataan yang kita ingin sampaikan kepada orang tersebut dan harus dijelaskan apa maksud dari perkataannya tersebut.&lt;br /&gt;Keprihatinan untuk menghindari terlukanya perasaan pendengar. &lt;br /&gt;Pada saat merencanakan untuk mencapai tujuan-tujuan interaksi, orang mungkin juga memperhitungkan bagaimana tindakan yang diproyeksikan dapat mempengaruhi perasaan si pendengar. "Perhatian terhadap perasaan orang lain" berkaitan dengan speaker dianggap kewajiban untuk mendukung persetujuan pendengar mencari atau si pendengar citra diri positif. Sebagai seorang komunikator yang handal kita juga bisa mengetahui perkataan yang dapat menyinggung bahkan melukai perasaan pendengar kita dangan cara tersebut kejadian terlukanya perasaan pendengar akan sedikit berkurang.&lt;br /&gt;Perhatian untuk meminimalkan kesalahan percakapan&lt;br /&gt; Perbedaan ini berkenaan dengan sejauh mana menghindari memaksakan suatu ucapan pada pendengar atau mengganggu si pendengar kebebasan bertindak. Tindakan komunikasi dapat mengancam si pendengar wajah negatif sejauh itu menimpa dirinya atau hak untuk otonomi. Jenis ini telah kekhawatiran dimaksud dalam therms lebih abstrak, seperti "kesopanan negatif" “sopan" yang menghindari membuat pemaksaan pada orang lain.  Etika kesopanan dalam percakapan juga harus kita gunakan dalam berkomunikasi baik komunikasi dengan orang yang satu budaya dengan kita maupun antar budaya, untuk kesopanan tersebut kita harus mengetahui tata krama atau etika dari orang lawan bicara kita tersebut. Namun sebelumnya kita harus mengetahui etika lawan bicara kita, dan jika kita tidak mengetahui maka kita harus banyak menggunakan bahasa yang tidak menyinggung perasaan lawan bicara kita tersebut. &lt;br /&gt;Kemampuan diri dalam kebudayaan yang berbeda&lt;br /&gt; Pengertian tentang "perorangan" dan "kelompok" telah untuk digunakan untuk menjelaskan gaya diffrences dalam komunikasi antara budaya. Kesimpulan umum adalah bahwa anggota yang langsung  budaya colectivistic gaya komunikasi. Meskipun popularitas individualisme dan kolektivisme dimensi budaya yang besar, mereka tidak psycological validitas establised baik. Baru-baru ini, markus dan kitayama digambarkan dua jenis construals diri (independen dan saling tergantung) dan berpendapat untuk pengaruh sistematis ini berbeda-beda ini konsep diri pada kognisi, emosi dan motivasi. Kemampuan tiap-tiap individu antara satu dengan yang lainnya tidak sama, yang mana kemampuan tiap individu yang dalam budayanya sendiri dia sudah mampu berkomunikasi dengan baik akan tetapi ketika dia berkomunikasi dengan individu yang berbeda budaya orang tersebut belum tentu dapat berkomunikasi dengan baik dan dapat menimbulkan interaksi antara keduanya. &lt;br /&gt;Kepercayaan diri&lt;br /&gt;kepercayaan terhadap diri sendiri menempatkan prioritas yang lebih tinggi pada upaya mempertahankan dan menegaskan kebutuhan dan tujuan individu. Ini adalah tanggapan untuk "mengatakan apa yang ada di dia atau pikiran" jika ia berharap yang akan dihadiri atau dipahami (Markus &amp; Kitayama, 1991). Untuk alasan yang berorientasi ke arah diri construal independen, nada umum interaksi sosial mungkin lebih peduli dengan menjadi langsung, jelas, jelas dan ringkas dalam pemilihan taktik verbal. Oleh karena itu, construal diri independen dapat secara sistematis peningkatan pentingnya kejelasan perhatian dalam membimbing pilihan strategi percakapan. Kita harus meningkatkan kepercayaan diri pada diri sendiri agar semua yang kita katakan tanpa adanya rasa keraguan dan lawan bicara kitapun bisa percaya tentang apa yang kita bicarakan itu benar adanya. &lt;br /&gt;Kemampuan mengubah tingkah laku&lt;br /&gt;Kita tidak perlu mengandaikan pengembangan salah satu diri dengan mengesampingkan yang lain. Keadaan, seperti memiliki orangtua dari budaya yang berbeda, atau antar pengalaman, dapat berkontribusi pada pengembangan baik swasta dan diri kolektif. Perubahan tingkah laku disini yang mana penyesuaian diri kita terhadap budaya yang ada dilingkungan baru kita agar kita bisa hidup berdampingan dengan budaya lain tersebut. Bhawuk dan Brislin (1992) menemukan bahwa salah satu ukuran kepekaan budaya adalah kemampuan individu untuk mengubah tingkah lakunya sesuai dengan konteks budaya kolektif atau individualis. Kemampuan untuk beralih antara modus kelompok dan individu menunjukkan keberadaan dua dikembangkan dengan baik konsep diri di antara beberapa individu. Intinya harus dibuat adalah bahwa beberapa orang mungkin memiliki dua berkembang dengan baik.&lt;br /&gt;Sudut pandang gender &lt;br /&gt;Kesadaran dan kepekaan terhadap orang lain yang digambarkan sebagai fitur penting psikologi perempuan. Kesediaan dan kemampuan untuk perawatan standar evaluasi diri bagi banyak wanita. Dengan penggambaran perempuan konsep-diri dalam banyak hal mirip dengan karakteristik budaya feminin, budaya feminin antarpribadi menekankan kerjasama, simpati ruang lingkup yang ramah untuk yang lemah; Sebaliknya, budaya maskulin menekankan pencapaian , pengakuan, dan tantangan. Feminitas budaya termasuk tinggi di Swedia, Norwegia, dan Belanda; budaya maskulinitas tinggi termasuk Jepang, Austria dan Venezuela. Leung, Bond, Carment, Kirshnan, dan Liebrand (1990) menemukan bahwa kawula Belanda (feminin budaya) lebih suka meningkatkan harmoni-prosedur lebih, dan konfrontatif prosedur kurang, daripada subjek Kanada (maskulin budaya). Jenis kelamin individu memiliki citra diri mereka sendiri mempengaruhi cara mereka berkomunikasi dengan yang lain, dan konsep diri atau keperempuanan  mempengaruhi bagaimana mereka melihat diri mereka sebagai komunikator yang baik dan mampu mempengaruhi lawan bicara kita tersebut sehingga hubungan timbal balik yang diinginkan terlaksana. Ciri-ciri maskulinitas dan feminitas, sementara bukan sebagai hal untuk menilai jenis kelamin fisik (laki-laki atau perempuan), mungkin nilai yang lebih besar untuk komunikasi. &lt;br /&gt;Miskomunikasi antara laki-laki dan perempuan telah ditafsirkan dalam beberapa cara, terutama sebagai pembenaran oleh pola sosialisasi yang berbeda budaya dan gender. Pendekatan lintas budaya untuk percakapan lintas-gender, di mana laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, keduanya dapat dilihat untuk menyelesaikan dan menampilkan kesamaan dalam percakapan, tetapi dari perspektif budaya yang berbeda.Klaim umum adalah bahwa pria dan wanita pidato pidato tampaknya memiliki isi yang berbeda dan untuk melayani berbagai tujuan. Laki-laki pidato ini dicirikan sebagai persaingan berorientasi atau bertentangan. Di sisi lain, pidato perempuan dicirikan sebagai kolaborasi berorientasi atau afiliatif, yang mana kaum perempuan lebih banyak toleransi terhadap semua tindakannya dan masih banyak adanya simpati terhadap lawan bicaranya. Sementara itu kaum laki-laki mempunyai sikap yang berlawanan arah dari pada perempuan biasanya mereka mempunyai ciri khas yakni lebih menyukai banyak tantangan dengan hasil yang maksimal.&lt;br /&gt;Jadi fokus pada hubungan perempuan berfungsi untuk meningkatkan komunikasi dan merespons kebutuhan dan perasaan orang lain, mendapatkan satu cara sendiri serta menarik bagi aturan mementingkan diri sendiri. Jika benar bahwa stereotip laki-laki (yakni, orientasi budaya maskulin) menggunakan bahasa "untuk menegaskan posisi dominasi", sedangkan wanita (yaitu, orientasi budaya feminin) menggunakan bahasa untuk menciptakan dan memelihara hubungan kedekatan, maka ini juga harus tercermin dalam diri pribadi  untuk menghindari kendala dalam percakapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-1066889605524792212?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/1066889605524792212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=1066889605524792212' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/1066889605524792212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/1066889605524792212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/10/teori-menghindari-kendala-dalam.html' title='KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-5115662862694791359</id><published>2009-10-23T22:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:10:40.369-07:00</updated><title type='text'>foto DJ ikom 08</title><content type='html'>&lt;a href="http://http://picasaweb.google.com/riefikom.utm/IlmuKomunikasiUniversitasTrunojoyo#"&gt; dokumentasi diklat jurusan Ilmu Komunikasi UNIJOYO 2008&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-5115662862694791359?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/5115662862694791359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=5115662862694791359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/5115662862694791359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/5115662862694791359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/10/foto-dj-ikom-08.html' title='foto DJ ikom 08'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-4127574082069190825</id><published>2009-09-11T23:21:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T23:22:11.736-07:00</updated><title type='text'>belajar menyablon</title><content type='html'>PROSES CETAK DENGAN SABLON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan-peralatan yang harus ada untuk menyablon, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Screen (kain gasa terbuat dari Polyster/Nylon)&lt;br /&gt;2. Rakel (alat sapu terbuat dari karet sintetis)&lt;br /&gt;3. Obat Afdruk (cairan kental/emilsion)&lt;br /&gt;4. Mika (alat pemoles obat afdruk)&lt;br /&gt;5. Sinar Matahari/Kotak Lampu (penyinaran saat mengafdruk)&lt;br /&gt;6. Busa (untuk mengepress film pada screen)&lt;br /&gt;7. Semprotan Air (pengembang gambar hasil afdruk)&lt;br /&gt;8. Meja Sablon&lt;br /&gt;9. Tinta/Cat (khusus sablon)&lt;br /&gt;Tiga teknik dasar dalam menyablon, yaitu: pertama, Tehnik membuat film sablon, kedua, tehnik mengafdruk screen, ketiga, tehnik menyablon segala dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TEHNIK MEMBUAT FILM&lt;br /&gt;Film sablon adalah sebuah gambar/tulisan yang dibuat dengan manual atau di setting komputer. Film tersebut merupakan "master" yang akan digunakan dalam keperluan cetak sablon. Tanpa film ini pengerjaan sablon tidak dapat dilakukan, Ada 4 jenis film sablon:&lt;br /&gt;1.Film Repro Film ini banyak digunakan oleh kalangan profesional sablon karena kwalitasnya sangat bagus untuk menghasilkan afdrukan yang sempurna. Pembuatan film ini menggunakan mesin pembuat repro hasilnya lebih trasparan dan lebih hitam pekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Film Kalkir Pembuatan film ini cukup praktis, dengan mengeprint dari komputer dengan kertas kalkir atau difotocopy dengan kertas kalkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Film Minyak Film ini cukup digemari karena berbiaya murah dan praktis. cukup dengan melumuru kertas dengan minyak goreng kemudian dikeringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Film Kertas Potong Biasanya film ini dipergunakan untuk membuat cetakan sablon spanduk karena media cetaknya cukup besar, bahan filmnya terbuat dari kertas potong. Proses pembuatannya cukup sederhana: kertas yang sudag dibuat tulisan/gambar langsung di potong dengan pisau cutter sehinggan tiap-tiap huruf/gambar berlubang.&lt;br /&gt;Untuk membuat cetakan sablon berwarna, buatlah film sebanyak warna yang dikehendaki mengikut pola gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. TEHNIK MENGAFDRUK SCREEN&lt;br /&gt;Proses pengafdrukan merupakan proses yang sangat penting dan menetukan bagi hasil sebuah pekerjaan sablon. Bila hasil afdrukannya baik maka besar kemungkinan akan bagus hasil sablonannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afdruk adalah sebuah proses penduplikasian dari gambar/tulisan film ke dalam screen. apapun gambar/tulisan yang ada pada film akan terlihat sama pada screen setelah melalui proses pengafdrukan. ada dua cara mengafdruk screen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Dengan Matahari&lt;br /&gt;2. Dengan kotak Lampu Neon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kerja kedua cara tersebut sama saja yaitu mengexpose (menyinari) yang telah dipolesi dengan obat afdruk "emulsion" untuk menimbulkan gambar/tulisan ke screen melalui pencahayaan. &lt;br /&gt;Ada 2 macam emulsion yang digunakan untuk mengafdruk screen, pertama jenis solven untuk jenis non kain dan jenis Water Base untuk menyablon kain atau kaos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 9 langkah mengafdruk screen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mencampur Emulsion (obat Afdruk) dan SR/ cairan kuning yang ada dalam kemasan Emulsion. Obat yang sudah dicampur dengan cairan kuning tidak bisa disimpan lama, oleh sebab itu pergunakan secukupnya. Tuangkan Emulsion kedalam wadah kemudian masukan cairan kuning/SR 1:9, aduk hingga benar-benar menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memoles screen secara merata dengan Emulsion yang telah diaduk dengan SR. Pastikan Screen bersih, kering dan bebas abu. oleskan screen dengan menggunakan Mika, lakukan pemolesan dengan rata pada bagian luar dan dalam screen, tidak boleh ketebalan atau ketipisan dalam pemolesan Emulsion di screen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengeringakan screen diruangan tertutup atau gelap. pengeringan boleh dengan Hair Dryer, kipas angin. Peringatan!!! proses ini hanya dilakukan dalam ruangan tertutup yang gelap, jika terkena sinar cahaya terang akan mengakibatkan gagalnya pengafdrukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika sudah kering (masih tetap dalam ruangan tertutup), letakkan film diatas screen secara terbalik. Lapiskan dengan kaca bening, dibawah screen diberi busa (sesuai besar ukuran screen) lalu tekan dan jemur di ruangan terbuka (tersinar matahari) selama 5-20 detik tergantung teriknya matahari, ingat jangan terlalu lama karena akan berakibat gagal afdruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Proses pengafdrukan dengan menggunakan kotak lampu neon juga sama seperti diatas. Penyinaran menggunakan lampu hendaknya harus benar-benar terang. Gunakan lampu neon/TL 3-4 batang minimal 20 watt/ batang. penyinaran dilakuakan diatas kotak lampu yang dilapisi kaca setebal 5 milimeter, lamanya penyinaran berkisar 5-8 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Selanjutnya adalah pengembangan gambar dari hasil penyinaran. Caranya screen yang sudah di sinari matahari atau lampu segera disiram dengan air bersih dala dan luar screen, untuk menyempurnakan diperlukan semprotan air agar gambar/tulisan lebih jelas terlihat. Dalam penyemprotan awal tidak boleh terlalu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Setelah pencucian screen dianggap selesai maka screen harus dijemur diterik matahari hingga benar-benar kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jika dalam proses pengafdrukan ada kecacatan sedikit (tidak mengganggu gambar atau tulisan, maka proses selanjutnya adalah penambalan dengan sisa Emulsion dan dikeringkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Proses selanjutnya adalah finising, priksa sekali lagi jangan sampai ada kebocoran di screen. Agar tidak belepotan dalam pengerjaan sablon, tutuplah pinggir-pinggir screen (kayu didalam) dengan Lakban, hal ini juga untuk mengantisipasi kebocoran pada ujung-ujung kayu screen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PROSES PENYABLONAN&lt;br /&gt;Siapkan screen yang akan digunakan pastikan screen  dalam keadaan kering dan bersih dari kotoran yang dapat mengganggu resapan cat dalam pori-porinya, letakkan screen pada meja sablon dan kancing catok dengan kencang agar tidak bergeser. Dan siapkan cat yang akan digunakan, cat yang sudah dicampur dengan M3 atau pengencer cat pada cat kertas sampai cat tidak terasa kental, akan tetapi juga tidak boleh terlalu encer . setelah cat sudah dicampur dengan pengencer  cat yakni M3 yang takarannya sudah tepat baru cat dituangkan keatas screen, dan saputlah cat yang sudah ada discreen dengan metode naik turun keatas medan yang sedang di sablon.&lt;br /&gt;Pada perinsipnya menyablon apapun adalah sama saja cara pengerjaannya, dari pembuatan film, mengafdruk sampai mencetak dengan screen. Hanya harus diperhatikan adalah perbedaan jenis screen dan catnya, hal ini tidak boleh tertukar, sebab jika tertukar maka tidak akan membuahkan hasil.&lt;br /&gt;Jenis-jenis screen menurut kegunaanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Untuk menyablon kaos/kain maka screen yang cocok digunakan adalah screen yang berpori-pori kasar dengan type screen T48, T54, T61, T77 dan T90.&lt;br /&gt;• Untuk menyablon kertas, plastik, sticker,PVC dll, screen yang cocok digunakan adalah jenis screen sedang dan halus dengan type screen T120, T150, T165, S180 dan S200.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-4127574082069190825?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/4127574082069190825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=4127574082069190825' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/4127574082069190825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/4127574082069190825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/09/belajar-menyablon.html' title='belajar menyablon'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-3999548592254882552</id><published>2009-07-13T04:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T05:04:14.588-07:00</updated><title type='text'>"ANALISA SEMIOTIK PADA IKLAN SBY – BOEDIONO” ( VERSI HARIAN KOMPAS PERIODE MEI - JULI 2009 )</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Dalam era demokrasi indonesia yang muda ini persaingan para calon presiden pada pemilu 2009 seperti kita ketahui bersama, bahwa ada 3 pasangan Capres – Cawapres yang akan bertarung di Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. Mereka adalah Mega – Prabowo, SBY – Boediono, dan JK – Wiranto. Masing-masing kandidat berkompetisi membangun citranya untuk mengukuhkan pencitraan dirinya. Dalam membangun pencitraan, para kandidat dibantu oleh tim sukses dan konsultan pencitraan. Pesan yang dibangun dalam membangun citra, para tim sukses menggunakan berbagai media. Pesan verbal dan visual dikemas dalam bentuk iklan politik menggunakan iklan koran, televisi, dan radio. Belum puas dengan itu, mereka pun melakukan pencitraan melalui baliho, spanduk, umbul-umbul, poster, dan pamflet kepada calon pemilih yang semakin pintar sekarang ini, limpahan informasi dan terbukanya peluang untuk mengakses informasi membuat masyarakat pemilih makin kritis dan selektif dalam memilih calon presiden maupun wakil presiden. Agar dapat unggul dalam persaingan, salah satu cara yang digunakan oleh para calon presiden dan pasangannya adalah dengan kemampuan mengelola dan menyampaikan informasi dari kedua pasangan (capres) tersebut yang nantinya diharapkan terjadi pencitraan baik pasangan calon presiden dan wakilnya dari masyarakat pemilih dimana salah satu wujudnya adalah melalui kegiatan pengiklanan (advertising). Dalam kaitan ini, iklan politik telah menjadi alat utama para kandidat Capres dan Cawapres untuk menyampaikan program dan mempresentasikan “diri mereka” kepada audiens. Bahkan masing-masing kandidat Capres bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah demi mengiklankan dirinya untuk menarik simpati kepada calon pemilih.&lt;br /&gt;Pengiklanan yang tepat sasaran (efektif) dapat digunakan oleh para calon presiden dan wakinya dan biro iklan untuk mempengaruhi persepsi dan preferensi masyarakat pemilih terhadap para pasangan calon anggota presiden peserta pemilu 2009 yang pada akhirnya juga menjadi salah satu faktor penting dalam proses pengambilan keputusan oleh masyarakat untuk memilih salah satu pasangan calon presiden. Selain sebagai alat penyampaian pesan (informasi), advertising yang dilakukan haruslah mampu bersaing dengan berbagai kegiatan periklanan para calon presiden dan calon wakil prsiden yang lainnya untuk memenangkan minat masyarakat serta mempertahankan image pasangan calon presiden itu sendiri. Membicarakan image sama halnya dengan pekerjaan bagaimana anda membangun citra atau persepsi seseorang dibenak khalayak. Image adalah persepsi yang paling menonjol. Kandidat yang memiliki citra baik dimata masyarakat, serta program-program yang ditawarkan lebih jelas dan tidak muluk-muluk relatif lebih bisa diterima oleh masyarakat. &lt;br /&gt;Pada konteks iklan politik, citra bisa dibuat sedemikian rupa. Citra kandidat yang sebelumnya tidak baik bisa menjadi baik. Namun sejatinya citra tidak bisa direkayasa. Citra positif akan terbentuk jika dalam pelakasanaannya ia bekerja keras merealisasikan janji-janjinya sehingga hal iti yang akan mengangkat namanya kelak. Namun karena kecanggihan para konsultan pencitraan, iklan yang ditampilkan benar-benar bisa membalik semuanya. Citra dibentuk oleh para konsultan pencitraan sehingga komunikasi dan penyampaian program-program kandidat bisa tersampaikan kepada calon pemilih. Program kandidat merupakan salah satu kunci penting untuk mendapat citra yang positif. Iklan politik juga mempunyai kemampuan mempengaruhi audiens baik secara langsung maupun tidak langsung biasanya iklan politik memnggunakan dua tingkatan informasi yang disampaikan yakni Pertama, Iklan politik menyebarkan informasi mengenai visi, misi dan platform kandidat ke dalam detail dimana wartawan jarang melakukannya. Kedua, karena iklan politik berada dalam dunia perdagangan, periklanan tidak hanya ditujukan untuk memberikan informasi kepada audiens, tetapi juga dirancang untuk membujuk (to persuade). Dengan demikian, periklanan politik mempunyai keuntungan yang jelas bagi kandidat, yakni kemampuannya dalam menjangkau audiens yang luas dan dalam melakukan persuasi terhadap mereka. Selain itu, di atas segalanya, kontrol atas materi publikasi berada di tangan politisi dan bukan pada media.&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut disadari oleh masing – masing tim kampanye calon presiden dan calon wakil presiden peserta pemilihan presiden (pilpres) 2009. Termasuk juga tim kampanye pasangan calon presiden susilo bambang yudoyono dengan pasangannya boediono, yang sering disebut “SBY – BOEDIONO” walaupun sebelumnya mereka menggunakan sebutan “SBYberbudi” pada awal pencalonan mereka, dan kini menggunakan singkatan dari nama pasangan calon presiden tersebut yakni “SBY – BOEDIONO”  dalam pengiklanannya yang diback up oleh Fox Indonesia dan dikomandoi Rizal Malaranggeng. yang menggunakan media pengiklan sebagai salah satu media promosi pasangan calon persiden tersebut kepada masyarakat pemilih. Untuk iklan politik di media koran, diawali dari iklan SBY yang dicitrakan sebagai pemimpin keluarga yang berhasil membangun keluarga yang harmonis serta diakhir waktu kampanye diperkuat dengan jingle iklan mie instan yang dirubah menjadi jingle SBY Presidenku.&lt;br /&gt;1.2. Rumusan masalah &lt;br /&gt;Bagaimanakah penanda, petanda dan tanda- tanda semiotik yang ada dalam iklan “SBY – BOEDIONO”  (versi iklan yang dipasang di kompas mulai bulan mei sampai bulan juli) yang membangun pencitraan mereka pada masyarakat pemilih.&lt;br /&gt;1.3. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt;Untuk menganalisa penanda, petanda dan tanda- tanda semiotik yang ada dalam iklan “SBY – BOEDIONO”  (versi kompas mulai bulan mei sampai bulan juli) yang membangun pencitraan mereka pada masyarakat pemilih.&lt;br /&gt;1.4. Kegunaan Penelitian &lt;br /&gt;1. Bagi penulis&lt;br /&gt; Meningkatkan pemahaman mengenai semiotika, petanda dan penanda dalam iklan “SBY – BOEDIONO”  (versi kompas mulai bulan mei sampai bulan juli).&lt;br /&gt;2. Bagi Dunia Periklanan Politik&lt;br /&gt; Sebagai salah satu sumbangan pemikiran tentang semiotika dalam sebuah iklan politik, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai evaluasi strategi bagi tim kampanye maupun para konsultan politik pada khususnya dan pada dunia periklanan khususnya.&lt;br /&gt;1.5. Batasan Masalah &lt;br /&gt; Pada penelitian ini peneliti hanya mencari makna penanda, petanda dan tanda- tanda semiotik yang ada pada iklan “SBY – BOEDIONO”  (versi kompas mulai bulan mei sampai bulan juli 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;br /&gt;2.1 Pengertian Iklan &lt;br /&gt;Kata Iklan sendiri berasal dari bahasa yunani, yang artinya adalah upaya menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian secara komprehensif atau luas adalah semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang ataupun jasa secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu. Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.&lt;br /&gt;Menurut pakar periklanan dari Amerika, S. William Pattis iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang atau pembeli yang potensial. Tujuannya adalah mempengaruhi calon konsumen untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. Pengertian lainnya, iklan adalah seni menyampaikan apa yang ditawarkan atau dijual untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan produk secara unik kedalam pikiran konsumen dengan alat bantu Secara spesifik, terdapat perbedaan dan persamaan antara iklan dan periklanan. Persamaannya adalah bahwa keduanya merupakan pesan yang ditujukan kepada khalayak. Perbedaannya yaitu iklan lebih cenderung kepada produk atau merupakan hasil dari periklanan, sedangkan periklanan merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan. iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang untuk suatu produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan cepat. Disadari atau tidak, iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat berlalu begitu cepat. Iklan sangat unik karena iklan dapat mencapai tujuan meskipun disampaikan dengan panjang lebar dan terkadang membingungkan. Karena kita membayar iklan maka kita dapat memilih media yang sesuai untuk pemasangan atau penayangan iklan, sehingga pesan di dalamnya dapat sampai pada kelompok sasaran yang dituju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Pengertian Iklan Politik &lt;br /&gt; Semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan individu maupun partai mereka, secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu. Dan berisikan muatan-muatan politik, seperti berisikan profil pribadi tokoh elit partai tersebut yang nantinya akan membangun minat pilih masyarakat akan diberikan kepada calon tersebut yang lebih dikenal masyarakat sehingga nantinya suara atau hak pilih masyarakat terebut diberikankepada orang yang sering melihat iklan tersebut. Dan kepercayaan individu kaepada calon anggota legislatif maupun kepada partai akan tercipta sehingga hak pilih orang tersebut akan diberikan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;2.3 Teori Semiotik Ferdinand de Sorce&lt;br /&gt; Semiotik secara etimologi berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ”tanda”. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan bentuk dari tanda- tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.&lt;br /&gt;Pengertian di atas sejalan dengan apa yang dekemukakan oleh Ferdinand de Saussure yang mendefinisikan semiotika (semiologi) sebagai ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Secara implisit dari pengertian ini menunjukkan relasi bahwa bila tanda adalah bagian kehidupan sosial, maka tanda merupakan bagian dari aturan-aturan yang berlaku (kode). Ada system tanda (sign system) dan social system yang saling berkaitan, inilah yang disebut sebagai konvensi sosial (social convention) yang mengatur tanda secara sosial, yaitu pemilihan, pengkombinasian dan penggunaan tanda-tanda dengan cara tertentu, sehingga ia mempunyai makna dan nilai sosial. Menurut Saussure tanda mempunyai dua entitas, yaitu signifier dan signified atau wahana tanda dan makna atau penanda dan petanda (signifier+signified= sign).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian&lt;br /&gt; Pada penelitian kali ini yang berudul “analisa semiotik pada iklan SBY-BOEDIONO” (versi kompas mulai bulan mei sampai bulan juli 2009). Menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, karena pendekatan kualitatif peneliti anggap lebih cocok digunakan dalampenelitan kali ini yakni penggalian interpretasi subyek yang diteliti jika dibandingkan denganpenelitian kualitatif yang mempunyai studi awal dalam penelitian namun pada kuaitatif cukup dengan menggunaan penggalian interpretamen tadi, selain itu penelitian kualitatif lebih dekat dengan apa yang akan diteliti dan data - data yang dimunculkan atas dasar data empirik sipeneliti, begitupun dengan klaim terhadap hasil penelitian ini yang masih dicari peneliti.&lt;br /&gt; Penelitian ini menggunakan data sekundair berupa data pendukung yang diperoleh melalui literatur – literatur yang berhubungan dengan penelitian. Data sekunder berupa data tentang iklan – iklan yang dikunpulkan peneliti yakni berupa bagian lenmbaran koran kompas edisi bulan mei sampai bulan juli 2009. &lt;br /&gt;3.2 Kehadiran Peneliti&lt;br /&gt;Peneliti disini bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data yang mana peneliti  terjun langsung ketempat penelitian. Mulai dari pencarian rumusan masalah yang akan diteliti sampai terjun langsung kepada tempat penelitian.dan peranan peneliti sebagai pengamat penuh terhadap iklan yang diteliti kepada subyek. Di samping itu kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek yang diteliti. &lt;br /&gt;3.3 Waktu dan Tempat &lt;br /&gt; Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 juli 2009 bertempat di fakultas ilmu sosial dan ilmu budaya universitas trunojoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV &lt;br /&gt;ANALISA DATA&lt;br /&gt;4.1 Iklan Kompas 27 Mei 2009&lt;br /&gt; Pada iklan yang pertama ini terdapat foto SBY bersama keluarganya yakni terdiri dari istri,anak, menantu,cucu tak ketinggalan foto SBY sedang bersama ibunya. Mulai dari foto pertamanya yakni foto sby bersama istri dan kedua anaknya (sebagai penanda) dan petandanya adalah keakraban keluarga kecil ini yang harmonis dan bersahabat&lt;br /&gt; Foto yang kedua yakni foto sby bersama istri anak dan menantunya saat berlibur (penanda), petandanya keakrabpan yang terjalin dan kebersamaan diantara satu dengan yang lainnya, sby sebagai presiden masih bisa memposisikan dirinya dihadapan anak,istri dan menantunya.&lt;br /&gt; Foto keluarga sby bersama cucu pertamanya (sebagai penanda), petandanya sby sebagai presiden yang senang atas kelahiran  cucu pertamanya dan beliau masih juga mepunyai waktu untuk keluarganya.&lt;br /&gt; Foto Sby yang sedang ersalaman kepada ibunda tercinta (sebagai penanda), petandanya sebagai kepala negara sby tidak melupakan kewajibannya sebagai anak dari orang tuanya.&lt;br /&gt; Foto sby yang duduk berdampingan dengan anak, istri dan menantunya (sebagai penanda), petandanya sebagai orang nomer satu diindonesia masih bisa duduk bersama keluarganya dan kelihatan harmonis. &lt;br /&gt; Foto sby bersama keluarga dan istrinya yang menggendong cucu pertamanya (sebagai penanda), petandanya yakni keharmonisan tetap terjaga diantara mereka semua.&lt;br /&gt; Foto senyum cucu sby (sebagai penanda), petandanya yaitu sebagai presiden sby bisa merawat cucu pertamanya hngga tumbuh sehat.&lt;br /&gt; Foto sby bersama anak,istri, dan ibunya terlihat khusyuk sekali saat berdoa (sebagai penanda), petandanya sby dihadapan keluarganya bisa menjadi sosok pemimpin bagi keluarganya.&lt;br /&gt;4.2 Iklan Kompas 3 Juni 2009&lt;br /&gt; Foto SBY – BOEDIONO yang berlatar belakang rakyat pendukungnya (sebagai penanda), petandanya yakni dengan poster yang dibawa pendukungnya menginterpretasikan dukungan rakyat kepada SBY dan mereka masih menginginkan pemerintahan sby untuk dilanjutkan karena beliau dianggap berhasil memimpin indonesia lima tahun terakhir ini. Dan rakyat menginginkan dilanjutkan pemerintahan belaiu ini. Selain pemerintahan yang bersih dari korupsi dan bisa membuat indonesia lebih maju lagi.&lt;br /&gt;4.3 Iklan Kompas 29 Juni 2009&lt;br /&gt; Foto SBY – BOEDIONO yang tersenyum dengan dilatar belakangi rumah sby waktu masih pacitan dan foto mereka sewaktu masih menadi anak rakyat biasa dengan penentuan warna hanya hitam dan putih saja (sebagai penanda), petandanya mereka pasangan calon presiden dan wakil presiden ini yang mereka dulu berasal dari rakyat biasa dan mereka akan mengabdikan diri mereka untuk rakyat juga, yang mengambarkan kehidupan mereka dulu yang sama – sama dari rakyat biasa.&lt;br /&gt;4.4 Iklan Kompas 4 Juli 2009 &lt;br /&gt; Foto SBY – BOEDIONO tersenyum dengan latar belakang kibaran bendera merah putih (sebagai penanda), petandanya mereka berdua siap mengibarkan bendera merah putih selama pemerintahan mereka dan akan terus memajukan indonesia dan memakmukan rakyatnya.&lt;br /&gt; Foto pendukung mereka membawa bendera berwarna – warni berada dibawah bendera merah putih (sebagai penanda), mulai dari sabang sampai merauke, dari miangas sampai pulau rote dengan pilihan partai yang berbeda- beda tetapi mereka tetap satu pilihan presiden mereka yaitu SBY – BOEDIONO. &lt;br /&gt; Pemilihan bendera warna – warni (sebagai penanda), sebagai penandanya yakni tidak peduli apa partai pilihan masyarakat yang penting presidennya tetap SBY – BOEDIONO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt; Pada setiap iklannya sby mempunyai skenario dalam penerbitannya, mulai dari iklan pertama pada 27 Mei 2009 yang menggambarkan sby sebagai sosok sahabat bagi keluarganya, dan sebagai orang nomer satu diindonesia SBY masih bisa duduk bersama keluarganya dan kelihatan harmonis bahkan masih bisa meluangkan waktunya untuk cucu pertamanya, dan sebagai anak SBY tidak lupa akan kodrat itu bahwa dia harus tetap menghormati dan meminta do’a restu disetiap tindakannya kepada ibunda tercinta, pada iklan pertama ini sby membangun citranya sebagai sosok yang bersahabat dengan keluarga walaupun beliau seorang presiden. Diiklan berikutnya sby menggambarkan sosoknya yang berdampingan dengan boediono dengan dukungan dari masyarakat pemilihnya. Iklan ketiga SBY – BOEDIONO menggambarkan diri mereka yang berasal dari rakyat biasa dari anak orang kampung, dengan maksud mendekatkan diri mereka dimata rakyat biasa bahwa mereka ini juga berasal dari golongan rakyat biasa. Dan iklan terakhirnya mereka yang digambarkan pendukungnya yang membawa bendera berbeda – beda, yakni dengan tujuan berbeda – beda partainya mereka tetap memilih   SBY – BOEDIONO sebagai calon presiden dan wakil presiden pilihan mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-3999548592254882552?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/3999548592254882552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=3999548592254882552' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3999548592254882552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3999548592254882552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/07/analisa-semiotik-pada-iklan-sby.html' title='&quot;ANALISA SEMIOTIK PADA IKLAN SBY – BOEDIONO” ( VERSI HARIAN KOMPAS PERIODE MEI - JULI 2009 )'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-6448185138187226652</id><published>2009-07-10T05:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-10T05:33:52.500-07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Pemasangan Iklan Politik Luar Ruangan Terhadap Minat Pilih Masyarakat (studi kasus minat pilih tukang becak dikabupaten bojonegoro)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Perkembangan media informasi di Indonesia dewasa ini memperlihatkan kemajuan yang cukup pesat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya stasiun televisi, stasiun radio, serta majalah dan surat kabar baik yang cakupannya lokal ataupun nasional yang menyebar ke pelosok nusantara. Hal ini juga disebabkan kebutuhan masyarakat akan informasi yang terus mengalami peningkatan. Kebutuhan masyarakat inilah yang kemudian juga mendorong tiap-tiap institusi media untuk lebih profesional dan terampil dalam mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, pendapat, pemikiran dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau merek, tujuan periklanan ini bermuara pada upaya untuk dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli sebuah produk yang ditawarkan. Kata Iklan sendiri berasal dari bahasa yunani, yang artinya adalah upaya menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian secara komprehensif atau luas adalah semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang ataupun jasa secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu. Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.&lt;br /&gt;Menurut pakar periklanan dari Amerika, S. William Pattis iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang atau pembeli yang potensial. Tujuannya adalah mempengaruhi calon konsumen untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. Pengertian lainnya, iklan adalah seni menyampaikan apa yang ditawarkan atau dijual untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan produk secara unik kedalam pikiran konsumen dengan alat bantu Secara spesifik, terdapat perbedaan dan persamaan antara iklan dan periklanan. Persamaannya adalah bahwa keduanya merupakan pesan yang ditujukan kepada khalayak. Perbedaannya yaitu iklan lebih cenderung kepada produk atau merupakan hasil dari periklanan, sedangkan periklanan merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan. iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang untuk suatu produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan cepat. Disadari atau tidak, iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat berlalu begitu cepat. Iklan sangat unik karena iklan dapat mencapai tujuan meskipun disampaikan dengan panjang lebar dan terkadang membingungkan. Karena kita membayar iklan maka kita dapat memilih media yang sesuai untuk pemasangan atau penayangan iklan, sehingga pesan di dalamnya dapat sampai pada kelompok sasaran yang dituju. &lt;br /&gt;5 elemen yang dapat mengkategorikan bahwa iklan itu bagus denagn memenui beberapa kriteria dibawah ini:&lt;br /&gt;1. Attention (perhatian)&lt;br /&gt;2. Interest (minat)&lt;br /&gt;3. Desire (kebutuhan)&lt;br /&gt;4. Conviction (keinginan)&lt;br /&gt;5. Action (tindakan)&lt;br /&gt;konsumen untuk kenikmatan dan gaya hidup. Dalam elemen Attention, iklan harus mampu menarik perhatian khalayak sasaran. Untuk itu, iklan membutuhkan bantuan ukuran, penggunaan warna, tata letak, atau suara-suara khusus. &lt;br /&gt;Untuk elemen Interest, iklan berurusan dengan bagaimana konsumen berminat dan memiliki keinginan lebih jauh. Dalam hal ini konsumen harus dirangsang agar mau membaca, mendengar, atau menonton pesan-pesan yang disampaikan. Selain itu, iklan juga harus memiliki komponen Desire, yaitu mampu menggerakkan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk tersebut. Setelah itu, iklan juga harus mempunyai elemen Conviction, yang artinya iklan harus mampu menciptakan kebutuhan calon pembeli. Konsumen mulai goyah dan emosinya mulai tersentuh untuk membeli produk tersebut. Akhirnya, elemen Action berusaha membujuk calom pembeli agar sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian. Dalam hal ini dapat digunakan kata beli, ambil, hubungi, rasakan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam era yang serba over comunication iklan ini, penulis iklan harus cukup hati-hati. Banyak kalangan yang merasa alergi melihat iklan. Salah satu di antaranya karena iklan tersebut membosankan atau terlalu terkesan memaksa. Di sisi lain, kita juga perlu memperhatikan rencana strategi pemasaran secara umum. Tentu saja target iklan untuk produk baru, akan sangat berbeda dengan iklan untuk produk yang sudah lama melekat dalam benak konsumen. Begitu juga golongan target audience atau calon konsumen dan ciri fungsi produk dari iklan -- mempengaruhi pemakaian kata-kata yang akan dipakai. Bahasa yang dipakai untuk iklan yang target audience-nya anak-anak tentu berbeda dengan iklan yang target audience-nya orang dewasa laki-laki .Bahasa yang dipakai untuk iklan rokok tentu berbeda dengan iklan yang dipakai untuk iklan obat masuk angin. Untuk iklan obat masuk angin copywriter dapat menggunakan kata "segeralah minum obat X", namun untuk iklan rokok kata-kata itu tidak dapat digunakan. Di sini yang membedakan adalah ciri fungsi iklan. Obat masuk angin dipakai langsung untuk mengobati penyakit yang sering diidap oleh masyarakat&lt;br /&gt;Seperti definisi politik, definisi komunikasi politik juga terdapat keberagaman. Misal, Dan Nimmo mendefinisi komunikasi politik sebagai kegiatan komunikasi yang berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Definisi ini menggunakan pendekatan konflik, dan biasanya meliputi hubungan antar partai politik, antar pemerintah atau antar bangsa yang berhubungan dengan bidang politik.   Roelofs (dalam Sumarno &amp; Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif). Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”. Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. &lt;br /&gt;Efektivitas iklan sebagai komunikasi massa menjalar ke ranah politik Indonesia. Jelang pilpres Juli nanti iklan-iklan politik kian menjamur dan semakin tumbuh subur di tengah masyarakat konsumen Indonesia. Tokoh-tokoh politik menyadari betul bahwa iklan politik dapat mengorganisir wacana secara massif dan efisien. Para agen pemasaran dan biro iklan menciptakan sistem makna, gengsi dan identitas dengan mengasosiasikan produk (baca: tokoh) mereka dengan gaya hidup, nilai simbolik dan kepuasan tertentu, demi suatu pencitraan.&lt;br /&gt;Pencitraan adalah strategi dasar dalam memperoleh kekuasaan. Instrumen yang digunakan biasanya dengan daya politik. Sehingga tidak ada hal apapun yang tidak bisa di politisasi, termasuk iklan. Melalui iklan, profil dan program seorang calon presiden menjadi terwakili oleh durasi waktu yang ditampilkan. Perang opini dan perang citra bermetamorfosis menjadi perang iklan politik. Menyerang, defensif, justifikasi adalah muatan yang sering dipakai sebagai bumbu penyedap iklan. Masyarakat disuguhkan pertikaian politik yang panjang dan melelahkan, sementara capres beserta jajaran suksesinya mempertontonkan kemampuannya bermanuver dalam retorika guna membangun serta mempertahankan popularitasnya.&lt;br /&gt;Situasi tersebut semakin nyaman ketika masyarakatpun “terbelah dua”. Sebagian kalangan sangat menggemarinya, ibarat menonton kompetisi sepakbola atau drama sinetron populer. Kelompok jenis ini gemar memantau dan mengikuti setiap acara yang mempertontonkan debat pihak-pihak yang berseteru. Ironisnya hanya sekedar gemar, namun “ogah” menentukan sikap. Sementara kelompok lain pada masyarakat, memilih untuk bersikap netral namun dalam pengertian yang pasif, masa bodoh, baginya yang terpenting mencontreng itu pun kalau terdaftar di DPT. Iklim demokrasi jelas merestui segala bentuk kampanye termasuk melalui media iklan, bahkan di Indonesia aturan tersebut di undang-undangkan. Iklan politik yang baik haruslah substansial, terarah, fokus terhadap suatu persoalan, memandang rekam jejak tetapi tidak menyerang karakter apalagi kepribadian. &lt;br /&gt;Elit politik harus memberi teladan yang baik dalam berdemokrasi, sebab seluruh proses pemilu 2009 adalah bahan rujukan bagi pelaksanaan demokrasi sampai di lapisan bawah struktur masyarakat. Jika dalam pemilihan kepala desa, ketua BEM mahasiswa, atau ketua kelas di sekolah diwarnai ricuh, atau permusuhan, maka itu adalah “turunan” dari perilaku elit politik di pentas demokrasi nasional.Setiap pagelaran demokrasi di Indonesia dalam skala besar semacam Pemilu 5 tahunan serta Pilkada memiliki korelasi bagi praktek berdemokrasi di tingkat bawah. Oleh karenanya elit politik harus meninggalkan cara berpolitik yang tidak elegan, kasar, dan tidak berjiwa besar. Ada tiga konsekuensi yang harus di tanggung oleh kaum elit politik jika menerapkan cara berpolitik demikian. &lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan media iklan adalah segala sarana komunikasi yang dipakai untuk mengantarkan dan menyebar luaskan pesan – pesan iklan. Pada prinsipnya, jenis media iklan dalam bentuk fisik dibagi kedalam dua kategori  yaitu media iklan cetak dan media iklan elektronik. Media cetak adalah media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan; bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas). Media cetak adalah suatu dokumen atas segala hal tentang rekaman peristiwa yang diubah dalam kata-kata, gambar foto dan sebagainya ( contoh : surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster. Sedangkan media elektronik adalah media yang proses bekerjanya berdasar pada prinsip elektronik dan eletromagnetis (contoh televisi, radio, internet). Diantara dikotomi media tersebut  ada satu media yang tidak termasuk dalam kategori keduanya yaitu media luar ruang (papan iklan atau billboard)&lt;br /&gt;Jika dilihat dari pekerjaan kreatifnya maka media iklan terbagi dua jenis yaitu :&lt;br /&gt;a. media lini atas (above the line) ; media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan, contoh ; televisi, radio, majalah, surat kabar.&lt;br /&gt;b. Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan, contoh : pamflet, brosur dan poster.&lt;br /&gt;Banyaknya iklan para tokoh politik yang dalam hal ini adalah para calon anggota legislatif (caleg) yang memasang iklan mereka dijalan-jalan protokol kabupaten bojonegoro,  iklan disini yaitu banner yang bergambarkan foto para calon anggota legislatif tersebut besampingan dengan logo partai bahkan tak sedikit dari para calon anggota legislatif tersebut yang memasang foto mereka berdampingan dengan foto  tokoh elit partainya. Disepanjang jalan kabupaten bojonegoro yang biasanya sepi dengan gambar-gambar, pada musim pemilihan anggota legislatif ini banner para calon anggota legislatif sudah menyebar di pinggir – pinggir jalan protokol kota.  Dan ditempat-tempat strategis di kabupaten bojonegoro seperti dikawasan terminal rajekwesi bojonegoro, kawasan alun-alun kota bojonegoro, kawasan pasar kota bojonegoro, dan didepan bravo swalayan . tempat –tempat tersebut merupakan tempatyang biasanya rame dengan iklan-iklan produk yang di promosian, kini telah berubah menjadi media promosi para calon, anggota legislatif    kabupaten bojonegoro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;        Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai  berikut : &lt;br /&gt;”Bagaimana pengaruh pemasangan iklan politik luar ruangan para calon anggota legislatif Periode 2009-2014 terhadap miat pliih para tukang becak dikabupaten bojonegoro”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt; Tujuan dari penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pengaruh pemasangan iklan politik luar ruangan para calon anggota legislatif Periode 2009-2014 terhadap miat pliih para tukang becak dikabupaten bojonegoro”. Begitu pula dengan tokoh politik dan partai politik mempromosikan individu mereka sendiri maupun partainya tentunya dengan tujuan agar masyarakat luas mengenal individu tersebut maupun partai politiknya, salah satunya media yang digunakan para elit politik maupun partai politik menggunakan iklan sebai media promosi mereka. Iklan merupakan sebuah proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan.&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;Manfaat teoritis penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan peneliti pada khususnya dan mahasiswa ilmu komunikasi pada umumnya mengenai periklanan, dan juga bermanfaat bagi para calon anggota legislatif tentunya agar penyamain iklan politik mereka dimengerti oleh khalayak umum, dan para calon anggota legislatif juga bisa mengetahui efektif tidaknya sebuah media periklanan politik yakni media politik luar ruangan (banner). Sehingga pesan politik mereka tersampaikan kepada khalayak dan mampu mempengaruhi khalayak.&lt;br /&gt;2. Manfaat Praktis&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada calon anggota legislatif yang ingin membuat iklan politik luar ruangan (banner), sehingga mereka bisa mengetahui keefktifan dari media tersebut, sebelum mereka menggunakan media tersebut untuk menyampaikan iklan politik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Komunikasi &lt;br /&gt;       Terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial. Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang yang saling berhubungan satu sama lain yang karena berhubungan, menimbulkan interaksi sosial. Terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi. Komunikasi dalam pengertian umum dapat dilihat dari dua segi yakni:&lt;br /&gt;a. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis &lt;br /&gt;            Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Arti communis disini adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal (Joseph Devito, 1997: 215). Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat   terdapat  kesamaan    makna    mengenai     suatu   hal  yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak komunikatif.  b. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis &lt;br /&gt;            Menurut Uchjana (1992: 321) secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi,  yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu, komunikasi yang dimaksudkan disini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human communication, yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau komunikasi antar manusia. &lt;br /&gt;            Secara pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi atau film, maupun media non-massa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman,  poster, spanduk dan sebagainya. Mengenai pengertian komunikasi secara paradigmatis bersifat intensional, mengandung tujuan, karena itu harus dilakukan dengan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu, tergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada  orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. &lt;br /&gt;       Komunikasi merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil tidaknya fungsi-fungsi di dalam kerja. Agar pekerjaan rutin dalam kerja berjalan dengan lancar, dibutuhkan adanya beberapa keahlian yang dimiliki oleh personel dalam kerja. Agar pelaksanaan personel kerja tersebut dapat berhasil dengan baik, maka salah satu faktornya adalah memperhatikan hubungan dari setiap unit kerja maupun orang-orangnya, agar dapat ditumbuhkan kerja sama dalam kerja. Kebutuhan akan komunikasi memang merupakan masalah yang fundamental bagi setiap manusia. Oleh karena itu komunikasi sebagai alat ekspresi dari tiap keinginan manusia, baik secara kelompok maupun individu. Pengertian komunikasi yang diungkapkan oleh Dahn Suganda adalah komunikasi adalah sebagai proses transfer dari pikiran atau ide seseorang sebelumnya yang diterjemahkan dalam bentuk kata-kata  atau isyarat-isyarat, yang nantinya oleh penerimanya kata-kata atau isyarat- isyarat tersebut lalu diterjemahkan lagi melalui proses dalam pikiran kemudian jawaban sebagai feed back terhadap pesan yang disampaikan tadi (Dahn Suganda, 1981: 91). &lt;br /&gt;2. Pengertian komunikasi politik &lt;br /&gt;Definisi komunikasi politik juga terdapat keberagaman. Misal, Dan Nimmo mendefinisi komunikasi politik sebagai kegiatan komunikasi yang berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Definisi ini menggunakan pendekatan konflik, dan biasanya meliputi hubungan antar partai politik, antar pemerintah atau antar bangsa yang berhubungan dengan bidang politik.   Roelofs (dalam Sumarno &amp; Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif). Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengertian Iklan &lt;br /&gt;Kata Iklan sendiri berasal dari bahasa yunani, yang artinya adalah upaya menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian secara komprehensif atau luas adalah semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang ataupun jasa secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu. Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.&lt;br /&gt;Menurut pakar periklanan dari Amerika, S. William Pattis iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang atau pembeli yang potensial. Tujuannya adalah mempengaruhi calon konsumen untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. Pengertian lainnya, iklan adalah seni menyampaikan apa yang ditawarkan atau dijual untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan produk secara unik kedalam pikiran konsumen dengan alat bantu Secara spesifik, terdapat perbedaan dan persamaan antara iklan dan periklanan. Persamaannya adalah bahwa keduanya merupakan pesan yang ditujukan kepada khalayak. Perbedaannya yaitu iklan lebih cenderung kepada produk atau merupakan hasil dari periklanan, sedangkan periklanan merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan. iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang untuk suatu produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan cepat. Disadari atau tidak, iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat berlalu begitu cepat. Iklan sangat unik karena iklan dapat mencapai tujuan meskipun disampaikan dengan panjang lebar dan terkadang membingungkan. Karena kita membayar iklan maka kita dapat memilih media yang sesuai untuk pemasangan atau penayangan iklan, sehingga pesan di dalamnya dapat sampai pada kelompok sasaran yang dituju. &lt;br /&gt;4. Pengertian iklan politik &lt;br /&gt;Semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan individu maupun partai mereka, secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu. Dan berisikan muatan-muatan politik, seperti berisikan profil pribadi tokoh elit partai tersebut yang nantinya akan membangun minat pilih masyarakat akan diberikan kepada calon tersebut yang lebih dikenal masyarakat sehingga nantinya suara atau hak pilih masyarakat terebut diberikankepada orang yang sering melihat iklan tersebut. Dan kepercayaan individu kaepada calon anggota legislatif maupun kepada partai akan tercipta sehingga hak pilih orang tersebut akan diberikan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3..HIPOTESIS&lt;br /&gt; H0:  Adanya pengaruh pemasangan iklan poltik calon anggota legislatif terhadap minat pilih tukang becak dikabupaten bojonegoro.&lt;br /&gt; H1: Tidak ada pengaruh komunikasi pemasaran iklan poltik calon anggota legislatif terhadap minat pilih tukang becak dikabupaten bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;1.Metode penelitian yang digunakan&lt;br /&gt;Penelitian ini yang berudul pengaruh pemasangan iklan politik luar ruangan (banner) calon anggota legislatif terhadap minat pilih masyarakat (tukang becak dikabupaten bojonegoro). Peneliti kali ini menggunakan metode penelitian kuantitatif untuk mengidentifikasi masalah ini. Secara umum iklan politk banyak sekali media pengiklan yang digunakan para elit politik dan elit partai dalam mempromosikan tokoh tersebut dan partainya, secara umum media yang digunakan mulai dari media cetak dan audio visual, media outdoor maupun media indoor. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif karena keakuratanta dalam meneliti masalah ini itupun disebabkan karena masalah yang diteiliti ingin dijabarkan secara detail dan rinci.&lt;br /&gt;2.Desain Penelitian &lt;br /&gt;Memmberikan kusionner kepada para tukang becak di 5 tempat yakni di kawasan terminal rajekwesi bojonegoro, tukang becak diseputaran stasiun kota bojonegoro, tukang becak yang biasa mangkal di bravo swalayan dan para tukang becak di sekitar pasar kota bojonegoro. Variabel yang diteliti yakni minat pilih tukang becak tersebut terhadap pemilahan calon anggota legislatif kabupaten bojonegoro dapil 1 dan keefektifan media pengiklan luar ruangan tersebut.&lt;br /&gt;3. Waktu dan tempat penelitian &lt;br /&gt; Penelitian dilakukan mulai dari tanggal 5 agustus 2009 sampai dengan 25 desember 2009, bertempat di kabupaten bojonegoro.&lt;br /&gt;5.Teknik sampling&lt;br /&gt;Peneliti kali ini menggunakan Cluster Sampling (Penarikan Sampel kelompok) &lt;br /&gt;Populasi juga terdiri dari beberapa kelompok Sampel yang diambil berupa kelompok bukan individu atau anggota. &lt;br /&gt;Misalnya !!!!&lt;br /&gt;Antara tukang becak yang mangkal dikawasan pasar dengan dikawasan terminal pastinya berbeda iklan politik yang sering mereka lihat(foto CALEG).&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Di setiap kawasan terdapat 80 tukang becak jika dalam penelitian kali ini saya meneliti 5 kawasan yang tiap kawasan terdiri dari 80 tukang becak maka jumlah keseluruhan sampelnya adalah 480 tukang becak, dan dari setiap kawasan diambil 20 sampel saja yang mewakili tiap-tiap kawasan dengan data sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. 20 tukang becak dikawasan terminal RAJEKWESI bojonegoro. &lt;br /&gt;2. 20 tukang becak dikawasan alun-alun kota bojonegoro.&lt;br /&gt;3. 20 tukang becak dikawasan pasar kta bojonegoro.&lt;br /&gt;4. 20 tukang becak dikawasan stasiun bojonegoro.&lt;br /&gt;5. 20 tukang becak dikawasan bravo swalayan. &lt;br /&gt;1. Stratified Cluster Sampling ( Teknik sampling bertingkat dan Kluster) &lt;br /&gt;Teknik sampling campuran yang menggunakan teknik bertingkat dan kluster,maksudnya adalah sampel di ambil secara bertingkat dengan kelompok-kelompok setelah itu di ambil sampel lagi secara luas dan besar yaitu dengan teknik cluster.Keunggulan dalam teknik ini adalah data yang di ambil dari sampel dan menjadi populasi bisa mewakili dari beberapa daerah,namun kekurangan dari teknik ini adalah teknik ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang banyak sehingga kurang efisien dalam suatu penelitian.&lt;br /&gt;• contoh &lt;br /&gt;Populasi yang di jadikan sampel bertingkat dan kluster adalah tukang becak namun dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;- 20 tukang becak dikawasan terminal RAJEKWESI bojonegoro. &lt;br /&gt;- 20 tukang becak dikawasan alun-alun kota bojonegoro.&lt;br /&gt;- 20 tukang becak dikawasan pasar kota bojonegoro.&lt;br /&gt;- 20 tukang becak dikawasan stasiun bojonegoro.&lt;br /&gt;- 20 tukang becak dikawasan bravo swalayan.&lt;br /&gt;• Populasi ( N ) &amp; Bagian dari populasi ( n ) N  n&lt;br /&gt;Dari sampel tersebut adalah bertingkat dan kluster,bertingkat karena di bedakan dengan tempat biasa tukang becak mangkal ,sedangkan klusternya adalah umur dari tukang becak tersebut Hasil dari populasi tersebut adalah berbeda-beda umur maka erbeda juga data yang di peroleh misalnya saja tanggapan tukang becak tersebut terhadap caleg yang akan mereka pilih nenjadi wakil di gedung dewan. &lt;br /&gt;6.Teknik pengumpulan data&lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data secar sekunder yakni dengan cara menyebar kuesioner kepada sampel yang telah ditentukan. Dan peneliti terjun langsung kelapangan untuk meneliti .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-6448185138187226652?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/6448185138187226652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=6448185138187226652' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6448185138187226652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6448185138187226652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/07/pengaruh-pemasangan-iklan-politik-luar.html' title='Pengaruh Pemasangan Iklan Politik Luar Ruangan Terhadap Minat Pilih Masyarakat (studi kasus minat pilih tukang becak dikabupaten bojonegoro)'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-7991250786120975136</id><published>2009-05-28T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T05:08:48.126-07:00</updated><title type='text'>PENGERTIAN MARKETING COMMUNICATIONS</title><content type='html'>Marketing communications (marcom) adalah proses menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan -pelanggan dan merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Pemasaran &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-7991250786120975136?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/7991250786120975136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=7991250786120975136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7991250786120975136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7991250786120975136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/pengertian-marketing-communications.html' title='PENGERTIAN MARKETING COMMUNICATIONS'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-1943635582137279431</id><published>2009-05-18T00:04:00.001-07:00</published><updated>2009-05-18T00:43:59.448-07:00</updated><title type='text'>Perang politik dengan "JARGON"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERtWXuWXI/AAAAAAAAADc/1xsiLxKJezI/s1600-h/sby-boediono.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERtWXuWXI/AAAAAAAAADc/1xsiLxKJezI/s320/sby-boediono.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337066504207620466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERn10VFvI/AAAAAAAAADU/pIZjtzxbeww/s1600-h/mega-pro.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 209px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERn10VFvI/AAAAAAAAADU/pIZjtzxbeww/s320/mega-pro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337066409569883890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERhMEMTWI/AAAAAAAAADM/uheK4FXElS8/s1600-h/jk-win.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERhMEMTWI/AAAAAAAAADM/uheK4FXElS8/s320/jk-win.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337066295282912610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Pada pemilu presiden tahun 2009 ini ada jargon-jargon yang digunakan para calon presiden dan calon wakil presiden untuk mengenalkan diri mereka kepada pemilih, tentunya dengan alasan agar pemilih lebih mengenal mereka sehingga nanti rakyat memilih capres dan cawapres itu.pada musim pemilu kali ini tiga pasangan calon presiden dan wakil presidenyang kan bertarung pada pilpresyakni mohammad jusuf kalla - wiranto dengan jargonnya  (JK-WIN), megawati soekarno putri- prabowo subianto dengan jargonnya (MEGA-PRO), dan yang terakhir yakni Susilo bambang yudoyono- boediono dengan jargonnya (SBY-BOEDIONO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad jusuf kalla - wiranto dengan jargonnya  (JK-WIN) memilih jargon tersebut karena jufuf kalla dengan JKnya, pada pilpres tahun 2004 sudah banyak dikenal masyarakat luas, sedangkan pasangannya yakni wiranto mengambil kata WIN dijadikannya sebutan wiranto dengan tujuan masyarakat lebih mengenalnya lagi.Megawati dengan prabowo dengan jargon mereka MEGA-PRO. Susilo bambang yudoyono- boediono menggunakan sebutan SBY-Boediono karena lebih mudah dan orang luar Jawa itu tidak paham berbudi itu apa jadi mereka merubahnya dengan SBY-BOEDIONO.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-1943635582137279431?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/1943635582137279431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=1943635582137279431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/1943635582137279431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/1943635582137279431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/perang-politik-dengan-jargon.html' title='Perang politik dengan &quot;JARGON&quot;'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/ShERtWXuWXI/AAAAAAAAADc/1xsiLxKJezI/s72-c/sby-boediono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-7990369292767317167</id><published>2009-05-17T01:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T01:17:52.883-07:00</updated><title type='text'>Media Online</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sg_IKAU3h5I/AAAAAAAAAC8/8u4dMVuq4EA/s1600-h/kapanlagi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 90px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sg_IKAU3h5I/AAAAAAAAAC8/8u4dMVuq4EA/s320/kapanlagi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336704157669099410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sg_ICRUQp5I/AAAAAAAAAC0/xYLxCXZGo9U/s1600-h/logo_detikcom.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sg_ICRUQp5I/AAAAAAAAAC0/xYLxCXZGo9U/s320/logo_detikcom.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336704024791000978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Membuat media online menjadi profitable tak semudah yang dibayangkan. Banyak yang akhirnya harus gulung tikar. Karena itu, media online perlu mengerucutkan pasar dan segmentasi daripada meniru media serupa yang lebih dahulu stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Detik.com, misalnya. Kami butuh waktu sepuluh tahun untuk bisa stabil dan meraih keuntungan. Itu bukan pekerjaan mudah. Membuat media online sangat mudah. Tapi, membuatnya menguntungkan dan dapat terus bertahan itu yang sulit,'' kata Vice President of Publisher Group Detik.com Donny Budhi Utoyo dalam acara BNCC Nasional IT Talk Show (BITS) di Wisma Antara, Medan Merdeka Selatan, Jakarta, kemarin (16/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi bertema Kiat Netpreneur Masa Kini itu diadakan Bina Nusantara Computer Club (BNCC), Universitas Bina Nusantara (Binus). Turut hadir dalam acara tersebut Sri Khoironi dari Depkominfo E-Business Director, dan Business General Manager Kompas.com Edi Taslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donny mengatakan, beberapa waktu lalu sejumlah media online muncul. Mereka berambisi meniru media online lain yang sudah mapan. Bahkan, kekuatan dana besar digelontorkan untuk mencapainya. ''Mereka beriklan di televisi, memasang baliho di mana-mana. Promonya bertubi-tubi. Akhirnya sekarang, sudah tidak kedengaran lagi suaranya,'' ujar Donny yang juga dosen di Binus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia itu mengatakan, kekuatan dana memang perlu. Namun, itu tidak menjamin media online menguntungkan dan bisa survive. Sebab, yang lebih penting dari media online adalah keberlanjutan. Media yang besar karena didongkrak modal besar, biasanya napasnya tak panjang. Hanya mampu besar di awal. Apalagi, mereka biasanya berharap segera untung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Padahal, media online itu salah satu syaratnya sustainability atau keberlanjutan. Bisnis media itu bisnis maraton, bukan sprint. Medan yang harus dilalui panjang. Karena itu, butuh napas yang panjang juga,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan untuk media online pun, kata Donny, belum seberapa ramai. Jauh berbeda bila dibandingkan dengan media televisi dan cetak. ''Kita ini seperti masih dalam masa transformasi. Para pengiklan masih pikir-pikir. Kalau kita ngiklan di online apakah efektif. Yang benar-benar melihatnya berapa orang? Kalau cetak kan jelas berapa oplahnya, kalau online efektivitasnya belum terukur,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kata Donny, hal itu diperburuk dengan semakin banyaknya media online yang muncul. Pengiklan belum ramai, tapi media yang memperebutkannya semakin banyak. ''Bukan tidak mungkin media online akan menjadi red ocean (samudera merah, Red) karena persaingan yang tinggi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik, kata dia, media online mengambil segmen pasar berbeda dan spesifik. Tak perlu terlalu besar seperti Detik.com atau Kompas.com. Kalau perlu, membuat media online berskala lokal dengan berita seputar wilayah tersebut. ''Nah, nanti iklan diambil dari perusahaan-perusahaan lokal di situ,'' katanya. (aga/nw)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-7990369292767317167?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/7990369292767317167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=7990369292767317167' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7990369292767317167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7990369292767317167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/media-online.html' title='Media Online'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sg_IKAU3h5I/AAAAAAAAAC8/8u4dMVuq4EA/s72-c/kapanlagi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-5775881425415693681</id><published>2009-05-11T22:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T22:58:44.496-07:00</updated><title type='text'>10 Konsep dan Variabel (tentang komunikasi)</title><content type='html'>KONSEP                 VARIABEL&lt;br /&gt;1.stimulus             gambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.sosial               Masyarakat madani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.masyarakat           Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Kategori             Besar  atau kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Media                Telepon, televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Iklan                Outdoor , Indoor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Komunikasi           Verbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Menatap              Melirik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Intensitas           10 kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Teori komunikasi    Teori SOR, laswel&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-5775881425415693681?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/5775881425415693681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=5775881425415693681' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/5775881425415693681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/5775881425415693681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/10-konsep-dan-variabel-tentang.html' title='10 Konsep dan Variabel (tentang komunikasi)'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-8934002716106632287</id><published>2009-05-11T22:48:00.001-07:00</published><updated>2009-05-11T22:49:27.283-07:00</updated><title type='text'>Komunikasi Pemasaran (studi kasus HUMAS UNIJOYO)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pada masa sekarang ini perubahan paradigma lama dalam segala bidang, salah satunya adalah bidang komunikasi pemasaran. Semakin tingginya tingkat persaingan diantara perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swata secara nasional, pada era sekarang ini dan disahkannya undang-undang BHMN perguruan tinggi yakni negara tidak menanggung semua biaya pindidikan tersebut akan tetapi pihak perguruan tinggi harus mampu menopang kebutuhannya. Dan untuk menopang kegiatan itu pihak perguruan tinggi harus pintar memutar pikiran untuk mencukupi kebutuhannya. Dalam hal tersebut pihak perguruan tinggi harus bisa mendapatkan mahasiswa yang banyak agar kebutuhannya dapat terpenuhi. &lt;br /&gt;         Persaingan bisnis bukan hanya di bidang- bidang profit saja akan tetapi perguruan tinggi juga mempunya persaingan bisnis untuk memperebutkan mahasiswa-mahasiswa baru. Merek akan dihubungkan dengan citra khusus yang mampu memberikan asosiasi tertentu (brand association) dalam benak pelanggannya. Salah satu asset tak berwujud adalah ekuitas yang diwakili oleh merek.&lt;br /&gt;Bagi banyak perusahaan, merek dan segala yang mewakilinya merupakan asset yang paling penting, karena sebagai dasar keunggulan kompetitif dan sumber penghasilan masa depan. Namun, merek-merek jarang dikelola secara terkoordinasi, dan tidak ada sikap koheren yang memandang asset tersebut memang semestinya dijaga dan diperkokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama atau istilah “merek” (brand) memang bukan sekedar nama, istilah (term), tanda (sign),&lt;br /&gt;symbol atau kombinasinya. Lebih dari itu, merek adalah janji perusahaan untuk secara konsisten memberikan fasilitas pendukung kegiatan belajar mahasiswa yang sangat lengkap dengan biaya pendidikan yang lebih murah. Dan janji inilah yang membuat masyarakat mengenal merek tersebut,&lt;br /&gt;lebih daripada merek yang lain. Kenyataannya, sekarang ini karakteristik unik&lt;br /&gt;dari pemasaran modern bertumpu pada penciptaan merek-merek yang bersifat&lt;br /&gt;membedakan (different) sehingga dapat memperkuat brand image perusahaan.&lt;br /&gt;Untuk mengkomunikasikan brand image kapada stakeholders (termasuk pelanggan) dapat dilakukan melalui iklan, promosi, publisitas, dan&lt;br /&gt;biaya pendidikan yang lebih murah dibanding perguruan tinggi yang lainnya, dengan fasilitas pendidikan yang sama.&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan komunikasi pemasaran yang dilakukan humas universitas trunojoyo dalam membangun nama baik (brand) dimata masyarakat  adalah dengan  kegiatan komunikasi pemasaran dengan&lt;br /&gt; memperkenalkan universitas trunojoyo dari berbagai segi baik segi fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar,&lt;br /&gt; kualitas dosen yang baik,     prestasi akademik maupun prestasi non akademik juga harus ditingkatkan agar masyarakat tahu bahwa universitas trunojoyo mampu bersaing dengan perguruan tinggi yang lain.  Tentunya hal tersebut mempunyai  tujuan  untuk&lt;br /&gt; memperkenalkan dan menawarkan kepada masyarakat untuk menempuh pendidikan diploma dan sarjana di universitas trunojoyo. Berbagai kegiatan pemasaran dilakukan oleh&lt;br /&gt; humas universitas trunojoyo yang merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memikat para lulusan sma dan sederajat agar pelajar tersebut  ingin menempuh pendidikan di  universitas trunojoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Universitas trunojoyo agar menjadi perguruan tinggi yang terkenal dan dan dipercaya masyarakat luas akan kualitas lulusan – lulusannya yang sangat bermutu dan tidak kalah dengan lulusan perguruan  tinggi lain, dan hal&lt;br /&gt; itu juga merupakan asset yang tak ternilai. Pihak humas berupaya  untuk meningkatkan pengenalan masyarakat indonesia tentang nama Universitas Trunojoyo sebagai perguruan tinggi negeri satu satunya di pulau madura. Namun, usaha yang paling sering dilakukan adalah melalui program pemasaran dan komunikasi pemasaran, agar tercipta nama baik (brand) yang mendukung, kuat dan unik di benak masyarakat antara nama Universitas trunojoyo dengan atributnya. Oleh karena itu pihak humas universitas trunojoyo  harus mampu menjaga citra perguruan tinggi  di mata seluruh masyarakat indonesia (khsusnya kabupaten bangkalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa usaha untuk membangun nama (brand) yang baik dimata masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Bagi suatu perguruan tinggi yang mempunyai kualitas dosen yang tidak kalah dengan PTN maupun PTS yang lain, juga fasilitas yang dimiliki yang lengkap dapat merubah image yang selama ini ada. Namun, dibutuhkan usaha komunikasi pemasaran yang efektif dan konsisten untuk membangun dan mempertahankan&lt;br /&gt; citra baik yang akan tercipta danyang sudah terbentuk dengan sendirinya. Adapun kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan dengan oleh HUMAS Universitas Trunojoyo guna membangun citra baik dimata masyarakat diantaranya adalah melalui iklan yang efektif, promosi di sma- sma baik dibangkalan maupun di indonesia secara umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;        Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai&lt;br /&gt; berikut : &lt;br /&gt;”Bagaimana pengaruh kegiatan komunikasi pemasaran dalam membangun nama Universitas Trunojoyo dimata masyarakat indonesia (kabupaten bangkalan)” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt; Tujuan dari penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pengaruh kegiatan komunikasi&lt;br /&gt; pemasaran untuk membangun nama  universitas trunojoyo dimata masyarakat indonesia (bangkalan) yang dibuat oleh humas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.HIPOTESIS&lt;br /&gt; H0:  Adanya pengaruh komunikasi pemasaran yang dilakukan humas universitas trunojoyo untuk membangun  nama (brand) dimata masyarakat indonesia (bangkalan).&lt;br /&gt; H1: Tidak ada pengaruh komunikasi pemasaran yang dilakukan humas universitas trunojoyo untuk membangun  nama (brand) dimata masyarakat indonesia (bangkalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial. Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang yang saling berhubungan satu sama lain yang karena berhubungan, menimbulkan interaksi sosial. Terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi. Komunikasi dalam pengertian umum dapat dilihat dari dua segi yakni:&lt;br /&gt;a. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Arti communis disini adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal (Joseph Devito, 1997: 215). Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat   terdapat  kesamaan    makna    mengenai     suatu   hal  yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Uchjana (1992: 321) secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi,  yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu, komunikasi yang dimaksudkan disini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human communication, yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau komunikasi antar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Secara pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi atau film, maupun media non-massa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman,&lt;br /&gt; poster, spanduk dan sebagainya. Mengenai pengertian komunikasi secara paradigmatis bersifat intensional, mengandung tujuan, karena itu harus dilakukan dengan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu, tergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada&lt;br /&gt; orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Komunikasi merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil tidaknya fungsi-fungsi di dalam kerja. Agar pekerjaan rutin dalam kerja berjalan dengan lancar, dibutuhkan adanya beberapa keahlian yang dimiliki oleh personel dalam kerja. Agar pelaksanaan personel kerja tersebut dapat&lt;br /&gt; berhasil dengan baik, maka salah satu faktornya adalah memperhatikan hubungan dari setiap unit kerja maupun orang-orangnya, agar dapat ditumbuhkan kerja sama dalam kerja. Kebutuhan akan komunikasi memang merupakan masalah yang fundamental bagi setiap manusia. Oleh karena itu&lt;br /&gt; komunikasi sebagai alat ekspresi dari tiap keinginan manusia, baik secara kelompok maupun individu. Pengertian komunikasi yang diungkapkan oleh Dahn Suganda adalah komunikasi adalah sebagai proses transfer dari pikiran atau ide seseorang sebelumnya yang diterjemahkan dalam bentuk kata-kata  atau isyarat-isyarat, yang nantinya oleh penerimanya kata-kata atau isyarat-&lt;br /&gt;isyarat tersebut lalu diterjemahkan lagi melalui proses dalam pikiran kemudian jawaban sebagai feed back terhadap pesan yang disampaikan tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dahn Suganda, 1981: 91).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengertian Komunikasi Pemasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Oleh karena itu perlu adanya koordinasi dan kerjasama dari pihak-pihak yang terlibat dalam usaha pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Kegiatan pemasaran tidak hanya terdiri dari kegiatan menyampaikan  produk ke tangan pelanggan, tetapi juga harus dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan, mengungkapkan definisi pemasaran sebagai suatu system total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada pelanggan saat ini maupun pelanggan potensial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-8934002716106632287?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/8934002716106632287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=8934002716106632287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/8934002716106632287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/8934002716106632287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/komunikasi-pemasaran.html' title='Komunikasi Pemasaran (studi kasus HUMAS UNIJOYO)'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-4841405149460751161</id><published>2009-05-11T22:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T22:47:25.456-07:00</updated><title type='text'>Penelitian Film Laskar Pelangi</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt; A. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Era globalisasi ini menuntut adanya perubahan paradigma lama dalam segala bidang, salah stunya dalam bidang pendidikan Pendidikan merupakan hak setiap warga negara indonesia juga dijadikan kebutuhan pokok riil pada setiap keberadaan manusia dimuka bumi ini, baik pendidikan formal maupun non formal. Banyak orang yang lapar akan hal itu, oleh kaerena itu mereka menonton film yang bertemakan pendidikan akantetapi baru sedikit jumlahnya yang bertemakan tentang pendidikan  yang berakhir bahagia dan yang tidak bahagia. Walaupun tidak seperti film-film cinta yang banyak diproduksi, flim yang bertemakan tentang pendidikan masih sangat jarang sekali jika kita bandingkan dengan film-film yang bertemakan cinta, hal tersebut banyak dipengaruhi oleh pasar perfileman indonesia yang para penontonnya lebih suka menonton film yang bertemakan cinta ketimbang film pendidikan. Padahal film pendidikan memiliki nilai moral yang sangat tinggi kepada penontonnya. Khususnya pada genersi muda penerus bangsa. Unsur pendidikan yang mana didalam undang-undang dasar 1945 pasal 31 ayat 1 “Setiap Warga Negara Berhak Mendapat Pendidikan”.&lt;br /&gt;Unsur cinta juga tidak dapat hilang difilm- film karya anak bangsa masa kini masih memasukkan unsur-unsur cinta dalam karya mereka, komedi cinta, remaja dan cinta, cinta dan agama, bahkan ada film komedi sex. Perilaku tersebut didasarkan oleh tiga premis yang entah sendiri-sendiri atau bersama-sama menguatkan kesimpulan diatas. Premis pertama yang menyebutkan bahwa tidak ada yang perlu dipelajari tentang cinta, yaitu soal dicintai daripada mencintai; kemampuan seseorang untuk mencintai. Masalah pada premis pertama ini adalah bagaimana dicintai. Ada beberapa jalan dalam pengejaran terhadap tujuan tersebut. Pertama adalah premis yang diungkapkan kaum adam, yaitu untuk mencapai sukses, menjadi sedemikian berkuasa dan kaya raya hingga batas sosial yang dimungkinkan oleh kedudukan seseorang. Kedua adalah premis yang diungkapkan oleh kaum hawa , yaitu membuat dirinya menarik dengan jalan merawat tubuh, pakaian, make up dan lain sebagainya. Cara lain yang digunakan baik kaum hawa ataupun kaum adam adalah dengan mengembangkan tata krama yang menyenangkan, suka menolong, sopan dan tidak mengganggu. Cara-cara tersebut akan membuat diri sendiri dapat dicintai.  &lt;br /&gt;Premis kedua mengenai tidak ada sesuatu yang perlu dipelajari tentang cinta adalah masalah obyek. Orang berpikir bahwa mencintai itu merupakan hal yang mudah namun menemukan obyek yang tepat untuk mencintai ataupun dicintai itu sulit. salah satu alasannya yaitu perubahan besar yang muncul pada abad ke-20 dalam kaitannya dengan pemilihan ”obyek cinta.” Pada abad tersebut dikatakan sebagai abad victorian, yang kita ketahui banyak budaya tradisonal dan sebagian besar cinta bukanlah pengalaman pribadi yang bersifat spontan yang akhirnya berujung pada sebuah pernikahan, tetapi sebaliknya, pernikahan diikat dengan perjanjian oleh masing-masing keluarga yang dilakukan berdasarkan dengan beberapa pertimbangan sosial dan cinta diandaikan akan berkembang setelah menikah.&lt;br /&gt;Premis ketiga yang menyebabkan bahwa cinta tidak perlu dipelajari adalah tentang kebingungan antara pengalaman jatuh cinta dan kondisi permanen berada dalam cinta atau bertahan dalam cinta. Jika dua orang meruntuhkan tembok pemisah diantara mereka dan merasa dekat serta merasa satu, hal tersebut merupakan momen pengalaman yang paling menggembirakan dan paling menggairahkan dalam hidup. Hal tersebut akan sangat menggembirakan dan menguntungkan bagi mereka yang terasing, terpencil tanpa cinta. Keajaiban keintiman dalam sekejap ini akan lebih mudah jika digabungkan dengan ketertarikan hubungan seksual. Nyaris energi kita digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dan hampir tidak ada yang ditunjukkan untuk mempelajari masalah pendidikan dan percintaan. &lt;br /&gt;Salah satu upaya untuk mengkomunikasikan hal tersebut, pendidikan, adalah melalui film, baik film dokumenter, komersia atau film cerita. Disini penulis mengambil tema film cerita. Film merupakan bentuk produk kebudayaan. Film mempunyai kekuatan mendalam untuk memberikan pengaruh secara psikologs. Kekuatan film terletak pada daya sugestifnya karena pada dasarnya film itu diciptakan berpangkal dari realitas masyarakat dan lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan kekuatan film dalam merepresentasikan kehidupan sehingga mampu memuat nilai budaya masyarakat. Sadar tidak sadar, setelah menonton film akan ada kesan yang tertanam dalam memori orang tersebut. Kesan tersebut akan mengendap dari dalam diri orang yang bersangkutan, sampai akhirnya memberikan pengaruh  kepada pola atau sikap mereka. &lt;br /&gt; Suatu film dapat menceritakan kepada kita mengenai suatu kehidupan, baik tentang sosial, budaya, politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Seperti pada tema film yang penulis analisis,”Laskar Pelangi” Melalui film, pesan-pesan yang berhubungan dengan tema film dan segi kehidupan tersebut dapat dituturkan dengan bahasa audio visual yang menarik sesuai dengan sifat film yang berfungsi sebagai media hiburan, informasi, promosi maupun sarana pelepas emosi khalayak.&lt;br /&gt;Dengan pertimbangan inilah media film digunakan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan mengenai pendidikan dalam film”Laskar Pelangi” Melalui film diharapkan pesan-pesan mengenai nilai pendidikan dapat lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat dari berbagai kalangan, (khususnya pelajar SMAN 1 Bojonegoro) Disini penulis menganalisis film”Ayat-Ayat Cinta”, yang mana penulis meyakini bahwa film tersebut mengusung tema tentang cinta. Film ”Ayat-Ayat Cinta” adalah film yang bermutu karena sarat pesan moral dan sangat laris di tahun 2008.&lt;br /&gt;Sebelum film ini dirilis, novel  ”Laskar Pelangi”  karangan Andrea Hirata, sudah lebih dulu menghipnotis banyak pembaca. Novel “Laskar Pelangi” berbicara dalam tataran imajinasi yang tanpa batas, sementara film memberikan visualisasi dengan berangkat dari kenyataan di permukaan bumi. Novel “Laskar Pelangi” telah menggugah jutaan pembacanya untuk mampu berefleksi pada sosok yang dihadirkan, apakah itu ikal, ibu muslimah, lintang, aling, nahar, maupun tokoh yang lain. Sehingga mampu membawa perubahan pada diri untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik. Kerja keras, komitmen pada nilai luhur, budi pekerti dan perencanaan dalam kehidupan adalah sesuatu yang harus mengisi dalam setiap hembusan nafas kita. Tak salah memang jika menyebut novel ini sebagai Novel Pembangun Jiwa.&lt;br /&gt;Setelah novel ini laku keras dipasaran, mira lesmana(produser), riri reza (sutradara film laskar pelangi) dia ingin menyampaikan beberapa hal melalui film ini. Pertama, tentang hak setiap warga negara indonesia. Kedua, ingin memperlihatkan realitas sosial yang terjadi di didaerah sekaya belitong masih ada sekolah yang seperti itu yang pendidikannya sangat memprihatinkan.  Ketiga, ingin memvisualisasikan novel yang laris tersebut agar bisa mudah dimengerti oleh khalayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah penelitian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pengaruh film “Laskar Pelangi” terhadap pola pendidikan yang mereka jalani, (pendidikan siswa-siswi SMA 1 Bojonegoro).&lt;br /&gt;C. Tujuan penelitian &lt;br /&gt;Dari rumusan masalah diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai tujuan penelitian, yaitu:&lt;br /&gt;Mengetahui pengaruh yang terjadi pada siswa-siswi SMA 1 Bojonegoro setelah menonton film “Laskar Pelangi” trehadap pola pendidikan yang mereka jalani. &lt;br /&gt;D. Hipotesis&lt;br /&gt;Ho: Adanya pengaruh pada pola pendidikan siswa-siswi SMA 1 Bojonegoro setelah menonton film “Laskar Pelangi”.&lt;br /&gt;H1: Tidak adanya pengaruh pada pola pendidikan siswa-siswi SMA 1 Bojonegoro setelah menonton film “Laskar Pelangi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PERJALANAN FILM INDONESIA DAN&lt;br /&gt;SEJARAH FILM “LASKAR PELANGI”&lt;br /&gt;A. Sejarah Perjalanan Film Indonesia &lt;br /&gt;Sigfried telah mengungkapkan bahwa film dapat mencerminkan mentalitas suatu bangsa lebih dari yang tercermin lewat media artistik lainnya. Relitas suatu bangsa tidak selalu digambarkan dalam sebuah film, sepereti pada film dokumenter, tetapi juga banyak film yang mengambil konteks realitas yang dibayangkan. Dalam menggambarkan sebuah realitas sosial yang ada di suatu negara atau masyarakat, film tidak berdiri dalam posisi netral. Gramsci menggambarkan bahwa media, termasuk didalamnya film, merupakan wahana kontestasi kekuatan yang ada dalam masyarakat dimana pada akhirnya media (film) akan membawa muatan-muatan kepentingan seperti ideologi termasuk didalamnya unsur politik dan kapitalisme.&lt;br /&gt;Merealitaskan sebuah film dilakukan dalam mengangkat satu sudut pandang dari setiap realitas yang dibangun oleh film tersebut sehiingga akan menjadi sebuah hubungan yang timbal balik antara realitas yang diciptakan oleh pembuat film dengan bagimana pembuat film itu melihat realitas yang ada. Sebuah film dalam mengangkat realitas akan berdiri pada dua sisi yang saling bertentangan  diman sisi yang satu menganggap film sebagi hasil budaya dan sisi yang lainnya menganggap film sebagai sebuah komuditas yang menguntungkan.  Pada sisi yang menganggap film sebagai hasil budaya akan menciptakan film yang mementingkan sisi estetika sebagai sebuah film bisa menjadi sebuah produk budaya yang memiliki mutu dan kualitas serta memberi peran edukatif seperti yang diharapkan dalam film. Seperti halnya pada film yang diangkat oleh penulis, “Laskar Pelangi” dimana film tersebut dinilai oleh penulis dan banyak penonton sebagai film yang bermutu dan berkualitas karena sarat akan nilai moral  yang tinggi. Selain itu film tersebut juga berisi banyak ajaran yang dapat berfungsi sebagai fungsi edukatif bagi para penontonnya. Jika semua manfaat film tersebut telah didapatkan, maka hal tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pembuat film tersebut.  Sisi lain yang menganggap film sebagai sebuah komoditas yang menguntungkan adalah dimana film bisa diperlakukan dan dijadikan sebuah industri. &lt;br /&gt;Dalam memproduksi sebuah industri yang utama adalah bagaimana memperoleh keuntungan dari produk yang dihasilakan dengan pengorbanan yang tidak terlalu besar seperti prinsip ekonomi yaitu, dengan mengeluarkan modal seminimal mungkin guna mendapatkan untung semaksimal mungkin. Dalam sebuah film tidak hanya menekankan pada satu sisi saja karena jika suatu film hanya menekankan hanya satu sisi saja maka yang terjadi adalah terbentuknya film dari minat penonton. Namun para pembuat film cenderung menekankan pada satu sisi sebagai stand point mereka, dari sisi industrilah yang di utamakan sebagai pijakan mereka.  Seorang kritikus film, Eric Sasono dalam tulisannya Film Sebagai Kritik Sosial, menyatakan bahwa film didefinisikan sebagai komoditas, dengan pihak-pihak terkait dapat memperoleh keuntungan. Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa memang dalam memproduksi film sangatlah membutuhkan biaya yang besar dan ini merupakan sebuah investasi yang tentunya mengharapkan adanya keuntungan yang didapat, hal ini menyebabkan film kehilangan fungsi kritisnya.&lt;br /&gt;B. FILM “Laskar Pelangi”&lt;br /&gt;Arti Dari Sebuah Judul Film ”Laskar Pelangi”&lt;br /&gt;Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah: &lt;br /&gt;1.Ikal&lt;br /&gt;2.Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara&lt;br /&gt;3.Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah&lt;br /&gt;4.Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam&lt;br /&gt;5.A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman&lt;br /&gt;6.Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz&lt;br /&gt;7.Kucai; Mukharam Kucai Khairani&lt;br /&gt;8.Borek aka Samson&lt;br /&gt;9.Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari&lt;br /&gt;10.Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Film ”Laskar Pelangi”&lt;br /&gt;Sebelum film Laskar Pelangi ini di tayangkan dan menjadi sebuah film, novel Laskar Pelangi sudah terlebih dahulu mengambil hati para pembacanya. Laskar Pelangi merupakan  novel  berbahasa  Indonesia karangan andrea hirata pada tahun 2005 melalui penerbit bentang, dengan 529 halaman.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Novel ini berisikan cerita tentang seorang pemuda asli belitong yang bernama ikal anak seorang keluarga miskin yang ayahnya bekerja di perusahaan PN TIMAH ditanah belitong dan 9 temannya yang belajar di sekolah SD MUHAMMADIYAH GANTONG. Kemudian pada tahun 2008 dibuatlah visualisasi dari novel tersebut oleh sutradara muda indonesia yakni riri reza dan diproduseri oleh mira lesmana.&lt;br /&gt;Synopsis &lt;br /&gt;Cerita terjadi di desa Gantung, Gantung, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.&lt;br /&gt;Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.&lt;br /&gt;Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini.&lt;br /&gt;C. RUANG LINGKUP PENELITIAN&lt;br /&gt;Variabel yang diteliti kali ini yakni perubahan pola belajar siswa- siswi tersebut, yang mana selama ini mereka hanya bermain-main di sekolah padahal mereka sudah mendapatkan fasilitas yang cukup memadai jika dibandingkan dengan sekolah di belitong sangat jauh berbeda yang mana dibelitong kala itu pendidikannya yang kurang layak bagi anak-anak asli belitong(pulau penghasil timah terbesar kala itu). Sedangkan kini siswa-siswi SMAN1 Bojonegoro yang sudah serba tercukupi seluruh kebutuhan kegiatan belajar mengajarnya masih juga malas untuk belajar dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;D. KERANGKA OPERSIONAL&lt;br /&gt; Perubahan pola belajar tersebut dapat diteliti dengan cara, melihatkan siswa-siswi tersebut film “Laskar Pelangi” dihadapan kelas. Kemudian peneliti bisa mengamati pola belajar mereka setelah menonton film tersebut, bagaimana kegiatan belajar siswa-siswi yang biasanya kurang aktif dikelas dan yang biasanya jarang masuk dikelas apa setelah mereka melihat kehidupan pendidikan yang jauh dari pendidikan yang mereka terima sekarang ini. Dapat dilihat juga dengan rasa kecintaan mereka tentang pelajaran yang mereka terima dikelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENGUMPULAN DATA&lt;br /&gt; Peneliti dalam penelitian kali iini menggunakan pengumpulan data dengan cara menyebar kuesioner kepada populasi obyek yang diteliti oleh peneliti. Kuesioner dipilih karena lebih efisien dan dapat teruji keakuratannya tentang apa hal yang diuji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-4841405149460751161?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/4841405149460751161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=4841405149460751161' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/4841405149460751161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/4841405149460751161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/penelitian-film-laskar-pelangi.html' title='Penelitian Film Laskar Pelangi'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-7329115178064889744</id><published>2009-05-11T22:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T22:44:44.891-07:00</updated><title type='text'>"Pengaruh Penayangan Iklan Sekolah Gratis"</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A.Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Kata iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya kurang lebih adalah 'menggiring orang pada gagasan'. Adapun pengertian iklan secara komprehensif adalah "semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu..." Secara umum, iklan berwujud penyajian informasi nonpersonal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dijalankan dengan kompensasi biaya tertentu. Dengan demikian, iklan merupakan suatu proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk atau menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan. &lt;br /&gt;Karena itulah para ahli periklanan sepakat untuk membuat dan menetapkan batasan dan etika beriklan agar tidak merugikan konsumen/masyarakat hal itu dimaksudkan disamping untuk menjaga etika beriklan juga menjaga stabilitas masyarakat agar tidak rusak akibat dampak iklan yang berlebihan. Karena bagaimanapun, kampanye dan promosi gagasan atau individu pada Pemilu/Pilkada/Pendidikan adalah juga kegiatan periklanan, sehingga ia sudah seharusnya tunduk pula kepada etika periklanan. &lt;br /&gt;Dan salah satu yang perlu diingat bahwa satu landasan utama dalam penyelenggaraan periklanan adalah kenyataan sekaligus kemampuannya untuk mengidentifikasi produk-produk yang sah atau resmi, dan sudah tersedia (terbukti) di pasar atau di tengah masyarakat. Memayungi semua jenis periklanan baik politik maupun Pendidikan dalam naungan etika periklanan umum akan membuat gagasan kebijakan publik atau ketokohan seseorang dan nama baik lembaga menjadi benar-benar memiliki legitimasi sebagai produk-produk yang layak dipasarkan. Hal itu berdasarkan fakta bahwa tidak semua produk yang beriklan dapat mencapai sukses seperti yang diharapkan oleh pengiklannya. &lt;br /&gt;Kampanye periklanan yang keliru justru kian menghancurkan produk tersebut. Ini berarti ada risiko yang harus juga selalu diperhitungkan oleh para pemasang iklann. Produk/Pemilu/Pilkada/Pendidikan, Sehingga mereka dapat lebih jujur dan berhati-hati dalam mengemukakan janji-janjinya. Karena janji-janji pada pesan periklanan Produk/Pemilu/Pilkada/Pendidikan, di kemudian hari, akan dijadikan rujukan oleh masyarakat dalam menilai kinerja pihak yang berkepentingan tersebut.Itulah pengertian bentuk, batasan dan etika iklan yang kita sepakati karena semua itu sesuai dengan semangat syariah Islamiyah (fikih) yang menjunjung maqasid dan maslahat umum daripada tex. &lt;br /&gt;Iklan pendidikan yang menjamur dan bertebaran ke plosok-plosok kampung mulai dari sekolah yang "elit" sampai yang "pailit" dan tidak ketinggalan Pondok Pesantren juga ikut-ikutan membuat iklan untuk meramaikan persaingan dunia pendidikan. Jenis ketiga ini juga tidak lepas dari kebohongan publik karena banyak brosur dan iklan Pendidikan (Sekolah/Pesantren) begitu menjanjikan dan menarik, ekseklusif dengan program-program palsunya? Tapi semua itu ternyata banyak dibuat oleh lembaga Pendidikan yang sebenarnya sedang sekarat karena tidak ada dana oprasional, tapi tetap berusaha menjaring pemasukan dana dari Siswa/Mahasiswa baru. Sehingga terjadilah penumpukan "dosa" yaitu kebohongan publik dan pembodohan masyarakat. Dalam hal ini banyak kita temukan jargon, visi dan misi lembaga pendidikan yang menarik, bagus, menggigit telinga tapi ternyata dibuat hanya untuk menghadapi persaingan dunia pendidikan dan dibuat oleh lembaga yang tertinggal jauh. &lt;br /&gt;Iklan apapun jenis dan bentuk yang diiklankan selama mendidik dan tidak bertentangan dengan etika periklanan dan tidak melawan budaya lokal apalagi norma Agama, sangat dibutuhkan dan penting. Tapi kenyataannya etika periklanan dewasa ini tidak lagi berlaku, sehingga banyak menimbulkan efek negatif dalam sekala besar yang mengkhawatirkan. &lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan media iklan adalah segala sarana komunikasi yang dipakai untuk mengantarkan dan menyebar luaskan pesan – pesan iklan. Pada prinsipnya, jenis media iklan dalam bentuk fisik dibagi kedalam dua kategori  yaitu media iklan cetak dan media iklan elektronik. Media cetak adalah media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan; bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas). Media cetak adalah suatu dokumen atas segala hal tentang rekaman peristiwa yang diubah dalam kata-kata, gambar foto dan sebagainya ( contoh : surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster. Sedangkan media elektronik adalah media yang proses bekerjanya berdasar pada prinsip elektronik dan eletromagnetis (contoh televisi, radio, internet). Diantara dikotomi media tersebut  ada satu media yang tidak termasuk dalam kategori keduanya yaitu media luar ruang (papan iklan atau billboard)&lt;br /&gt;Jika dilihat dari pekerjaan kreatifnya maka media iklan terbagi dua jenis yaitu :&lt;br /&gt;a.media lini atas (above the line) ; media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan, contoh ; televisi, radio, majalah, surat kabar.&lt;br /&gt;b.Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan, contoh : pamflet, brosur dan poster.&lt;br /&gt;B.RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah penelitian sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Pengaruh penayangan iklan sekolah gratis terhadap perubahan paradigma masyarakat desa kalau pendidikan itu memerlukan biaya yang mahal”.&lt;br /&gt;C.TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Dari rumusan masalah diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai tujuan penelitian, yaitu:&lt;br /&gt;“Mengetahui pengaruh penayangan iklan sekolah gratis tersebut terhadap perubahan paradigm masyarakat desa yang selama ini berasumsi sekolah itu harus bayar dan mahal” (masyarakat pemirsa televisi didesa sumodikaran, kecamatan dander kabupaten bojonegoro).&lt;br /&gt;D.HIPOTESIS&lt;br /&gt;H0: Adanya pengaruh penayangan iklan sekolah gratis tersebut terhadap perubahan paradigm masyarakat desa sumodikaran yang menganggap bahwa pendidikan itu harus mengeluarkan biaya dan mahal.&lt;br /&gt;H1: Tidak ada pengaruh penayangan iklan sekolah gratis tersebut terhadap perubahan paradigm masyarakat desa sumodikaran yang menganggap bahwa pendidikan itu harus mengeluarkan biaya dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;br /&gt;A.PENGERTIAN IKLAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Iklan pendidikan merupakan iklan yang disampaikan oleh institusi pendidikan, baik dinas pendidikan kecamatan, kabupaten propinsi, dan atau oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Dengan bermacam-macam tujuan pula misal iklan pendidikan tentang pendidikan gratis yang sedang diteliti peneliti kali ini yakni iklan sekolah gratis yang dibintang iklani oleh cut mini, yang bercerita tentang sopir angkot yang hamper menabrak seorang loper Koran yang mengantarkan anaknya kesekolah, sopir angkot tersebut berkomentar mau jadi apa sekolah yang ditanggapi cut mini bapaknya loper Koran anaknya bisa jadi wartawan, bapaknya sopir anaknya bisa jadi pilot, jika mempunyai kemauan untuk besekolah.&lt;br /&gt;B.RUANG LINGKUP PENELITIAN &lt;br /&gt; Variabel yang diteliti oleh peneliti kali ini yakni pengaruh penayangan iklan tersebut terhadap masyarakat pedesaan tersebut, baik dampak baik maupun dampak buruk dari penayangan iklan tersebut. Jika penayangan iklan tersebut dimaksudkan oleh dinas pendidikan nasional agar paradigma masysrakat desa akan pendidikan yang selalu mahal. Namun pada kali ini hal tersebut ingin dibuang jauh-jauh dan digantikan dengan pendidikan yang gratis, sehingga nantinya masyarakat tidak takut lagi jika akan menyekolahkan anak-anak mereka karena biayayanya sudah ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa menjadi bangsa yang berpendidikan.&lt;br /&gt;C.KERANGKA OPERASIONAL&lt;br /&gt; Pengaruh penayangan iklan sekolah gratis tersebut terhadap perubahan paradigm masyarakat desa sumodikaran yang menganggap bahwa pendidikan itu harus mengeluarkan biaya dan mahal. Yakni dengan cara menjalankan apa yang ada pada teori sebelumnya yakni memperlihatkan iklan tersebut kepada populasi sampel yang akan diteliti, pengaruh penayangan iklan tersebut dapat dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat didesa sumodikaran tersebut pada tahun ajaran baru setelah penayangan iklan tersebut dilayar kaca. &lt;br /&gt;D.PENGUMPULAN DATA&lt;br /&gt; Peneliti dalam penelitian kali ini menggunakan pengumpulan data dengan cara menyebar kuesioner kepada populasi obyek yang diteliti oleh peneliti. Kuesioner dipilih karena lebih efisien dan dapat teruji keakuratannya tentang apa hal yang diuji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-7329115178064889744?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/7329115178064889744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=7329115178064889744' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7329115178064889744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/7329115178064889744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/pengaruh-penayangan-iklan-sekolah.html' title='&quot;Pengaruh Penayangan Iklan Sekolah Gratis&quot;'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-6774910089671628760</id><published>2009-05-11T01:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T01:13:32.958-07:00</updated><title type='text'>FILM CINTA</title><content type='html'>Cinta merupakan kebutuhan pokok riil pada setiap keberadaan manusia.&lt;br /&gt;Banyak orang yang lapar akan hal itu, oleh kaerena itu mereka menonton film&lt;br /&gt;yang tak terhitung jumlahnya yang bertemakan tentang cinta yang berakhir&lt;br /&gt;bahagia dan yang tidak bahagia. Mereka juga mendengarkan berbagai macam&lt;br /&gt;lagu ’murahan’ tentang cinta namun mungkin tidak ada satu orang yang berpikir&lt;br /&gt;bahwa ada sesuatu yang perlu dipelajari tentang cinta.&lt;br /&gt;Perilaku yang aneh tersebut didasarkan oleh tiga premis yang entah sendirisendiri&lt;br /&gt;atau bersama-sama menguatkan kesimpulan diatas. Premis pertama yang&lt;br /&gt;menyebutkan bahwa tidak ada yang perlu dipelajari tentang cinta, yaitu soal&lt;br /&gt;dicintai daripada mencintai; kemampuan seseorang untuk mencintai. Masalah&lt;br /&gt;pada premis pertama ini adalah bagaimana dicintai. Ada beberapa jalan dalam&lt;br /&gt;pengejaran terhadap tujuan tersebut. Pertama adalah premis yang diungkapkan&lt;br /&gt;kaum adam, yaitu untuk mencapai sukses, menjadi sedemikian berkuasa dan kaya&lt;br /&gt;raya hingga batas sosial yang dimungkinkan oleh kedudukan seseorang. Kedua&lt;br /&gt;adalah premis yang diungkapkan oleh kaum hawa , yaitu membuat dirinya&lt;br /&gt;menarik dengan jalan merawat tubuh, pakaian, make up dan lain sebagainya. Cara&lt;br /&gt;lain yang digunakan baik kaum hawa ataupun kaum adam adalah dengan&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;mengembangkan tata krama yang menyenangkan, suka menolong, sopan dan&lt;br /&gt;tidak mengganggu. Cara-cara tersebut akan membuat diri sendiri dapat dicintai.&lt;br /&gt;Premis kedua mengenai tidak ada sesuatu yang perlu dipelajari tentang cinta&lt;br /&gt;adalah masalah obyek. Orang berpikir bahwa mencintai itu merupakan hal yang&lt;br /&gt;mudah namun menemukan obyek yang tepat untuk mencintai ataupun dicintai itu&lt;br /&gt;sulit. salah satu alasannya yaitu perubahan besar yang muncul pada abad ke-20&lt;br /&gt;dalam kaitannya dengan pemilihan ”obyek cinta.” Pada abad tersebut dikatakan&lt;br /&gt;sebagai abad victorian, yang kita ketahui banyak budaya tradisonal dan sebagian&lt;br /&gt;besar cinta bukanlah pengalaman pribadi yang bersifat spontan yang akhirnya&lt;br /&gt;berujung pada sebuah pernikahan, tetapi sebaliknya, pernikahan diikat dengan&lt;br /&gt;perjanjian oleh masing-masing keluarga yang dilakukan berdasarkan dengan&lt;br /&gt;beberapa pertimbangan sosial dan cinta diandaikan akan berkembang setelah&lt;br /&gt;menikah.&lt;br /&gt;Premis ketiga yang menyebabkan bahwa cinta tidak perlu dipelajari adalah&lt;br /&gt;tentang kebingungan antara pengalaman jatuh cinta dan kondisi permanen berada&lt;br /&gt;dalam cinta atau bertahan dalam cinta. Jika dua orang meruntuhkan tembok&lt;br /&gt;pemisah diantara mereka dan merasa dekat serta merasa satu, hal tersebut&lt;br /&gt;merupakan momen pengalaman yang paling menggembirakan dan paling&lt;br /&gt;menggairahkan dalam hidup. Hal tersebut akan sangat menggembirakan dan&lt;br /&gt;menguntungkan bagi mereka yang terasing, terpencil tanpa cinta. Keajaiban&lt;br /&gt;keintiman dalam sekejap ini akan lebih mudah jika digabungkan dengan&lt;br /&gt;ketertarikan hubungan seksual. Oleh karena sifat dasarnya seperti itu, cinta&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;semacam ini tidak akan berlangsung lama. Hal tersebut dikarenakan karena akan&lt;br /&gt;terjadi sebuah kekecewaan, pertentangan dan kebosanan yang sama-sama mereka&lt;br /&gt;alami dan mengakhiri segala yang tersisa dari kegairahan awal. Namun, pada&lt;br /&gt;awalnya mereka yang melakukan hal tersebut tidak mengetahuinya; pada&lt;br /&gt;kenyataannnya, mereka menunjukkan intensitas ketertarikan, tergila-gila satu&lt;br /&gt;sama lain, sebagai sebuah bukti intensitas cinta mereka walaupun hal tersebut&lt;br /&gt;hanya membuktikan tingkat kesepian sebelumnya..&lt;br /&gt;Sikap tersebut berarti tidak ada yang lebih mudah daripada mencinta lalu&lt;br /&gt;berlanjut pada pandangan yang lazim tentang cinta walaupun buktinya sangat&lt;br /&gt;bertolak belakang. Jika dilihat, semua aktivitas diatas hampir tidak ada upaya&lt;br /&gt;yang dimulai dengan kerinduan dan pengharapan yang sedemikian dahsyat,&lt;br /&gt;walaupun selalu gagal, seperti cinta. Orang akan sangat ingin mengetahui jika hal&lt;br /&gt;tersebut gagal dan belajar bagaimana dapat melakukannya dengan lebih baik atau&lt;br /&gt;mungkin akan menyerah pada aktivitas tersebut. Aktivitas menyerah merupakan&lt;br /&gt;hal yang mustahil pada cinta dan hanya ada satu cara untuk mengatasi kegagalan&lt;br /&gt;cinta serta mulai mempelajari makna cinta.&lt;br /&gt;Langkah pertama yang perlu disadari untuk mengatasi kegagalan cinta&lt;br /&gt;adalah kita harus bisa mempelajari makna cinta. Cinta itu merupakan seni karena&lt;br /&gt;hal ini sama halnya dengan hidup yang juga merupakan seni. Contohnya, apabila&lt;br /&gt;kita ingin belajar bagaimana mencintai, kita harus melakukan cara yang sama&lt;br /&gt;seperti kita akan mempelajari seni lain, seperti melukis, menyayi atau seni&lt;br /&gt;pengobatan. Dalam mempelajari seni diperlukan dua proses yaitu pertama kita&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;harus menguasai teorinya dan penguasaan atas praktiknya. Jika kita igin&lt;br /&gt;mempelajari seni musik berupa piano pertama-tama kita harus mengetahu nadanada&lt;br /&gt;dalam piano. Setelah pengetahuan tentang alat musik tersebut telah kita&lt;br /&gt;kuasai kita akan menjadi seorang pianis hanya setelah melakukan banyak praktik,&lt;br /&gt;sampai pada akhirnya hasil pengetahuan teoritis dan hasil praktik kita mendarah&lt;br /&gt;daging. Seperti dalam cinta, kita juga harus memahami tentang makna cinta itu&lt;br /&gt;sendiri dan kita benar-benar akan memahaminya apabila kita melakukan praktekprakek&lt;br /&gt;cinta yang telah diungkapkan oleh Formm mengenai praktek cinta yang&lt;br /&gt;akan dibahas pada bab Telaah Teori. Di samping mempelajari teori dan praktik&lt;br /&gt;ada satu faktor lagi yang diperlukan untuk menjadi ahli dalam senipenguasaan&lt;br /&gt;seni harus menjadi pusat perhatian yang utama; di dunia ini benar tidak ada hal&lt;br /&gt;lain yang lebih penting daripada seni. Hal ini juga sama untuk pengobatan, seni&lt;br /&gt;patung, kerajinan kayu dan cinta. mungkin dalam pernyaan tersebut terdapat&lt;br /&gt;jawaban atas pertanyaan tentang mengapa orang dalam budaya kita jarang&lt;br /&gt;berusaha mempelajari seni tersebut meskipun mereka jelas-jelas gagal betapa pun&lt;br /&gt;mendalamnya kebutuhan akan cinta, hampir selalu ada hal lain yang dianggap&lt;br /&gt;lebih penting daripada cinta, seperti sukses, prestise, uang dan kekuasaan. Nyaris&lt;br /&gt;energi kita digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dan hampir tidak ada yang&lt;br /&gt;ditunjukkan untuk mempelajari seni mencintai.&lt;br /&gt;Salah satu upaya untuk mengkomunikasikan hal tersebut, cinta, adalah&lt;br /&gt;melalui film, baik film dokumenter, komersia atau film cerita. Disini penulis&lt;br /&gt;mengambil tema film cerita. Film merupakan bentuk produk kebudayaan. Film&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;mempunyai kekuatan mendalam untuk memberikan pengaruh secara psikologs.&lt;br /&gt;Kekuatan film terletak pada daya sugestifnya karena pada dasarnya film itu&lt;br /&gt;diciptakan berpangkal dari realitas masyarakat dan lingkungan. Hal tersebut&lt;br /&gt;sesuai dengan kekuatan film dalam merepresentasikan kehidupan sehingga&lt;br /&gt;mampu memuat nilai budaya masyarakat. Sadar tidak sadar, setelah menonton&lt;br /&gt;film akan ada kesan yang tertanam dalam memori orang tersebut. Kesan tersebut&lt;br /&gt;akan mengendap dari dalam diri orang yang bersangkutan, sampai akhirnya&lt;br /&gt;memberikan pengaruh kepada pola atau sikap mereka.&lt;br /&gt;Suatu film dapat menceritakan kepada kita mengenai suatu kehidupan, baik&lt;br /&gt;tentang sosial, budaya, politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Seperti pada tema&lt;br /&gt;film yang penulis analisis, Ayat-Ayat Cinta. Melalui film, pesan-pesan yang&lt;br /&gt;berhubungan dengan tema film dan segi kehidupan tersebut dapat dituturkan&lt;br /&gt;dengan bahasa audio visual yang menarik sesuai dengan sifat film yang berfungsi&lt;br /&gt;sebagai media hiburan, informasi, promosi maupun sarana pelepas emosi&lt;br /&gt;khalayak.&lt;br /&gt;Dengan pertimbangan inilah media film digunakan sebagai salah satu cara&lt;br /&gt;untuk menyampaikan pesan mengenai cinta dalam film Ayat-Ayat Cinta. Melalui&lt;br /&gt;film diharapkan pesan-pesan mengenai nilai cinta dapat lebih mudah diterima dan&lt;br /&gt;dipahami masyarakat dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;Disini penulis menganalisis film”Ayat-Ayat Cinta”, yang mana penulis&lt;br /&gt;meyakini bahwa film tersebut mengusung tema tentang cinta. Film ”Ayat-Ayat&lt;br /&gt;Cinta” adalah film yang bermutu karena sarat pesan moral dan sangat fenomenal&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;di tahun 2008. Film “Ayat-Ayat Cinta” seolah menjadi lokomotif bagi gerbong&lt;br /&gt;film bergenre sejenis. Menyusul lagi adanya film religi yang bergenre sama, yaitu&lt;br /&gt;film ”Ketika Cinta Bertasbih” yang akan ditayangkan beberapa saat lagi.&lt;br /&gt;Munculnya film yang bergenre religi dan roman disebabkan karena ketiadaan film&lt;br /&gt;berjenis religi.&lt;br /&gt;Fenomena lain mengenai film ini adalah terbukti dari dua juta penonton&lt;br /&gt;dalam waktu hanya dua pekan mampu disedot sebuah film ”Ayat-Ayat Cinta”.1&lt;br /&gt;Selain itu dalam penayangan perdanya, di area studio XXI (twentyone) plaza&lt;br /&gt;senayan Jakarta, nuansa timur tengah menghiasi seluruh studio. Setiap penonton&lt;br /&gt;yang melewati eskalator akan langsung disapa sebaris senyum balasan gadis-gadis&lt;br /&gt;cantik ala Aisha, lengkap dengan gamis dan cadarnya dan beberapa dari mereka&lt;br /&gt;membawa baki berisi kurma. Hal tersebut juga terjadi ketika para penonton&lt;br /&gt;masuk ke dalam area studio, nuansa Aisha itu lebih kental. Setiap penonton yang&lt;br /&gt;datang diberi souvenir sebuah syal untuk penutup wajah (cadar), yaitu syal yang&lt;br /&gt;sama seperti Aisha dalam film ”Ayat-Ayat Cinta”. Selain itu bisa disaksikan&lt;br /&gt;puluhan wanita berpakaian gamis dan bercadar lalu lalang di seluruh area studio.&lt;br /&gt;Fenomena lain juga ditunjukkan oleh para penjaga loket karcis, semuanya&lt;br /&gt;berjilbab, gamis dan bercadar. Tidak kalah dengan para penjaga loket karcis yang&lt;br /&gt;mayoritas wanita, sebagian pria berwajah-wajah tampan melilitkan kafiyeh di&lt;br /&gt;lehernya. Cadar tersebut merupakan fenomena tersendiri yang terjadi pada saat&lt;br /&gt;film ”Ayat-Ayat Cinta” ditayangkan perdana.&lt;br /&gt;1 Dapat diakses melalui, www.multiply.ayat-ayatcintafenomenal.com, 24 February 2008. Pukul 12 pm.&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Cadar bisa dikatakan fenomena karena pada waktu film film Ada Apa&lt;br /&gt;Dengan Cinta (AADC) yang mana banyak para penonton yang menonton film&lt;br /&gt;tersebut mengikuti gaya para tokoh di film tersebut. Sebagai contoh, para pria&lt;br /&gt;berubah menjadi pendiam dan lebih puitis seperti Rangga (NicholasSaputra).&lt;br /&gt;Sebelum film ini dirilis, novel ”Ayat-Ayat Cinta” karangan&lt;br /&gt;Habiburrahman El Shirazy, sudah lebih dulu menghipnotis banyak pembaca.&lt;br /&gt;Novel “Ayat-Ayat Cinta” berbicara dalam tataran imajinasi yang tanpa batas,&lt;br /&gt;sementara film memberikan visualisasi dengan berangkat dari kenyataan di&lt;br /&gt;permukaan bumi. Novel “Ayat-ayat Cinta” telah menggugah jutaan pembacanya&lt;br /&gt;untuk mampu berefleksi pada sosok yang dihadirkan, apakah itu Fahri, Aisha,&lt;br /&gt;Nurul, Maria maupun tokoh yang lain, sehingga mampu membawa perubahan&lt;br /&gt;pada diri untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik. Kerja keras,&lt;br /&gt;komitmen pada nilai luhur, budi pekerti dan perencanaan dalam kehidupan adalah&lt;br /&gt;sesuatu yang harus mengisi dalam setiap hembusan nafas kita. Tak salah memang&lt;br /&gt;jika menyebut novel ini sebagai Novel Pembangun Jiwa. Puji rahmat mengatakan,&lt;br /&gt;“Mungkin tidak hanya saya yang usai membaca novel ini untuk segera membuat&lt;br /&gt;perencanaan (mapping) ke mana kita akan melangkah, bagaimana ilmu menjadi&lt;br /&gt;bekal dalam mengarungi kehidupan yang kian lama kian abu-abu, bagaimana&lt;br /&gt;kerja keras mengisi dalam setiap langkah kita, bagaimana komitmen menjadi&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;pengikat dalam mencapai tujuan, dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa&lt;br /&gt;dipetik dari novel ini.”2&lt;br /&gt;Setelah novel ini laku keras dipasaran, Manoj Punjabi (seorang produser&lt;br /&gt;Indonesia) setelah membaca novel ini, Manoj tertarik untuk menghadirkan film&lt;br /&gt;bertema religi. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh sutradara Indonesia,&lt;br /&gt;Hanung Bramantyo. Disini Hanung ingin menyampaikan beberapa hal melalui&lt;br /&gt;film ini. Pertama, Islam bukan teroris. Kedua, Islam adalah agama yang lebih&lt;br /&gt;mengedepankan cinta, toleransi, sabar, dan ikhlas.&lt;br /&gt;Setelah pernyataan diatas, Hanung lalu memvisualisasikan novel “Ayat-&lt;br /&gt;Ayat Cinta” menjadi bentuk sebuah film religi. Kehadiran film “Ayat-Ayat Cinta”&lt;br /&gt;ini sang sutradara seakan ingin mewujudkan sosok Fahri, Aisha, Maria, Nurul dan&lt;br /&gt;tokoh-tokoh lainnya dalam visualisasi yang lebih nyata.&lt;br /&gt;Mungkin akan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak para&lt;br /&gt;penonton setelah menonton film tersebut. Lokasi yang diambil dalam film ini&lt;br /&gt;adalah di Semarang, Jakarta dan India. Pertanyaan tersebut muncul dengan&lt;br /&gt;beberapa perbedaan “persepsi dan imaginasi” pembaca novel dan “visualisasi”&lt;br /&gt;yang disajikan oleh Hanung dalam filmnya, “Ayat-ayat Cinta”.&lt;br /&gt;Menurut Puji Rahmat, bahwa dia adalah penggemar Novel “Ayat-ayat&lt;br /&gt;Cinta”. Dia juga merasakan hal sama dengan berjuta penggemar Novel “Ayatayat&lt;br /&gt;Cinta” lainya, berangkat dari sebuah ekspektasi setinggi khayalan di luar&lt;br /&gt;angkasa dan seindah imajinasi di atas cakrawala, sehingga harus turun ke langit&lt;br /&gt;2Puji Rahmat, Dapat diakses melalui,www.kabarindonesia.com, 6 Maret, 2008.&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;bumi di lapisan ionosfer untuk bertemu dengan hasil visualisasi sebuah film karya&lt;br /&gt;Hanung Bramantyo ini.3 Dalam pandangan Puji Rahmat, sebenarnya jika dilihat&lt;br /&gt;secara lebih objektif, kedua karya ini memang mempunyai sisi yang luar biasa&lt;br /&gt;pada masing-masing karakteristiknya, namun demikian masih belum dapat untuk&lt;br /&gt;disandingkan dalam satu bingkai yang sama.&lt;br /&gt;Banyak para penonton yang belum membaca novel “Ayat-Ayat Cinta”&lt;br /&gt;sangat setuju bahwa film ini luar biasa bagusnya dan banyak yang terhanyut akan&lt;br /&gt;alur cerita yang di tayangkan film tersebut. Hal yang sama juga diungkapkan oleh&lt;br /&gt;Puji, “Sementara yang belum membaca melakukan perjalanannya dari tempat&lt;br /&gt;peluncuran roket di bumi sehingga menikmati sekali perjalanan meluncur ke&lt;br /&gt;stasiun angkasa.”4&lt;br /&gt;Sedangkan para pembaca novel yang telah terbang terlebih dahulu dalam&lt;br /&gt;imajinasinya pada saat membaca novel tersebut, kemudian datang ke bioskop&lt;br /&gt;untuk menemukan stasiun luar angkasa akan imajinasinya itu akan memiliki&lt;br /&gt;banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak para pembaca novel ketika mereka&lt;br /&gt;selesai menyaksikan film tersebut.&lt;br /&gt;Film memang berbeda dengan novel. Film merupakan terminologi gambar&lt;br /&gt;yang bergerak. Sangat berbeda sekali dengan foto, film bisa menghadirkan unsur&lt;br /&gt;dinamis dari obyek yang ditampilkannya itu. Sebagai media audio visual, film&lt;br /&gt;mempunyai karakteristik yang berbeda dengan format tanda yang lain yang hanyabersifat tekstual atau visual saja, misalnya bahasa dan lukisan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-6774910089671628760?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/6774910089671628760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=6774910089671628760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6774910089671628760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6774910089671628760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/film-cinta.html' title='FILM CINTA'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-2758485556002185349</id><published>2009-05-05T22:02:00.001-07:00</published><updated>2009-05-05T22:08:56.196-07:00</updated><title type='text'>TIGA (3) TEKNIK DASAR FOTOGRAFI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgEaejbjk8I/AAAAAAAAACc/IDFe8V5ME5U/s1600-h/kamera...jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgEaejbjk8I/AAAAAAAAACc/IDFe8V5ME5U/s320/kamera...jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332572545992594370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ada beberapa hal yang paling mendasar dan perlu diperhatikan dalam teknik dasar Fotografi agar nantinya diperoleh foto yang berkualitas baik tanpa ada sakit sedikitpun, diantaranya yang paling pokok dalam fotografi adalah : &lt;br /&gt;1.  Focusing (pemfokusan)&lt;br /&gt;2.  Bukaan Diafragma&lt;br /&gt;3.  Speed (kecepatan rana)&lt;br /&gt; Focusing&lt;br /&gt;  Suatu obyek foto akan dapat terekam dengan baik apabila berada pada titik fokus lensa atau setidaknya masuk zona tajam (dept of field). Oleh karena kita tidak mungkin selalu menjaga jarak tertentu dengan obyek foto, maka pada lensa terdapat fasilitas yang berfungsi sebagai pencari jarak antara kamera (pemotret) dengan obyek.&lt;br /&gt;Sistem focusing pada lensa manual mamilkiki 2 macam cara kerja, yaitu rotasi dan panel.ketika kita menggerakkan panel focusing (rotasi dan panel), maka lensa secara langsung akan bergerak sampai kita mendapatkan imaji tajam pada jendela bidik&lt;br /&gt;Secara definisi, memfokus adalah menyetel lensa agar menimbulkan imaji tajam pada foto nanti. Pada kamera LSR (Single Lense Reflect) atau kamera refleksi lensa tunggal, apa yang tampak di jendela bidik sama dengan yang akan terjadi di fotonya. Jadi memfokus pada kamera SLR adalah menyetel titik fokus lensa sampai menimbulkan imaji tajam pada jendela bidik.&lt;br /&gt;Fotografi pada dasarnya adalah memindahkan imaji yang ada di alam nyata pada gambar dua dimensi dengan bantuan lensa. Di alam nyata mata manusia akan lengsungn memfokus kepada suatu obyek yang dilihatnya, sedangkan lensa kamera hanya akan memfokus ke bagian-bagian tertentu yang diinginkan pemotret saja.&lt;br /&gt;Lensa kamera mempunyai keterbatasan dalam memfokus. Lensa hanya mampu memberikan imaji tajam pada suatu kedalaman tertentu saja. Lensa secara umum tidak bisa memfokus pada semua yang tampak pada jendela bidik. Secara teknis disebut bahwa lensa mempunyai dept of field.&lt;br /&gt;Lensa sudut lebar (Wide), tampaknya mempunyai dept of field sangat lebar, namun sesungguhnya tidak demikian. Seperti lensa lain, lensa lebar sebenarnya juga mempunyai titik fokus satu bidang saja, sementara satu bidang lainnya sekedar mempunyai acceptable sharpnes (ketajaman visual yang layak bagi manusia) dengan keterbatasan lensa itu, fokus yang “meleset” akan menghancurkan sebuah foto. Pemilihan bagian mana yang harus fokus dan bagian mana yang tidak harus fokus, sangat tergantung bagian mana yang akan ditonjolkan dan bagian mana yang sekedar latar belakang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DIAFRAGMA&lt;br /&gt;  Diafragma adalah komponen dari kamera yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk kedalam bidang FILM. Bukaan diafragma atau yang lebih kita kenal dengan sebutan aperture menentukan seberapa besar cahaya yang masuk pada lensa. Bukaan diafragma dilambangkan dengan f merupakan angka-angka pada lensa. Angka-angka bukaan diafragma (f) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;f/1, f/1,4, f/2, f/2,8, f/3,9, f/4,5, f/5,6, f/8, f/11, f/16, f/22, f/27, f/32&lt;br /&gt; Prinsip- prinsip diafragma:&lt;br /&gt;Semakin besar angka diafragma (=bukaan kecil) berarti semakin kecil cahaya yang bisa masuk, tetapi mamberikan ruang tajam yang besar. &lt;br /&gt; Sedangkan semakin kecil angka diafragma (=bukaan besar) berarti semakin besar cahaya yang bisa masuk, tetapi memberikan ruang tajam yang sempit.&lt;br /&gt; Bukaan besar, berarti angka bukaan diafragma kecil&lt;br /&gt;Bukaan kecil, berarti angka bukaan diafragma besar.&lt;br /&gt; Semakin besar bukaan diafragma, maka semakin cepat kecepatan rana&lt;br /&gt;    Semakin kecil bukaan diafragma, maka semakin lambat kecepatan rana&lt;br /&gt; Pengertian Shuter Speed (rana)&lt;br /&gt;Shuter Speed (rana) adalah kecepatan yang dimiliki kamera untuk mengatur kecepatan mengambil cahaya yang masuk pada kamera.&lt;br /&gt;Kecepatan rana (speed) dan bukaan (diafragma) merupakan unsur yang tak terpisahkan dalam menentukan pencahayaan (exposure) sebuah obyek foto. Bukaan diafragma sangat menentukan seberapa besar cahaya masuk, sedangkan kecepatan rana pada kamera sangat menentukan berapa lama cahaya tersebut boleh masuk. Kecepatan rana diukur dengan detik dan angka-angka kecepatan rana tersebut adalah : 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60,125, 500, 1000, 2000, 4000, 6000, dan kellipatannya yang pada klamera menunjukkan perbandingan yaitu :&lt;br /&gt;1/1 detik, 1/2 detik, 1/4 detik, 1/8 detik, 1/15 detik dst.&lt;br /&gt;Hubungan antara kecepatan rana dan seterusnya adalah berkebalikan, misalnya sewaktu memotret, pencahayaan yang dibutuhkan pada waktu kita memotret adalah f/16 dan 1/15 detik (berpatokan pada light meter yang ada di kamera), tetapi karena tidak membawa tripod, maka membutuhkan kecepatan rana yang lebih tinggi yaitu 1/125 detik agar kamera tidak goyang dengan menambah kecepatan rana menjadi 1/125 detik, maka bukaan diafragma harus bertambah besar menjadi f/5,6 (ingat ! bahwa bukaan bertambah besar berarti angka-nya semakin kecil) agar cahaya yang masuk sama.&lt;br /&gt;Perbandingan kedua hal tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini: &lt;br /&gt;Diafragma  f/2 f/2,8 f/4 f/5,6 f/8 f/11 f/16&lt;br /&gt;Speed 1/1000 1/500 1/250 1/125 1/60 1/30 1/15&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-2758485556002185349?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/2758485556002185349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=2758485556002185349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/2758485556002185349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/2758485556002185349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/tiga-3-teknik-dasar-fotografi.html' title='TIGA (3) TEKNIK DASAR FOTOGRAFI'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgEaejbjk8I/AAAAAAAAACc/IDFe8V5ME5U/s72-c/kamera...jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-933281200744433861</id><published>2009-05-05T20:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:02:19.626-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Fotografi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgELrY5qFWI/AAAAAAAAACU/Iv2kchizjWw/s1600-h/fotoku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgELrY5qFWI/AAAAAAAAACU/Iv2kchizjWw/s320/fotoku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332556273829942626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN FOTOGRAFI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus bahasa Indonesia pengertian fotografi adalah seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film. Pendek kata, penjabaran dari fotografi itu tak lain berarti "menulis atau melukis dengan cahaya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Fotografi diambil dari Yunani yaitu kata Fotos yang berarti sinar atau cahaya, dan Grafos yang bararti gambar. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses pembuatan lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.&lt;br /&gt;Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).&lt;br /&gt;Pada umumnya semua hasil karya fotografi dikerjakan dengan kamera, dan kebanyakan kamera memiliki cara kerja yang sama dengan cara kerja mata manusia. Seperti halnya mata, kamera memiliki lensa, dan mengambil pantulan cahaya terhadap suatu objek dan menjadi sebuah image. Tetapi, sebuah kamera dapat merekam sebuah image kedalam sebuah film dan hasilny tidak hanya bisa dibuat permanen tetapi dapat pula diperbanyak, dan diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan mata, hanya dapat merekam image kedalam memori otak dan tidak bisa dilihat secara langsung kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS-JENIS KAMERA BERDASARKAN SISTEM KERJANYA&lt;br /&gt;Kamera Analog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah salah satu kategori kamera yangdalam tehnik pengambilan gambarnya, masih menggunakan film seluloid. Film seluloid ini mempunyai tiga buah elemen dasar, yaitu elemen optikal yang berupa berbagai macam lensa, elemen kimia berupafilm seluloid itu sendiri, serta elemen mekanik yang berupa badan dari kamera itu sendiri. Selain itu, kamera analog membutuhkan bukaan diafragma 1/f detik, sehingga cahaya yang ditangkap, bisa diterimaoleh film tersebut menjadisebuah gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan masyarakat, kamera analog ini biasanya lebih akrab dengan sebutan kamera film. Hal ini disebabkan karena penggunaan film pada kamera tersebut, sebagai media perekam atau penyimpanannya. Film tersebut juga biasa dikenal dengan sebutan klise atau negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera digital merupakan jenis kamera, yang proses pengambilan gambarnya dilakukan secara digital, dengan media perekam/penyimpanan berupa memory (flash). Untuk beberapa jenis kamera digital, ada pula yang dapat digunakan untuk merekam suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kamera digital ini, penggunaan eleman kimia telah digantikan dengan elemen chips. Elemen chips tersebut dapat berupa CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor), atau dapat juga berupa CCD (Charge Couple Device). CCD maupun CMOS inilah, yang akan mengatur kepekaan pencahayaannya. CCD maupun CEMOS juga telah menjadi "film digital", pada kamera-kamera moderen yang beredar saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sensor chip CEMOS maupun CCD mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk mengonversi cahaya menjadi elektron-elektron sehingga mnejadi gambar-gambar digital, namun diantara keduanya memiliki beberapa perbedaan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Tingkat kepekaan CEMOS lebih rendah, karena terdapat beberapa transistor yang saling berdekatan pada setiap pixel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sensor CCD dapat menghasilkan gambar yang berkwalitas tinggi, dengan noise yang rendah (low-noise). Sedangkan sensor CEMOS memiliki lebih besar kemungkinan untuk noise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sensor CEMOS, umumnya menggunakan baterai atausumber daya listrik yang lebih kecil/sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sensor CCD menggunakan listrik yang lebih besar, kurang lebih seratus kali lebih besar daripada sensor CEMOS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sensor CCD telah diproduksi masal dalam jangka waktu yang lama, sehingga lebih matang. Kwalitasnya lebih tinggi dan lebih banyak pixelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Chip CEMOS dapat diproduksi secara mikroprosesor yang umum, sehingga lebih murah jika dibandingkan dengan sensor CCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkategorian Kamera Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera digital ini kemudian dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa kategori, yaitu Video Cameras, Live-preview Digital Cameras, Compact Digital Cameras, Digital Single Lens Reflex Cameras, Digital Rangefinders, Profesional Modular Digital Camera System, dan Line-scan Camera System.&lt;br /&gt;1) Video Cameras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video camera merupakan sejenis kamera yang dapat merekam bayangan bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professional Video Camera adalah Video camera yang memiliki sensor bayangan yang beragam, yang dapat meningkatkan resolusi dan tingkatan warnanya. Jenis kamera digital ini, biasanya dapat ditemukan pada studio-studio televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camcorder, merupakan perlengkapan elektronik yang mudah dibawa, yang berfungsi untuk merekam bayangan bergerak dan suara, pada media penyimpanan internal. Unutk membantu pengoperasiannya, maka camcorder ini dilengkapi dengan kamera video (video camera), dan biasanya disertai dengan perekam kaset video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Webcams, adalah kamera digital (biasanya berupa kamera berukuran kecil) yang di pasangkan pada komputer. Dengan webcam ini, bayangan dapat di akses melalui Instant messaging, World Wide Web, atau juga melalui aplikasi konferansi video melalui komputer pribadi. Webcam dapat menangkap semua gerakan dengan baik, dan pada beberapa jenis webcam juga dilengkapi dengan microphone atau zoom.&lt;br /&gt;2) Live-preview Digital Cameras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan jenis kamera digital yang menggunakan tampilan (bayangan digital) secara langsung melalui sebuah layar elektronik. Layar yang digunakan dapat berupa LCD (liquid crystal display), atau sebuah EVF (electronic viewfinder).&lt;br /&gt;3) Compact Digital Cameras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera ini didisain dengan ukuran yang kecil dan mudah dibawa, untuk ukuran yang paling kecil biasa dikenal dengan sebutan subcompact. Compact camera biasanya sangat mudah digunakan, dan pada kamera ini biasanya bayangan hanya dapat direkam menggunakan lossy JPEG compression. JPEG adalah kepanjangan dari Joint Photographic Expert Group, yang merupakan metode yang biasa digunakan dalam kompresi bayangan fotografi.&lt;br /&gt;4) Digital Single Lens Reflex Cameras (DSLRs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DSLRs ini biasa di gunakan oleh para photographer profesional, serta oelh orang-orang memiliki antusias tinggi dalam foto. Kamera ini memiliki optik bagian luar, sehingga dapat menggunakan lensa yang dapat ditukar-tukar, serta asesoris yang beragam. Kamera ini juga mampu memproduksi bayangan dengan resolusi tingkat tinggi.&lt;br /&gt;5) Digital Rangefinder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digital Rangefinder Camera adalah sebuah kamera digital yang dilengkapi dengan Rangefinder, yaitu perangkat kamera yang digunakan untuk mengukur jarak dari photographer ke objek yang menjadi target, untuk menetapkan titik fokusnya.&lt;br /&gt;6) Professional Modular Digital Camera System&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan jenis kamera digital yang terdiri atas perangkat profesional berkwalitas tinggi, yang dapat disusun dari komponen-komponen modular, seperti winders, grips, lenses, dan sebagainya. Kamera-kamera jenis ini banyak sekali digunakan pada studio-studio, untuk keperluan produksi periklanan. Kamera ini sulit untuk dibawa, karena ukuranya yang sangat besar dan bentuknya yang kaku. Hal itu juga menyebabkan jenis kamera ini jarang sekali digunakan dalam aktivitas fotografi yang banyak membutuhkan gerakan, serta dalam fotografi di alam terbuka.&lt;br /&gt;7) Line Scan Camera System&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Line-scan camera adalah sebuah kamera yang terdiri atas sebuah line-scan (jalur scan) image sensor chip, dan sebuah mekanisme pengatur titik fokus. Image sensor adalah sebuah perangkat yang merubah bayangan visual menjadi sebuah sinyal elektrik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-933281200744433861?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/933281200744433861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=933281200744433861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/933281200744433861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/933281200744433861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/pengertian-fotografi.html' title='Pengertian Fotografi'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgELrY5qFWI/AAAAAAAAACU/Iv2kchizjWw/s72-c/fotoku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-8484153233603870420</id><published>2009-05-05T20:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T20:26:09.995-07:00</updated><title type='text'>Teknik Sampling</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgECY__SYtI/AAAAAAAAACM/1jmsuPVGT_Q/s1600-h/DSC_0031.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgECY__SYtI/AAAAAAAAACM/1jmsuPVGT_Q/s320/DSC_0031.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332546062300373714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     &lt;!-- ======================================================= --&gt;   &lt;!-- Created by AbiWord, a free, Open Source wordprocessor.  --&gt;   &lt;!-- For more information visit http://www.abisource.com.    --&gt;   &lt;!-- ======================================================= --&gt;   &lt;meta equiv="content-type" content="text/html;charset=UTF-8"&gt;   &lt;title&gt;PENGARUH MEDIA INTERNET MELALUI FACE BOOK TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU REMAJA&lt;/title&gt;   &lt;style type="text/css"&gt;    &lt;!-- #toc, .toc, .mw-warning { 	border: 1px solid #aaa; 	background-color: #f9f9f9; 	padding: 5px; 	font-size: 95%; } #toc h2, .toc h2 { 	display: inline; 	border: none; 	padding: 0; 	font-size: 100%; 	font-weight: bold; } #toc #toctitle, .toc #toctitle, #toc .toctitle, .toc .toctitle { 	text-align: center; } #toc ul, .toc ul { 	list-style-type: none; 	list-style-image: none; 	margin-left: 0; 	padding-left: 0; 	text-align: left; } #toc ul ul, .toc ul ul { 	margin: 0 0 0 2em; } #toc .toctoggle, .toc .toctoggle { 	font-size: 94%; }@media print, projection, embossed { 	body { 		padding-top:1in; 		padding-bottom:1in; 		padding-left:1in; 		padding-right:1in; 	} } body { 	text-decoration:none; 	text-indent:0in; 	text-align:left; 	font-weight:normal; 	font-variant:normal; 	color:#000000; 	font-size:12pt; 	font-style:normal; 	widows:2; 	font-family:'Times New Roman'; } table { } td { 	border-collapse:collapse; 	text-align:left; 	vertical-align:top; } p, h1, h2, h3, li { 	color:#000000; 	font-family:'Times New Roman'; 	font-size:12pt; 	text-align:left; 	vertical-align:normal; }      --&gt;   &lt;/style&gt;     &lt;div&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;font-size:14;"  lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.375in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Systematic Sampilng ( Teknik Sampling Sistematis )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Teknik sampling yang dilakukan dengan cara menentukan bilangan ke-n dalam populasi,kemudian sample dan responden di ambil dari kelipatan bilangan ke-n tersebut.Teknik ini sebenarnya adalah teknik random sampling sederhana yang dilakukan secara ordinal. Artinya anggota sampel dipilih berdasarkan urutan tertentu. Keuntungan teknik ini ialah lebih cepat dan mudah sedangkan kelemahannya adalah kadang-kadang kurang mewakili populasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Contoh:&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Tukang becak berusia 20 tahun sampai 40 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Populasi ( N ) &amp;amp; Bagian dari populasi ( n )&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;  &lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;N &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:'Wingdings';"  lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt; n&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Tukang becak dalam sampel diambil berdasarkan urutan tertentu yaitu kelipatan 5 atau 10 dari daftar tukang becak tersebut dari bilangan ke-n untuk menentukan populasi terhadap minat pilih tukang becak dikabupaten bojonegoro pada urutan tertentu secara ordinal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Simple Random Sampling ( Sampling Random Sederhana )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memberi kesempatan yang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;sama pada setiap anggota populasi untuk menjadi anggota sampel. Jadi disini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;proses memilih sejumlah sampel n dari populasi N yang dilakukan secara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;random. Ada 2 cara yang dikenal yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;a. Bila jumlah populasi sedikit, bisa dilakukan dengan cara mengundi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;b. Tetapi bila populasinya besar, perlu digunakan label "Random Numbers" yang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;prosedurnya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- Misalnya populasi berjumlah 480 tukang becak (N=400).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- tentukan nomor setiap unit populasi (dari 1 s/d 400= 4 digit/kolom).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-top: 5pt; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- tentukan besar sampel yang akan diambil. (Misalnya 75 atau 25 %)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Stratified Sampling ( Teknik Sampling Bertingkat )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Populasi dimasukkan ke dalam satuan-satuan sample yang homogen,kemudian satuan sampel ini di ambil menjadi sampel definitif,homogenitas satuan sampel biasanya ditentukan dari sifat responden&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu dan kelompok-kelompok yang bertingkat.Keuntungan menggunakan cara ini adalah anggota sampel yang di ambil lebih representatif, sedangkan kelemahannya adalah lebih banyak memerlukan usaha pengenalan terhadap karakterisitik populasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Sampel&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;yang di jadikan sampel bertingkat adalah tukang becak namun di bedakan menurut tempat dimana mereka sering mangkal.tempat yang sering mereka jadikan tempat mangkal diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Kawasan terminal RAJEKWESI bojonegoro&lt;/span&gt;      &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Kawassan alun-alun kota bojonegoro&lt;/span&gt;        &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Kawasan pasar kota bojonegoro&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Kawasan stasiun kota bojonegoro&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Didepan sekolah-sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Dikawasan bravo swalayan.&lt;/span&gt;	&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;             &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;         &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Multiple Stage Sampling ( Teknik Sampling Multiple Tempat )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Teknik ini di bagi menjadi dua yaitu Proportional probability dan Equal Probability yang memiliki pengertian yang berbeda-beda.Proportional Probability adalah populasi di bagi menjadi ke dalam sub populasi,dan sub-sub populasi memliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel,sedangkan Equal Probability adalah populasi yang di bagi ke dalam sub-populasi dan sub-populasi menjadi sampel dengan memperhatikan jumlah yang sebanding dengan populasi. Yaitu bukan hanya melaksanakan salah satu metode random sampling tetapi lebih kepada memanfaatkannya secara bersama-sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Contoh &lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Tukang becak dengan usia 20-30 tahun dan di bagi menjadi populasi yang lebih khusus dengan tingkatan dan sub populasi yang lebih berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Populasi ( N ) &amp;amp; Bagian dari populasi ( n )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.75in; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;N &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:'Wingdings';"  lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt; n&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Sampel yang sudah ada kemudian di bagi berdasarkan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda sehingga akan muncul populasi dan data yang berbeda,dan data tersebut akan membagi-bagi sampel menurut usia dan tingkatan pendidikan dari sampel dan akan menghasilkan populasi yang berbeda dan lebih tertata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Cluster Sampling (&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Penarikan Sampel kelompok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;)&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Populasi juga terdiri dari beberapa kelompok Sampel yang diambil berupa kelompok bukan individu atau anggota. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Misalnya !!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Antara tukang becak yang mangkal dikawasan pasar dengan dikawasan terminal pastinya berbeda iklan politik yang sering mereka lihat(foto CALEG).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Contoh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Di setiap kawasan terdapat 80 tukang becak jika dalam penelitian kali ini saya meneliti 6 kawasan yang tiap kawasan terdiri dari 80 tukang becak maka jumlah keseluruhan sampelnya adalah 480 tukang becak, dan dari setiap kawasan diambil 20 sampel saja yang mewakili tiap-tiap kawasan dengan data sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan terminal RAJEKWESI bojonegoro. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan alun-alun kota bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan pasar kta bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan sekolah-sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan stasiun bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;20 tukang becak dikawasan bravo swalayan.&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Stratified Cluster Sampling ( Teknik sampling bertingkat dan Kluster)&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Teknik sampling campuran yang menggunakan teknik bertingkat dan kluster,maksudnya adalah sampel di ambil secara bertingkat dengan kelompok-kelompok setelah itu di ambil sampel lagi secara luas dan besar yaitu dengan teknik cluster.Keunggulan dalam teknik ini adalah data yang di ambil dari sampel dan menjadi populasi bisa mewakili dari beberapa daerah,namun kekurangan dari teknik ini adalah teknik ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang banyak sehingga kurang efisien dalam suatu penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;contoh&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Populasi yang di jadikan sampel bertingkat dan kluster adalah tukang becak namun dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan terminal RAJEKWESI bojonegoro. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan alun-alun kota bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan pasar kta bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan sekolah-sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan stasiun bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;- 20 tukang becak dikawasan bravo swalayan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;" lang="en-US"&gt;Populasi ( N ) &amp;amp; Bagian dari populasi ( n )&lt;/span&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;N &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:'Wingdings';"  lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt; n&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Dari sampel tersebut adalah bertingkat dan kluster,bertingkat karena di bedakan dengan tempat biasa tukang becak mangkal ,sedangkan klusternya adalah umur dari tukang becak tersebut Hasil dari populasi tersebut adalah berbeda-beda umur maka erbeda juga data yang di peroleh misalnya saja tanggapan tukang becak tersebut terhadap caleg yang akan mereka pilih nenjadi wakil di gedung dewan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-8484153233603870420?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/8484153233603870420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=8484153233603870420' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/8484153233603870420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/8484153233603870420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/teknik-sampling.html' title='Teknik Sampling'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/SgECY__SYtI/AAAAAAAAACM/1jmsuPVGT_Q/s72-c/DSC_0031.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-6949500575610803644</id><published>2009-05-03T20:55:00.000-07:00</published><updated>2010-06-06T06:16:02.785-07:00</updated><title type='text'>Persaingan Humas  Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  Dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5wZvF4xDI/AAAAAAAAAB4/vvAWEBmjdBA/s1600-h/direktur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5wZvF4xDI/AAAAAAAAAB4/vvAWEBmjdBA/s320/direktur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331822596293444658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena persaingan antar perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) semakin ketat, terutama berubahnya status sejumlah PTN di republik ini menjadi badan hukum pendidikan milik negera (BHPM), sehingga PTN ini pun banyak membuka kelas-kelas nonreguler, di luar SPMB (seleksi penerimaaan mahasiswa baru) sebagai program reguler. Perubahan status PTN ini, pada kenyataannya telah “menyedot” mahasiswa PTS, dalam beberapa tahun berselang ini, masuk ke kelas nonreguler PTN. Akhirnya, sejumlah PTS “menjerit” kekurangan mahasiswa, bahkan sejumlah PTS terancam kolaps atau tutup karenanya.Persaingan yang semakin ketat antarperguruan tinggi, tentunya perlu dilakukan pendekatan strategi lain, yaitu sudah mulai harus mengedepankan aspek citra dan reputasi perguruan tinggi melalui kegiatan atau upaya-upaya yang dilakukan seorang &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;public relations perguruan tinggi tersebut untuk bersaing mebuat citra baik perguruan tinggi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Public relations (PR) merupakan bidang yang sangat luas dan menyangkut hubungan dengan berbagai pihak. Humas bukan sekadar &lt;em&gt;relations&lt;/em&gt;, meskipun &lt;em&gt;personal relations&lt;/em&gt; mempunyai peranan yang sangat besar dalam kampanye PR, misalnya. PR juga bukan sekadar menjual senyum, propaganda dengan tujuan memperoleh kemenangan sendiri, atau mendekati pers dengan tujuan untuk memperoleh suatu pemberitaan. Lebih dari itu, PR mengandalkan strategi, yakni agar organisasi disukai oleh pihak-pihak yang berhubungan.Pihak yang berhubungan dengan organisasi ini dalam PR disebut &lt;em&gt;stake holders&lt;/em&gt; atau mereka yang mempertaruhkan hidupnya pada dan untuk organisasi. Mereka pun disebut target publik organisasi. Mereka semua membentuk opini di dalam masyarakat dan dapat mengangkat atau menjatuhkan citra dan reputasi organisasi atau perusahaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Humas itu merupakan fungsi strategi dalam manajemen yang melakukan komuniasi untuk menimbulkan pemahaman dan penerimaan publik.Karakteristik PR secara tersurat, yakni: 1) PR adalah kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi yang berlangsung dua arah secara timbal balik; 2) PR merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh manajemen suatu organisasi; 3) publik yang menjadi sasaran PR adalah publik internal dan eksternal; 4) operasionalisasi PR adalah membina hubungan yang harmonis antara organisasi dan publiknya dan mencegah terjadinya rintangan psikologi, baik yang timbul dari pihak organisasi maupun dari pihak publik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Prinsip komunikasi dua arah dan timbal balik merupakan proses penyampaian suatu pesan seseorang atau kelompok (komunikator) untuk memberi tahu atau mengubah sikap opini dan perilaku kepada perseorangan atau kelompok (komunikan), baik berhadapan langsung maupun tidak langsung, melalui media massa sebagai alat atau saluran penyampaian pesan untuk mencapai tujuan atau target dalam proses komunikasi dua arah yang hendak dicapai.Tugas dan fungsi utama &lt;em&gt;public relations officer&lt;/em&gt; (PRO) atau pejabat humas, tidak terlepas dari bidang penyebaran pesan, informasi, dan komunikasi mengenai kegiatan organisasi atau lembaga yang diwakilinya untuk disampaikan kepada komunikan (publik) sebagai sasaran atau targetnya. Di pihak lain, dengan teknik dan strategi humas tertentu, pejabat humas dapat merekayasa opini publik sehubungan dengan keinginan-keinginan dan tujuan utama dalam menciptakan citra dan reputasi positif.PR adalah fungsi yang melekat dan tidak terlepas dari manajemen suatu organisasi. Tujuannya adalah membentuk itikad baik, toleransi,&lt;em&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;saling kerja sama, saling memercayai, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saling pengertian, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saling menghargai, serta untuk memperoleh opini publik yang menguntungkan, citra dan reputasi positif berdasarkan prinsip-prinsip hubungan harmonis, baik hubungan ke dalam maupun ke luar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Program pengembangan humas harus proaktif dan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat, baik di bidang teknologi, informasi, ekonomi, hukum maupun politik internasional dan nasional.Tujuan sentral humas yang hendak dicapai secara strategis, tidak hanya berfungsi sebagai “peta” yang menunjukkan arah, melainkan juga menunjukkan “bagaimana” operasional konsep dan strategi komunikasinya.Strategi dalam komunikasi humas merupakan perpaduan antara &lt;em&gt;communication planning&lt;/em&gt; (perencanaan komunikasi) dan &lt;em&gt;management communication&lt;/em&gt; (komunikasi manajemen).Tujuan sentral PR adalah mengacu kepada kepentingan pencapaian sasaran (target) atau tujuan untuk menciptakan suatu citra dan reputasi postitif suatu lembaga. Pembentukan, pemeliharaan dan peningkatan citra dan reputasi positif harus didukung kebijakan dan komitmen pimpinan puncak.Kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun tulisan adalah salah satu penyampaian pesan, ide, dan gagasan program kerja, dan sekaligus membentuk opini atau menguasai pendapat umum sesuai dengan yang diinginkan komunikator.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Seorang pejabat humas dapat berkomunikasi dengan efektif dan tepat dalam penyampaian pesan kepada sasaran melalui empat syarat: 1) pesan dibuat sedemikian rupa dan selalu menarik perhatian; 2) pesan dirumuskan dan mencakup pengertian dan diimbangi dengan lambang-lambang yang dapat dipahami oleh publiknya; 3) pesan menimbulkan kebutuhan pribadi komunikannya (penerima pesan); dan 4) pesan merupakan kebutuhan yang dapat dipenuhi sesuai dengan situasi komunikan.Mengingat pula bahwa komunikasi adalah semua prosedur di mana pikiran seseorang mempengaruhi orang lain, juga fenomena komunikasi adalah serba ada dan serba luas dan serba makna. selain mampu berkomunikasi secara efektif, seorang pejabat humas pun harus mampu menggunakan media secara efektif, baik itu media &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; maupun media non-massa. Di mana aneka pesan melalui sejumlah media &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; (koran, majalah, radio siaran, televisi, film dan media online/internet) selalu menerpa kehidupan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-6949500575610803644?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/6949500575610803644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=6949500575610803644' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6949500575610803644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6949500575610803644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/persaingan-humas-perguruan-tinggi.html' title='Persaingan Humas  Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  Dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS)'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5wZvF4xDI/AAAAAAAAAB4/vvAWEBmjdBA/s72-c/direktur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-6859937952946541302</id><published>2009-05-03T20:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-03T21:39:07.238-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Dunia HUMAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5xVf9xkoI/AAAAAAAAACA/pah35CqmH88/s1600-h/lemparbatu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5xVf9xkoI/AAAAAAAAACA/pah35CqmH88/s320/lemparbatu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331823623025037954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan Humas di Dunia &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sejarahnya istilah &lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi &lt;em&gt;The Father of Public Relations&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat. &lt;span id="more-11"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuan, teknik, alat dan standar etika berubah-ubah sesuai dengan berlalunya waktu. Misalnya pada masa suku primitif mereka menggunakan kekuatan, intimidasi atau persuasi ntuk memelihara pengawasan terhadap pengikutnya. Atau menggunakan hal-hal yang bersifat magis, totem (benda-benda keramat), taboo (hal-hal bersifat tabu), dan kekuatan supranatural.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penemuan tulisan akan membuat metode persuasi berubah. Opini publik mulai berperan. Ketika era Mesir Kuno, ulama merupakan pembentuk opini dan pengguna persuasi. Pada saat Yunani kuno mulai dikembangkan Olympiade untuk bertukar pendapat dan meningkatkan hubungan dengan rakyat. Evaluasi mengenai pendapat atau opini publik merupakan perkembangan terakhir dalam sejarah kemanusiaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dasar-dasar fungsi humas ditemukan dalam revolusi Amerika. Ketika ada gerakan yang direncanakan dan dilaksanakan. Pada dasarnya, masing-masing periode perkembangan memiliki perbedaaan dalam startegi mempengaruhi publik, menciptakan opini publik demi perkembangan organisasinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berikut gambaran kronologis PR di dunia:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abad ke-19      :     PR di Amerika dan Eropa merupakan program studi yang&lt;br /&gt;                               mandiri didasarkan pada perkembangan  Ilmu&lt;br /&gt;                               pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;1865-1900    :     Publik masih dianggap bodoh&lt;br /&gt;1900-1918    :     Publik diberi informasi dan dilayani&lt;br /&gt;1918-1945     :     Publik diberi pendidikan dan dihargai&lt;br /&gt;1925               :     Di New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi&lt;br /&gt;1928               :     Di Belanda memasuki pendidikan tinggi dan minimal di&lt;br /&gt;                           fakultas sebagai mata kuliah wajib.  Disamping itu&lt;br /&gt;                           banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu&lt;br /&gt;1945-1968     :     Publik mulai terbuka dan banyak mengetahui&lt;br /&gt;1968               :     Di Belanda mengalami perkembangan pesat. Ke arah&lt;br /&gt;                            ilmiah karena penelitian yang rutin dan kontinyu.&lt;br /&gt;                            Di Amerika perkembangannya lebih ke arah bisnis.&lt;br /&gt;1968-1979       :   Publik dikembangkan di berbagai bidang,&lt;br /&gt;                             pendekatan tidak hanya satu aspek saja&lt;br /&gt;1979-1990       :     Profesional/internasional memasuki globalisasi dalam&lt;br /&gt;                               perubahan mental dan kualitas&lt;br /&gt;1990-sekarang :     a. perubahan mental, kualitas, pola pikir, pola pandang,&lt;br /&gt;                                sikap dan  pola perilaku secara nasioal/internasional&lt;br /&gt;                             b. membangun kerjasama secara lokal, nasional,  internasional&lt;br /&gt;                             c. saling belajar di bidang politik, ekonomi, sosial budaya,&lt;br /&gt;                                Iptek, sesuai dengan kebutuhan era global/informasi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Asal Mula Istilah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengertian :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hubungan dengan masyarakat luas baik melalui publisitas khususnya fungsi-fungsi organisasi dan sebagainya terkait dengan usaha menciptakan opini publik dan citra yang menyenangkan untuk dirinya sendiri (Webster’s New World Dictionary)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanan dan prosedur seorang individu atau organisasi berdasarkan kepentingan publik dan menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan penerimaan publik (Public Relations News)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat sosial dan manajemen yang dinyatakan dalam kebijaksanaan beserta pelaksaannya yang melalui interpretasi yang peka mengenai peristiwa-peristiwa berdasarkan pada komunikasi dua arah dengan publiknya, berusaha memperoleh saling pengertian dan itikad baik (Moore, 2004: 6).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;yang diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat (humas)  mempunyai dua  pengertian.  Pertama,  humas dalam artian sebagai  teknik komunikasi  atau  &lt;em&gt;technique   of communication &lt;/em&gt;dan kedua,  humas sebagai  metode komunikasi atau  &lt;em&gt;method of communication &lt;/em&gt;(Abdurrahman, 1993: 10).  Konsep &lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;sebenarnya berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut akan muncul perubahan yang berdampak (lihat Jefkins, 2004: 2).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;menyangkut suatu bentuk komunikasi yang berlaku untuk semua organisasi (non profit - komersial, publik- privat, pemerintah - swasta). Artinya &lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;jauh lebih luas ketimbang pemasaran dan periklanan atau propaganda, dan telah lebih awal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dewasa ini, &lt;em&gt;Public Relations &lt;/em&gt;harus berhadapan dengan fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu buruk, baik, atau tanpa pengaruh yang jelas. Karena itu, staf Public Relations dituntut mampu menjadikan orang-orang lain memahami suatu pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga yang diwakilinya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-6859937952946541302?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/6859937952946541302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=6859937952946541302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6859937952946541302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/6859937952946541302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/perkembangan-dunia-humas.html' title='Perkembangan Dunia HUMAS'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/Sf5xVf9xkoI/AAAAAAAAACA/pah35CqmH88/s72-c/lemparbatu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4042722724209052294.post-3246560450334033557</id><published>2009-05-02T22:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T22:45:34.668-07:00</updated><title type='text'>tugas metode penelitian kualitatif</title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnet02%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnet02%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-alt:"Century Gothic"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;TUGAS UTS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;MATAKULIAH METODE PENELITIAN KUALITATIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;“EFEKTIFITAS PEMASANGAN IKLAN POLITIK LUAR RUANGAN”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dosen: Nikmah Suryandari,S.Sos.,M.Si&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600"  o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f"  stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"/&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"/&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect"/&gt;  &lt;o:lock v:ext="edit" aspectratio="t"/&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_1" o:spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75"  alt="UNIJOYO.bmp" style='width:222pt;height:204.75pt;visibility:visible'&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\net02\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.png"   o:title="UNIJOYO"/&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/net02/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="UNIJOYO.bmp" v:shapes="Picture_x0020_1" width="296" height="273"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Oleh: Arif Mustofa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;NIM: 070131100006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;UNIVERSITAS TRUNOJOYO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnet02%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Mistral; 	mso-font-alt:"Courier New"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-alt:"Century Gothic"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-link:" Char Char2"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.25in right 6.5in; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-link:" Char Char1"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.25in right 6.5in; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph 	{mso-style-name:"List Paragraph"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpFirst, li.ListParagraphCxSpFirst, div.ListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpFirst"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpMiddle, li.ListParagraphCxSpMiddle, div.ListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpMiddle"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpLast, li.ListParagraphCxSpLast, div.ListParagraphCxSpLast 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpLast"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.CharChar2 	{mso-style-name:" Char Char2"; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} span.CharChar1 	{mso-style-name:" Char Char1"; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:595.45pt 841.7pt; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:565996241; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1562141484 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:1232500207; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:926854396 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Symbol;} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:"Courier New";} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;1.Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kebetulan saya seorang mahasiswa ilmu komunikasi dan terbiasa mengamati berbagai fenomena komunikasi. Iklan-iklan politik luar ruang itu pada akhirnya juga menarik minat saya. Lalu tercetuslah ide itu untuk melakukan penelitian tentang “EFEKTIFITAS IKLAN POLITIK LUAR RUANG” dikabupaten bojonegoro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: black;"&gt;Iklan merupakan sebuah tindakan mentransfer informasi. Secara fungsional, transfer informasi itu diharapkan agar orang lain (publik) mengetahui pesan atau makna informasi tersebut. Hanya, tindakan berkomunikasi bersifat dua arah Artinya, orang lain tidak serta merta dianggap kambing congek yang mudah diarahkan dengan makna informasi yang dibingkai dalam iklan tersebut. Proses transfer informasi lazimnya melalui beberapa tahap, sebelum pesan informasi itu diikuti penerima informasi (pemilih). Iklan sebagai pembawa informasi, pertama harus dilihat atau didengar atau keduanya – audiovisual. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;iklan politik berupa baliho yang sekarang kebanyakan dicetak menggunakan digital printing itu, seringkali tak&lt;br /&gt;memenuhi standar estetika apapun. Kadangkala cuma asal tempel, asal mencolok, asal kira-kira dapat dibaca, kebanyakan dipasang oleh politisi berbujet rendah. &lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada saat ini, perkembangan dunia politik sangat pesat dan jauh berbeda dengan politik pada jaman dahulu. Begitu pula dengan perkembangan dunia periklanan jika pada dahulu iklan hanya berbentuk cetak saja dan dipasang dikoran dan majalah. Akan tetapi sekarang perkembangan iklan terus berkembang dan berkembang dibidang politik, &lt;span style="color: black;"&gt;musim pemilu telah datang tanda peperangan dimulai (perang iklan politik) terdengar dan nampak di depan mata kita, seluruh media massa (TV, radio, koran,majalah, internet) bahkan di jalan-jalan di tengah kota sampai pelosok Desa yang semestinya rindang oleh indahnya pepohonan kini tertutupi lebarnya baliho iklan politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Iklan politik luar ruang saat ini banyak sekali digunakan para tokoh partai maupun para calon anggota legislatif untuk mengenalkan diri mereka dan partainya kepada masyarakat agar pada pemilihan mereka menjadi pilihan masyarakat tersebut. Dari iklan kampanye politik yang muncul sendiri pun tidak terlalu tampak perbedaan pesan yang ingin ditampilkan lewat iklan-iklan tersebut. Isu-isu seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan pertanian, yang selama ini dilihat sebagai isu-isu low politiK, jika tidak terpinggirkan, dan berpotensi memunculkan keterikatan emosi dengan masyarakat, menjadi paket isu yang kerap diangkat dalam iklan-iklan kampanye politik tersebut. Oleh karena isu-isu politik tersebutlah seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;calon anggota legislative dan para tokoh partai mengangkat isu-isu tersebut agar masyarakat terpesona akan janji manis tersebut, sehingga masyarakat tersebut memilih parati tersebut wakil yang bias mewakili diri mereka diparlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2.Rumusan Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mengapa banyak sekali para tokoh partaai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik ( calon anggota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan calon presiden) menggunakan iklan politik luar ruang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -40.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bagaimana efek yang diterima bagi caleg ataupun parpol dengan adanya pemasangan iklan politik luar ruang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;3.Tujuan Penelitian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mengetahui alasan para CALEG dan tokoh elit partai tentang pemasangan iklan politik dengan media luar ruangan yang mereka gunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mendapatkan pengetahuan tentang efek yang diterima partai politik dan efektifitasnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pemasangan iklan politik luar ruangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pengertian iklan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: black;"&gt;Iklan merupakan sebuah tindakan mentransfer informasi. Secara fungsional, transfer informasi itu diharapkan agar orang lain (publik) mengetahui pesan atau makna informasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pengertian Komunikasi Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Upaya meyakinkan seseorang, kelompok atau &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; untuk mengenal, memahami, meyakinkan plate-form dan agenda partai politik sehingga menjadi pengikut, anggota, aktivis dan kader parpol dimaksud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pengertian iklan politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tindakan transfer informasi atau pesan tentang politik secara fungsional, yang mana kegiatan transfer informasi politik tersebut diharapkan agar khalayak mengetahui tentang pesan politik yang disampaikan dan dapat berimbas baik kepada tokoh partai atau partai tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://iklanpolitik.wordpress.com/"&gt;http://iklanpolitik.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://theindonesianinstitute.com/index.php/20080923269/Iklan-Politik-Simbol-Ketidakpekaan-Elite.html"&gt;http://theindonesianinstitute.com/index.php/20080923269/Iklan-Politik-Simbol-Ketidakpekaan-Elite.html&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;http://entertainmen.suaramerdeka.com/index.php?id=726)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4042722724209052294-3246560450334033557?l=ariefmustofa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/feeds/3246560450334033557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4042722724209052294&amp;postID=3246560450334033557' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3246560450334033557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4042722724209052294/posts/default/3246560450334033557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/tugas-metode-penelitian-kualitatif.html' title='tugas metode penelitian kualitatif'/><author><name>Arif Mustofa C.S.Ikom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01682297527944478893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_rFrPrYNuwUw/TDga2fTFvLI/AAAAAAAAAQY/eWvoaEqPH_g/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
